Kampanye Donasi Buku

KAMPANYE DONASI BUKU

Kampanye donasi berupa buku-buku dari khalayak yang dapat diakses secara gratis di perpustakaan kami di Depok.

Kampanye ini dilangsungkan sejak 2010.

Bagi sobat/rekan yang berminat kami mengundang kalian semua untuk mendonasikan buku-bukunya.

Buku dapat dikirim lewat pos ke:
CAKRAWALA PUSTAKA
d/a WAWAS Pustaka
Cimanggis Indah Blok N/No. 5 Depok 16415
Info: (021) 9455.1578

Untuk informasi selanjutnya dapat mengontak kami.

Sebagian buku-buku yang didonasikan bakal diperuntukkan bagi perpustakaan-perpustakaan yang membutuhkan.

Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.


Admin,
Bahar D. Dirgantara
bahar_dirgantara@yahoo.com


*Fasilitas baca di tempat merupakan sebuah cara yang efektif dalam sebuah perpustakaan.

List KAMPANYE DONASI BUKU (update, 31 Agustus 2011):
1. Firmanto Hanggoro, Bekasi (Mei 2010, 117 buku)
2. Jelita, Bandung (Juni 2010, 50 buku)
3. Windy Angela, Yogyakarta (8 Juni 2010, 7 buku)
4. Bhakti Hariani, Depok (12 Juni 2010, 13 buku & 3 majalah)
5. Novita (Olieph) dkk, Jakarta (6 Juni 2010, 13 buku & 23 majalah)
6. Brada Harmawansyah, Depok (9 Juni 2010, 47 buku)
7. NN, Depok (Juli 2010, 30 buku)
8.
9.


** Data buku yang disumbangkan merupakan jumlah kotor (termasuk buku yang rusak dan hilang halamannya).

Jumat, 19 Agustus 2011

Menulis "Menulis 4...: Fiksi, Kreasi, Friksi dan Dimensi"

Bahar D. Dirgantara

Haus telah. Mimpi sudah. Jelatang pun sudah kudepak hingga terjengkang tak berani kembali. Dahagaku untuk selalu menulis, tak bisa dihentikan hingga kering air di dalam tanah. Walau udara berhenti berhembus. Aku tetap menggoreskan pena. Menekan tuts-tuts keyboard tiada henti. Cukup aku katakan satu alinea ini. Aku ingin melahirkan, menzahirkan isi kepalaku dengan "Menulis 4....: Fiksi, Kreasi, Friksi dan Dimensi". Kini aku tidak bisa dihentikan. Aku ingin mengapung ke permukaan. Ingin berceloteh kembali dengan penuh kesadaran. Berikut sketsa awalannya:


Dia terbangun dari pembaringannya. Riyap-riyap rambutnya menutupi wajahnya, acak-acakan. Ia mencoba mengumpulkan kesadarannya, melihat sekeliling kamarnya, lalu pandangannya terpaku di antara segelas air putih dan foto kecil di meja. Matanya kelihatan kuyu.

“Huh!” desahnya saat menghembuskan nafas. Ia menyingkap selimutnya. Beranjak dari tempat tidur. Perlahan menuju ke jendela. Bergerak lambat ia membuka jendela, lamat-lamat sinar mentari mulai memasuki ruangan. Wajahnya tersapu angin pagi, rambutnya berkibar. Matanya terpejam, menikmati udara pagi, tapi tidak dengan hatinya.

Tiba-tiba.

“SHIT!” umpatnya. “Kenapa pikiran itu datang lagi? Ugh!”

Dia mengambil ponselnya. Melihat apakah ada kabar yang dia tunggu dari semalam. “Sampah semua! Dia belum bales BBM gue. Damn!”




“GILA apa lo?! Orang kek gitu masih elo pertahanin. Posesif akut dia, gede ambeg pula orangnya.” Teringat selalu kata sahabatnya itu di kepalanya. Dia hanya tersenyum saat teringat masa-masa kekangan itu. “Siapa dia?!” begitu pikirnya. “Kejar karir dulu mumpung masih muda,” nasihat mentornya.

Dengan tenang ia menikmati hidangan pedas di meja kerjanya. Sesekali melihat lampu kecil yang berkedip-kedip di telepon. “Nggak tau ini jam istirahat apa? Dasar bodoh.”

Hari ini ia harus merangkum data klien sebanyak 50 lembar, yang isinya nomor telepon semua. Menghubungi mereka satu per satu, sungguh menjemukan. “Halo, selamat siang. Saya….” Kalimat yang selalu ia ulang hingga terpatri di otaknya.




RAPUH. Gadis ini begitu terhimpit. Tiada satu pun orang yang mengerti dirinya, keinginannya. Saat malam sering dirinya termangu dengan temaram lampu kamarnya, terisak. Ia mendambakan hidup yang indah dan penuh kebahagiaan.

Profilnya terkadang membuat kita tertipu. “Elo, tuh ya jadi orang jail banget,” katanya kepada temannya. “Yeeee, apaan sih. Kek nggak ada kerjaan aja bikin gue mikir yang berat-berat gini.” Atau yang ini: “Gila! Sumpah, keren banget!” serunya dengan mata berbinar-binar.

Dan dengan cepat suasana hatinya berubah kala: “Percuma elo pake topeng. Lo nggak bisa boong sama gue.” Mendengar ucapan sahabatnya itu, seketika pula tangisnya makin menjadi.




PERUBAHAN sering membuat orang mendeskripsikan ulang mengenai hidup yang ideal dalam pikirannya. Kejadian membuat kita sering berubah pikiran, menata dan menyusun ulang apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup.

“Aku kini fokus kepada keluargaku: Ibuku, adik-adikku. Lebih baik aku nggak kuliah daripada adikku nggak kuliah,” ceritanya suatu kali.

Saat sahabatnya berkumpul, ia orang yang hampir selalu tidak bisa hadir. “Kalo aku bolos, aku dan keluargaku bisa-bisa besok nggak makan,” ungkapnya.

Jumat, 29 Juli 2011

Siapakah Malaikat Penjaga Kita?

Setiap orang memiliki malaikat, penjaga yang menjaga kita. Kita tak tahu bentuknya seperti apa. Suatu hari seorang pria renta, hari berikutnya sesosok gadis kecil. Namun kehadirannya jangan membuatmu terkecoh, karena ia bisa menakutkan seperti seekor naga. Mereka hadir di sini tidak untuk bertempur demi kita, tapi untuk berbisik ke relung hati kita. Mengingatkan itu adalah kita (suara itu), bahwa setiap dari kita berharap atas kekuasaan dunia yang kita ciptakan.

Kita dapat menyangkal malaikat itu ada, meyakinkan pada diri sendiri mereka tidak mungkin nyata. Tapi mereka muncul jua. Pada tempat-tempat aneh dan waktu-waktu yang tidak masuk akal. Mereka dapat berbicara melalui setiap karakter yang kita bisa bayangkan. Mereka bisa melalui setan bila itu harus mereka lakukan. Menantang kita, menantang kita untuk melawan.

Siapa dari kita yang menghormati cinta dengan peri kehidupan kita. Siapa yang mengirim monster untuk membunuh kita dan bahwa di waktu yang sama (kita) bernyanyi sebab tidak pernah mati. Siapa yang mengajarkan kita apa yang nyata dan bagaimana tertawa itu terletak, yang memutuskan mengapa kita hidup dan mengapa kita mati untuk membela. Siapa yang mengubah kita? Dan, siapa yang memegang kunci untuk dapat membebaskan kita? Kamu. Kamu memiliki semua senjata yang kamu butuhkan. Sekarang: AYO LAWAN!



Terjemahan bebas oleh Bahar D. Dirgantara dari pembuka dan penutup film SUCKER PUNCH (Hak Cipta 2011: Warner Bros. Pictures, A Time Warner Company).

Jumat, 27 Mei 2011

Senja Kala Merapat

Bahar D. Dirgantara

Ini bukan sekadar pikiran, ini sebuah persoalan. Pikiran liar jika terungkap bakal mengacaukan suasana. Menebar maut dan kejutan serta hingar-bingar. Badai, hujan-topan, gelegar gunung meletus pun bukan merupakan tandingannya. Pikiran liar ini. Tidak bisa terhapus, digerus malah dia kian bertumbuh. Dihantam dia malah tegak kokoh berdiri.

Pikiran itu mungkin sekadar buih, tapi rasanya seperti ombak yang berdebur menghantam karang. Arusnya memabukkan dan terkadang menghipnotis siapapun yang merasakan.

Negeri tua, negeri kami. Negeri yang sedang cemar. Ke manakah senjamu bakal dibawa? Pikiran kami begitu liar, berkelana tanpa arah. Berilah kami petunjuk, oh negeriku.


Jakarta, 28052011

Kamis, 26 Mei 2011

Sebuah Koma

Bahar D. Dirgantara

Mentari menjadi begitu redup di hari itu, seperti lelah menyapa senyuman tiap manusia. Awan yang berarak, putih. Angin menampar setiap dedaunan tanpa pernah mau berhenti sejenak. Aku berdiri di depan pintu mengamati sekeliling, mesin-mesin bergemuruh, gerakan melambat manusia-manusia memburu agar tiap detik tidak hilang percuma. Hari itu, energiku terkelupas, jatuh satu per satu menjadi debu.

Pagi itu, aku terbangun dalam keadan teramat dingin. Beku. Kutipan-kutipan perlu aku tulis kembali untuk menghangatkan suasana. Kutulis untuk jiwa yang sedang mengambang-mengangkasa.

Seketika itu, partikel-partikelku mulai kususun, untuk menjadi sebuah sketsa yang tepat, yang belum aku tahu seperti apa sketsa itu nantinya. KepadaNya aku bermunajat.

Saat surya di atas ubun-ubun, namun tidak nampak untuk kesekian kalinya. Tubuhku kian meradang. Kian beku bagaikan es. Kuhangatkan diri dengan secangkir kopi hangat, tak jua hilang gigil itu. Kupejamkan mata sesaat, sejenak seperti biasa. Kuhela dada ini untuk diisi udara, kujernihkan kepala dan suaraku ini. Kulalui setiap tahapan itu dengan kesabaran dan keikhlasan, karena keduanya adalah energiku yang selalu tersisa dalam diri ini.

Senja yang merayap memberikanku keteduhan, mulai mencairkan segenap titik di jiwa ini.

Saat pekat malam. Dalam sebuah perjalanan. Guyuran air begitu menyejukkan, kilatan halilintar memacu hidupku. Sungguh aku terheran, es itu malah mulai mencair. Aku diberikan tanda olehNYA. Aku dibuatkan sketsa. Seketika itu jatungku berdegup cepat, napasku tersengal, tubuh ini menggigil.

Aku atur napasku, saat aku tiba usai perjalanan ini. Aku meneguk secangkir teh hangat dengan penuh syukur. Rintikan hujan menemani ketermenunganku.

Sketsa. Apakah itu sebuah tanda? Sketsa yang muncul kembali di siang ini dalam lelap sejenakku.


Jakarta-Depok, 25-26052011

Senin, 29 Maret 2010

Kritik atau Penghinaan

Bahar D. Dirgantara


Hidup di masa kini, kejadian dan tragedi sepertinya selalu berulang dan terulang. Di tengah dengung Reformasi yang saat ini hanya terdengar sebagai denyut membuat kita menjadi panas. Terkadang mempertanyakan esensi dari perubahan yang terjadi pada 1998 itu. Bahkan ada yang merasakan sebenarnya bukanlah perubahan yang terjadi, melainkan kemunduran.

Memang, kita akui bahwa kondisi bangsa (baca: bukan negara, melainkan rakyatnya) lebih terbuka sehingga mereka bebas berekspresi dan melepas kepenatan dengan kreasi mereka. Kita selalu terus mencari lahan untuk giat kreatif kita, termasuk saat mengkritisi untuk suatu hal yang (sangat) mengganggu kehidupan kita sebagai bangsa. Lewat sablon di baju, mural dinding di berbagai tempat, poster-poster, dan berbagai media lainnya.

Kritik seharusnya sebagai sesuatu yang biasa di tengah era yang seharusnya mendukung kebebasan berpendapat. Tapi ketika kritik dianggap sebagai penghinaan, ini yang membingungkan. Yang merasa dihina mengatakan itu bukan kritik. Yang berseru kritis, berasumsi ini sebagai sentilan kepada mereka yang merasa dihina atas kinerja mereka yang dibayar oleh keringat anak bangsa.

Kalau begitu, siapa yang benar? Karena setiap kubu mempunyai pendapatnya masing-masing. Ini seharusnya yang dijadikan modal dalam era bebas berekspresi. Yang merasa dihina, walaupun maksudnya dikritisi, ya jangan terlalu sensitif-lah. Sedangkan para pengkritisi, ya memang sudah seharusnya berpendapat seperti itu. Apalagi jika melihat kondisi yang stagnansi, mampet.

Kita tak perlu menyebutkan satu-satu contoh kasus “kritis dianggap menghina” ini. Terpenting dari semua itu adalah bagaimana yang merasa dihina menjadi terus bersemangat saat menerima kritikan bahwa hal tersebut adalah untuk memotivasi menjadi lebih baik, dan tidak lagi menganggap kritikan sebagai sebuah penghinaan. Pengkritisi juga jangan pernah kenal lelah, sebab tanpa kritik, bagaimana mungkin kita sebagai bangsa bakal terus bergerak maju. Sekian.

Jumat, 19 Maret 2010

Makan Roti*

Bahar D. Dirgantara


Karso, anak pemulung itu baru saja pulang sekolah. Sekolah yang diselenggarakan untuk anak-anak tak mampu. Mukanya dekil. Mambu. Kerjanya setiap pagi menjajakan koran. Ibunya, jualan gado-gado. Bapaknya kuli pacul kalo ada galian.

Suatu ketika, sore nan cerah. Karso lagi enak-enaknya nyeruput es mambo, tiba-tiba dipegang tangannya oleh petugas kamtib. Karso, bingung, mencoba melawan, meronta. Apa daya tangan petugas itu terlalu kuat untuk anak seumur Karso yang sepuluh tahun.

Kenapa kok saya ditangkap, tanya Karso heran. Petugas itu hanya membisu. Karso pun dibawa ke tempat penampungan sekaligus pembinaan buat orang-orang jalanan.

Di tempat penampungan yang ada hanya anak-anak sebayanya. Sepuluh orang, termasuk Karso. Tambah buat bingung Karso: kenapa cuma sedikit, yang lain tadi dijaring mana. Tak mengerti, menggeleng-geleng kepala Karso.

Lama menunggu, perut punya Karso keroncongan. Anak-anak lain ada yang canda ria, tidur-tiduran, ada yang tidur beneran; ngiler, ngorok. Karso hanya lirak-lirik. Anak yang diliriknya memainkan alis membalas lirikan Karso. Mereka nggak punya beban, pikir Karso.

Beberapa saat kemudian, Karso dipanggil petugas yang tadi membawanya. Ia dikasih bungkusan dan disuruh segera pulang dengan menumpang motor petugas yang mau keluar dari tempat penampungan.

Sesampainya di rumah. Dibukanya bungkusan yang tadi diberi oleh petugas. Isinya roti tawar. Kepalang girangnya Karso melihat makanan itu. Berteriak-teriak memanggil ibu-bapaknya. Disantapnya roti itu bareng-bareng.

Habis, ludes. Mereka sadar. Bapaknya tanya-tanya, kamu ditangkap, terus apa maksudnya. Karso hanya bisa menggeleng tak tahu jawabnya. Ibunya juga bingung. Ketiganya melompong. Warek.

19 Oktober 2001, 3 Maret 2008 (rewrite)
* Demi Manusia-Manusia Kolong yang terjajah

Saat akan Membeli Tomat*

Bahar D. Dirgantara


Pagi-pagi sekali Sariyem sudah bangun. Keringat bacin. Dilihatnya langit masih gelap. Udara dingin. Jam masih tunjuk angka tiga, tiga puluh. Matanya terlihat sembab, kurang tidur.

Hari ini dia punya maksud untuk pergi ke Pasar Induk. Memenuhi pesanan langganannya yang meminta kiloan tomat segar untuk kawinan anaknya. Bagi Sariyem itu merupakan suatu hal yang jarang terjadi. Walaupun jika sering terjadi, ia juga sudah terbiasa. Bulan-bulan ini musimnya orang nikahan, yang mencoba membangun generasi baru yang lebih baik (kata orang).

Langkahnya pagi ini sangat ringan, tak seperti biasanya.

Dia melihat sekeliling kampungnya. Masih sepi, seperti biasanya. Senyap. Manusia-manusia masih terlelap di atas bantal nan empuk dan mimpi indah dengan tetesan liur yang buat bantal bau apek nan sengir.

Setelah setengah kilo berjalan, matanya memicing. Dilihatnya di ujung jalan kampung, massa berkerumun, riuh. Gaduh.

Sariyem mendekat. Setapak demi setapak. Dia kaget! Lemas. Tak berdaya. Ternyata yang ada di situ, yang dikerumuni orang itu; tergeletak bersimbah darah. Kaku tak bernyawa. Sariyem pingsan.

Jalan raya di depan, kendaraan was-wis-wus-wes-wos, jalan raya yang sepi.

Yang pasti, para tetangganya, kalau bisa disebut begitu, tak tahu Sariyem pingsan karena yang mati kaku itu berdarah-darah atau bau amisnya yang masih segar itu. Hingga Sariyem menyusul suaminya itu.


19 Oktober 2001, 3 Maret 2008 (rewrite)
* Untuk Perempuan-Perempuan Perkasa yang kehilangan Belahan Jiwa