Kampanye Donasi Buku

KAMPANYE DONASI BUKU

Kampanye donasi berupa buku-buku dari khalayak yang dapat diakses secara gratis di perpustakaan kami di Depok.

Kampanye ini dilangsungkan sejak 2010.

Bagi sobat/rekan yang berminat kami mengundang kalian semua untuk mendonasikan buku-bukunya.

Buku dapat dikirim lewat pos ke:
CAKRAWALA PUSTAKA
d/a WAWAS Pustaka
Cimanggis Indah Blok N/No. 5 Depok 16415
Info: (021) 9455.1578

Untuk informasi selanjutnya dapat mengontak kami.

Sebagian buku-buku yang didonasikan bakal diperuntukkan bagi perpustakaan-perpustakaan yang membutuhkan.

Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.


Admin,
Bahar D. Dirgantara
bahar_dirgantara@yahoo.com


*Fasilitas baca di tempat merupakan sebuah cara yang efektif dalam sebuah perpustakaan.

List KAMPANYE DONASI BUKU (update, 31 Agustus 2011):
1. Firmanto Hanggoro, Bekasi (Mei 2010, 117 buku)
2. Jelita, Bandung (Juni 2010, 50 buku)
3. Windy Angela, Yogyakarta (8 Juni 2010, 7 buku)
4. Bhakti Hariani, Depok (12 Juni 2010, 13 buku & 3 majalah)
5. Novita (Olieph) dkk, Jakarta (6 Juni 2010, 13 buku & 23 majalah)
6. Brada Harmawansyah, Depok (9 Juni 2010, 47 buku)
7. NN, Depok (Juli 2010, 30 buku)
8.
9.


** Data buku yang disumbangkan merupakan jumlah kotor (termasuk buku yang rusak dan hilang halamannya).

Senin, 29 Maret 2010

Kritik atau Penghinaan

Bahar D. Dirgantara


Hidup di masa kini, kejadian dan tragedi sepertinya selalu berulang dan terulang. Di tengah dengung Reformasi yang saat ini hanya terdengar sebagai denyut membuat kita menjadi panas. Terkadang mempertanyakan esensi dari perubahan yang terjadi pada 1998 itu. Bahkan ada yang merasakan sebenarnya bukanlah perubahan yang terjadi, melainkan kemunduran.

Memang, kita akui bahwa kondisi bangsa (baca: bukan negara, melainkan rakyatnya) lebih terbuka sehingga mereka bebas berekspresi dan melepas kepenatan dengan kreasi mereka. Kita selalu terus mencari lahan untuk giat kreatif kita, termasuk saat mengkritisi untuk suatu hal yang (sangat) mengganggu kehidupan kita sebagai bangsa. Lewat sablon di baju, mural dinding di berbagai tempat, poster-poster, dan berbagai media lainnya.

Kritik seharusnya sebagai sesuatu yang biasa di tengah era yang seharusnya mendukung kebebasan berpendapat. Tapi ketika kritik dianggap sebagai penghinaan, ini yang membingungkan. Yang merasa dihina mengatakan itu bukan kritik. Yang berseru kritis, berasumsi ini sebagai sentilan kepada mereka yang merasa dihina atas kinerja mereka yang dibayar oleh keringat anak bangsa.

Kalau begitu, siapa yang benar? Karena setiap kubu mempunyai pendapatnya masing-masing. Ini seharusnya yang dijadikan modal dalam era bebas berekspresi. Yang merasa dihina, walaupun maksudnya dikritisi, ya jangan terlalu sensitif-lah. Sedangkan para pengkritisi, ya memang sudah seharusnya berpendapat seperti itu. Apalagi jika melihat kondisi yang stagnansi, mampet.

Kita tak perlu menyebutkan satu-satu contoh kasus “kritis dianggap menghina” ini. Terpenting dari semua itu adalah bagaimana yang merasa dihina menjadi terus bersemangat saat menerima kritikan bahwa hal tersebut adalah untuk memotivasi menjadi lebih baik, dan tidak lagi menganggap kritikan sebagai sebuah penghinaan. Pengkritisi juga jangan pernah kenal lelah, sebab tanpa kritik, bagaimana mungkin kita sebagai bangsa bakal terus bergerak maju. Sekian.

0 komentar: