Kampanye Donasi Buku

KAMPANYE DONASI BUKU

Kampanye donasi berupa buku-buku dari khalayak yang dapat diakses secara gratis di perpustakaan kami di Depok.

Kampanye ini dilangsungkan sejak 2010.

Bagi sobat/rekan yang berminat kami mengundang kalian semua untuk mendonasikan buku-bukunya.

Buku dapat dikirim lewat pos ke:
CAKRAWALA PUSTAKA
d/a WAWAS Pustaka
Cimanggis Indah Blok N/No. 5 Depok 16415
Info: (021) 9455.1578

Untuk informasi selanjutnya dapat mengontak kami.

Sebagian buku-buku yang didonasikan bakal diperuntukkan bagi perpustakaan-perpustakaan yang membutuhkan.

Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.


Admin,
Bahar D. Dirgantara
bahar_dirgantara@yahoo.com


*Fasilitas baca di tempat merupakan sebuah cara yang efektif dalam sebuah perpustakaan.

List KAMPANYE DONASI BUKU (update, 31 Agustus 2011):
1. Firmanto Hanggoro, Bekasi (Mei 2010, 117 buku)
2. Jelita, Bandung (Juni 2010, 50 buku)
3. Windy Angela, Yogyakarta (8 Juni 2010, 7 buku)
4. Bhakti Hariani, Depok (12 Juni 2010, 13 buku & 3 majalah)
5. Novita (Olieph) dkk, Jakarta (6 Juni 2010, 13 buku & 23 majalah)
6. Brada Harmawansyah, Depok (9 Juni 2010, 47 buku)
7. NN, Depok (Juli 2010, 30 buku)
8.
9.


** Data buku yang disumbangkan merupakan jumlah kotor (termasuk buku yang rusak dan hilang halamannya).

Jumat, 19 Maret 2010

Saat akan Membeli Tomat*

Bahar D. Dirgantara


Pagi-pagi sekali Sariyem sudah bangun. Keringat bacin. Dilihatnya langit masih gelap. Udara dingin. Jam masih tunjuk angka tiga, tiga puluh. Matanya terlihat sembab, kurang tidur.

Hari ini dia punya maksud untuk pergi ke Pasar Induk. Memenuhi pesanan langganannya yang meminta kiloan tomat segar untuk kawinan anaknya. Bagi Sariyem itu merupakan suatu hal yang jarang terjadi. Walaupun jika sering terjadi, ia juga sudah terbiasa. Bulan-bulan ini musimnya orang nikahan, yang mencoba membangun generasi baru yang lebih baik (kata orang).

Langkahnya pagi ini sangat ringan, tak seperti biasanya.

Dia melihat sekeliling kampungnya. Masih sepi, seperti biasanya. Senyap. Manusia-manusia masih terlelap di atas bantal nan empuk dan mimpi indah dengan tetesan liur yang buat bantal bau apek nan sengir.

Setelah setengah kilo berjalan, matanya memicing. Dilihatnya di ujung jalan kampung, massa berkerumun, riuh. Gaduh.

Sariyem mendekat. Setapak demi setapak. Dia kaget! Lemas. Tak berdaya. Ternyata yang ada di situ, yang dikerumuni orang itu; tergeletak bersimbah darah. Kaku tak bernyawa. Sariyem pingsan.

Jalan raya di depan, kendaraan was-wis-wus-wes-wos, jalan raya yang sepi.

Yang pasti, para tetangganya, kalau bisa disebut begitu, tak tahu Sariyem pingsan karena yang mati kaku itu berdarah-darah atau bau amisnya yang masih segar itu. Hingga Sariyem menyusul suaminya itu.


19 Oktober 2001, 3 Maret 2008 (rewrite)
* Untuk Perempuan-Perempuan Perkasa yang kehilangan Belahan Jiwa

0 komentar: