<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673</id><updated>2012-02-16T06:19:11.026-08:00</updated><category term='Memoar'/><category term='Puisi'/><category term='Reportase'/><category term='Travelling'/><category term='Fiksi'/><category term='Profil CP'/><category term='Motivasi'/><category term='Kolom'/><category term='Komentar'/><category term='Pengumuman'/><category term='Sains'/><category term='Televisi'/><title type='text'>CP-WP</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>44</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-2155873195028869866</id><published>2011-08-19T11:09:00.000-07:00</published><updated>2011-09-13T09:54:39.155-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengumuman'/><title type='text'>Menulis "Menulis 4...: Fiksi, Kreasi, Friksi dan Dimensi"</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haus telah. Mimpi sudah. Jelatang pun sudah kudepak hingga terjengkang tak berani kembali. Dahagaku untuk selalu menulis, tak bisa dihentikan hingga kering air di dalam tanah. Walau udara berhenti berhembus. Aku tetap menggoreskan pena. Menekan tuts-tuts keyboard tiada henti. Cukup aku katakan satu alinea ini. Aku ingin melahirkan, menzahirkan isi kepalaku dengan&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; "Menulis 4....: Fiksi, Kreasi, Friksi dan Dimensi"&lt;/span&gt;. Kini aku tidak bisa dihentikan. Aku ingin mengapung ke permukaan. Ingin berceloteh kembali dengan penuh kesadaran. Berikut sketsa awalannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terbangun dari pembaringannya. Riyap-riyap rambutnya menutupi wajahnya, acak-acakan. Ia mencoba mengumpulkan kesadarannya, melihat sekeliling kamarnya, lalu pandangannya terpaku di antara segelas air putih dan foto kecil di meja. Matanya kelihatan kuyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh!” desahnya saat menghembuskan nafas. Ia menyingkap selimutnya. Beranjak dari tempat tidur. Perlahan menuju ke jendela. Bergerak lambat ia membuka jendela, lamat-lamat sinar mentari mulai memasuki ruangan. Wajahnya tersapu angin pagi, rambutnya berkibar. Matanya terpejam, menikmati udara pagi, tapi tidak dengan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SHIT!” umpatnya. “Kenapa pikiran itu datang lagi? Ugh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengambil ponselnya. Melihat apakah ada kabar yang dia tunggu dari semalam. “Sampah semua! Dia belum bales BBM gue. Damn!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“GILA apa lo?! Orang kek gitu masih elo pertahanin. Posesif akut dia, gede ambeg pula orangnya.” Teringat selalu kata sahabatnya itu di kepalanya. Dia hanya tersenyum saat teringat masa-masa kekangan itu. “Siapa dia?!” begitu pikirnya. “Kejar karir dulu mumpung masih muda,” nasihat mentornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tenang ia menikmati hidangan pedas di meja kerjanya. Sesekali melihat lampu kecil yang berkedip-kedip di telepon. “Nggak tau ini jam istirahat apa? Dasar bodoh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini ia harus merangkum data klien sebanyak 50 lembar, yang isinya nomor telepon semua. Menghubungi mereka satu per satu, sungguh menjemukan. “Halo, selamat siang. Saya….” Kalimat yang selalu ia ulang hingga terpatri di otaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RAPUH. Gadis ini begitu terhimpit. Tiada satu pun orang yang mengerti dirinya, keinginannya. Saat malam sering dirinya termangu dengan temaram lampu kamarnya, terisak. Ia mendambakan hidup yang indah dan penuh kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profilnya terkadang membuat kita tertipu. “Elo, tuh ya jadi orang jail banget,” katanya kepada temannya. “Yeeee, apaan sih. Kek nggak ada kerjaan aja bikin gue mikir yang berat-berat gini.” Atau yang ini: “Gila! Sumpah, keren banget!” serunya dengan mata berbinar-binar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan cepat suasana hatinya berubah kala: “Percuma elo pake topeng. Lo nggak bisa boong sama gue.” Mendengar ucapan sahabatnya itu, seketika pula tangisnya makin menjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERUBAHAN sering membuat orang mendeskripsikan ulang mengenai hidup yang ideal dalam pikirannya. Kejadian membuat kita sering berubah pikiran, menata dan menyusun ulang apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kini fokus kepada keluargaku: Ibuku, adik-adikku. Lebih baik aku nggak kuliah daripada adikku nggak kuliah,” ceritanya suatu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sahabatnya berkumpul, ia orang yang hampir selalu tidak bisa hadir. “Kalo aku bolos, aku dan keluargaku bisa-bisa besok nggak makan,” ungkapnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-2155873195028869866?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/2155873195028869866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=2155873195028869866' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/2155873195028869866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/2155873195028869866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2011/08/menulis-menulis-4-fiksi-kreasi-friksi.html' title='Menulis &quot;Menulis 4...: Fiksi, Kreasi, Friksi dan Dimensi&quot;'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-4351983757542477485</id><published>2011-07-29T04:58:00.000-07:00</published><updated>2011-07-29T05:02:59.902-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksi'/><title type='text'>Siapakah Malaikat Penjaga Kita?</title><content type='html'>Setiap orang memiliki malaikat, penjaga yang menjaga kita. Kita tak tahu bentuknya seperti apa. Suatu hari seorang pria renta, hari berikutnya sesosok gadis kecil. Namun kehadirannya jangan membuatmu terkecoh, karena ia bisa menakutkan seperti seekor naga. Mereka hadir di sini tidak untuk bertempur demi kita, tapi untuk berbisik ke relung hati kita. Mengingatkan itu adalah kita (suara itu), bahwa setiap dari kita berharap atas kekuasaan dunia yang kita ciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat menyangkal malaikat itu ada, meyakinkan pada diri sendiri mereka tidak mungkin nyata. Tapi mereka muncul jua. Pada tempat-tempat aneh dan waktu-waktu yang tidak masuk akal. Mereka dapat berbicara melalui setiap karakter yang kita bisa bayangkan. Mereka bisa melalui setan bila itu harus mereka lakukan. Menantang kita, menantang kita untuk melawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa dari kita yang menghormati cinta dengan peri kehidupan kita. Siapa yang mengirim monster untuk membunuh kita dan bahwa di waktu yang sama (kita) bernyanyi sebab tidak pernah mati. Siapa yang mengajarkan kita apa yang nyata dan bagaimana tertawa itu terletak, yang memutuskan mengapa kita hidup dan mengapa kita mati untuk membela. Siapa yang mengubah kita? Dan, siapa yang memegang kunci untuk dapat membebaskan kita? Kamu. Kamu memiliki semua senjata yang kamu butuhkan. Sekarang: AYO LAWAN!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan bebas oleh Bahar D. Dirgantara dari pembuka dan penutup film SUCKER PUNCH (Hak Cipta 2011: Warner Bros. Pictures, A Time Warner Company).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-4351983757542477485?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/4351983757542477485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=4351983757542477485' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/4351983757542477485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/4351983757542477485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2011/07/siapakah-malaikat-penjaga-kita.html' title='Siapakah Malaikat Penjaga Kita?'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-3651125102288809101</id><published>2011-05-27T11:52:00.000-07:00</published><updated>2011-05-31T07:54:40.288-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Senja Kala Merapat</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan sekadar pikiran, ini sebuah persoalan. Pikiran liar jika terungkap bakal mengacaukan suasana. Menebar maut dan kejutan serta hingar-bingar. Badai, hujan-topan, gelegar gunung meletus pun bukan merupakan tandingannya. Pikiran liar ini. Tidak bisa terhapus, digerus malah dia kian bertumbuh. Dihantam dia malah tegak kokoh berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran itu mungkin sekadar buih, tapi rasanya seperti ombak yang berdebur menghantam karang. Arusnya memabukkan dan terkadang menghipnotis siapapun yang merasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri tua, negeri kami. Negeri yang sedang cemar. Ke manakah senjamu bakal dibawa? Pikiran kami begitu liar, berkelana tanpa arah. Berilah kami petunjuk, oh negeriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 28052011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-3651125102288809101?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/3651125102288809101/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=3651125102288809101' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/3651125102288809101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/3651125102288809101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2011/05/senja-kala-merapat.html' title='Senja Kala Merapat'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-6845964354557014192</id><published>2011-05-26T01:10:00.000-07:00</published><updated>2011-05-26T01:14:27.680-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memoar'/><title type='text'>Sebuah Koma</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari menjadi begitu redup di hari itu, seperti lelah menyapa senyuman tiap manusia. Awan yang berarak, putih. Angin menampar setiap dedaunan tanpa pernah mau berhenti sejenak. Aku berdiri di depan pintu mengamati sekeliling, mesin-mesin bergemuruh, gerakan melambat manusia-manusia memburu agar tiap detik tidak hilang percuma. Hari itu, energiku terkelupas, jatuh satu per satu menjadi debu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, aku terbangun dalam keadan teramat dingin. Beku. Kutipan-kutipan perlu aku tulis kembali untuk menghangatkan suasana. Kutulis untuk jiwa yang sedang mengambang-mengangkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu, partikel-partikelku mulai kususun, untuk menjadi sebuah sketsa yang tepat, yang belum aku tahu seperti apa sketsa itu nantinya. KepadaNya aku bermunajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat surya di atas ubun-ubun, namun tidak nampak untuk kesekian kalinya. Tubuhku kian meradang. Kian beku bagaikan es. Kuhangatkan diri dengan secangkir kopi hangat, tak jua hilang gigil itu. Kupejamkan mata sesaat, sejenak seperti biasa. Kuhela dada ini untuk diisi udara, kujernihkan kepala dan suaraku ini. Kulalui setiap tahapan itu dengan kesabaran dan keikhlasan, karena keduanya adalah energiku yang selalu tersisa dalam diri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja yang merayap memberikanku keteduhan, mulai mencairkan segenap titik di jiwa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pekat malam. Dalam sebuah perjalanan. Guyuran air begitu menyejukkan, kilatan halilintar memacu hidupku. Sungguh aku terheran, es itu malah mulai mencair. Aku diberikan tanda olehNYA. Aku dibuatkan sketsa. Seketika itu jatungku berdegup cepat, napasku tersengal, tubuh ini menggigil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku atur napasku, saat aku tiba usai perjalanan ini. Aku meneguk secangkir teh hangat dengan penuh syukur. Rintikan hujan menemani ketermenunganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sketsa. Apakah itu sebuah tanda? Sketsa yang muncul kembali di siang ini dalam lelap sejenakku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta-Depok, 25-26052011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-6845964354557014192?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/6845964354557014192/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=6845964354557014192' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/6845964354557014192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/6845964354557014192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2011/05/sebuah-koma.html' title='Sebuah Koma'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-9197804448455041860</id><published>2010-03-29T06:27:00.000-07:00</published><updated>2010-03-29T06:31:03.349-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Kritik atau Penghinaan</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di masa kini, kejadian dan tragedi sepertinya selalu berulang dan terulang. Di tengah dengung Reformasi yang saat ini hanya terdengar sebagai denyut membuat kita menjadi panas. Terkadang mempertanyakan esensi dari perubahan yang terjadi pada 1998 itu. Bahkan ada yang merasakan sebenarnya bukanlah perubahan yang terjadi, melainkan kemunduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kita akui bahwa kondisi bangsa (baca: bukan negara, melainkan rakyatnya) lebih terbuka sehingga mereka bebas berekspresi dan melepas kepenatan dengan kreasi mereka. Kita selalu terus mencari lahan untuk giat kreatif kita, termasuk saat mengkritisi untuk suatu hal yang (sangat) mengganggu kehidupan kita sebagai bangsa. Lewat sablon di baju, mural dinding di berbagai tempat, poster-poster, dan berbagai media lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik seharusnya sebagai sesuatu yang biasa di tengah era yang seharusnya mendukung kebebasan berpendapat. Tapi ketika kritik dianggap sebagai penghinaan, ini yang membingungkan. Yang merasa dihina mengatakan itu bukan kritik. Yang berseru kritis, berasumsi ini sebagai sentilan kepada mereka yang merasa dihina atas kinerja mereka yang dibayar oleh keringat anak bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, siapa yang benar? Karena setiap kubu mempunyai pendapatnya masing-masing. Ini seharusnya yang dijadikan modal dalam era bebas berekspresi. Yang merasa dihina, walaupun maksudnya dikritisi, ya jangan terlalu sensitif-lah. Sedangkan para pengkritisi, ya memang sudah seharusnya berpendapat seperti itu. Apalagi jika melihat kondisi yang stagnansi, mampet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak perlu menyebutkan satu-satu contoh kasus “kritis dianggap menghina” ini. Terpenting dari semua itu adalah bagaimana yang merasa dihina menjadi terus bersemangat saat menerima kritikan bahwa hal tersebut adalah untuk memotivasi menjadi lebih baik, dan tidak lagi menganggap kritikan sebagai sebuah penghinaan. Pengkritisi juga jangan pernah kenal lelah, sebab tanpa kritik, bagaimana mungkin kita sebagai bangsa bakal terus bergerak maju. Sekian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-9197804448455041860?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/9197804448455041860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=9197804448455041860' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/9197804448455041860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/9197804448455041860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2010/03/kritik-atau-penghinaan_29.html' title='Kritik atau Penghinaan'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-239932985117574503</id><published>2010-03-19T09:55:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T10:04:12.397-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksi'/><title type='text'>Makan Roti*</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karso, anak pemulung itu baru saja pulang sekolah. Sekolah yang diselenggarakan untuk anak-anak tak mampu. Mukanya dekil. Mambu. Kerjanya setiap pagi menjajakan koran. Ibunya, jualan gado-gado. Bapaknya kuli pacul kalo ada galian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, sore nan cerah. Karso lagi enak-enaknya nyeruput es mambo, tiba-tiba dipegang tangannya oleh petugas kamtib. Karso, bingung, mencoba melawan, meronta. Apa daya tangan petugas itu terlalu kuat untuk anak seumur Karso yang sepuluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kok saya ditangkap, tanya Karso heran. Petugas itu hanya membisu. Karso pun dibawa ke tempat penampungan sekaligus pembinaan buat orang-orang jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat penampungan yang ada hanya anak-anak sebayanya. Sepuluh orang, termasuk Karso. Tambah buat bingung Karso: kenapa cuma sedikit, yang lain tadi dijaring mana. Tak mengerti, menggeleng-geleng kepala Karso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama menunggu, perut punya Karso keroncongan. Anak-anak lain ada yang canda ria, tidur-tiduran, ada yang tidur beneran; ngiler, ngorok. Karso hanya lirak-lirik. Anak yang diliriknya memainkan alis membalas lirikan Karso. Mereka nggak punya beban, pikir Karso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, Karso dipanggil petugas yang tadi membawanya. Ia dikasih bungkusan dan disuruh segera pulang dengan menumpang motor petugas yang mau keluar dari tempat penampungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah. Dibukanya bungkusan yang tadi diberi oleh petugas. Isinya roti tawar. Kepalang girangnya Karso melihat makanan itu. Berteriak-teriak memanggil ibu-bapaknya. Disantapnya roti itu bareng-bareng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis, ludes. Mereka sadar. Bapaknya tanya-tanya, kamu ditangkap, terus apa maksudnya. Karso hanya bisa menggeleng tak tahu jawabnya. Ibunya juga bingung. Ketiganya melompong. Warek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19 Oktober 2001, 3 Maret 2008 (rewrite)&lt;br /&gt;* Demi Manusia-Manusia Kolong yang terjajah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-239932985117574503?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/239932985117574503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=239932985117574503' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/239932985117574503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/239932985117574503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2010/03/makan-roti.html' title='Makan Roti*'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-5434846412050534872</id><published>2010-03-19T09:39:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T09:54:50.484-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksi'/><title type='text'>Saat akan Membeli Tomat*</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi sekali Sariyem sudah bangun. Keringat bacin. Dilihatnya langit masih gelap. Udara dingin. Jam masih tunjuk angka tiga, tiga puluh. Matanya terlihat sembab, kurang tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini dia punya maksud untuk pergi ke Pasar Induk. Memenuhi pesanan langganannya yang meminta kiloan tomat segar untuk kawinan anaknya. Bagi Sariyem itu merupakan suatu hal yang jarang terjadi. Walaupun jika sering terjadi, ia juga sudah terbiasa. Bulan-bulan ini musimnya orang nikahan, yang mencoba membangun generasi baru yang lebih baik (kata orang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya pagi ini sangat ringan, tak seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melihat sekeliling kampungnya. Masih sepi, seperti biasanya. Senyap. Manusia-manusia masih terlelap di atas bantal nan empuk dan mimpi indah dengan tetesan liur yang buat bantal bau apek nan sengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah setengah kilo berjalan, matanya memicing. Dilihatnya di ujung jalan kampung, massa berkerumun, riuh. Gaduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sariyem mendekat. Setapak demi setapak. Dia kaget! Lemas. Tak berdaya. Ternyata yang ada di situ, yang dikerumuni orang itu; tergeletak bersimbah darah. Kaku tak bernyawa. Sariyem pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan raya di depan, kendaraan was-wis-wus-wes-wos, jalan raya yang sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, para tetangganya, kalau bisa disebut begitu, tak tahu Sariyem pingsan karena yang mati kaku itu berdarah-darah atau bau amisnya yang masih segar itu. Hingga Sariyem menyusul suaminya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19 Oktober 2001, 3 Maret 2008 (rewrite)&lt;br /&gt;* Untuk Perempuan-Perempuan Perkasa yang kehilangan Belahan Jiwa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-5434846412050534872?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/5434846412050534872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=5434846412050534872' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/5434846412050534872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/5434846412050534872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2010/03/saat-akan-membeli-tomat.html' title='Saat akan Membeli Tomat*'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-2338709222927659496</id><published>2010-03-19T09:29:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T09:34:35.410-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksi'/><title type='text'>Cuap-cuap, Cerita Kala Senja kian Menua*</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja tiba, setelah pergi. Telepon berdering-dering. Berdiri di depan pintu kamar. Biarkan saja. Sampai yang menelepon itu kelelahan. Tapi rupanya orang di seberang sana tak berhenti jua. Terus berusaha tanpa henti. Tetap saja aku biarkan telepon itu berdering. Terus berdering, biarkan saja. Aneh, tetap saja berdering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku angkat saja telepon itu. Terdengar suara klik. Sialan! Eh, berdering lagi. Cuek. Aku buka pintu kamar. Aku kunci dan kunyalakan musik keras-keras. Iron Maiden, judu Number of The Beast. Lagu yang terinspirasi dari Bibel? Mungkin, Bruce Dickinson sang vokalis, saat mencipta lagu itu suka membuka-buka kitab itu. Ah, biar, itu bukan urusanku. Kring...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di langit kamarku aku lihat putih. Tidur-tiduran. Aku jadi teringat sebuah cerita masa kecil. Cerita tentang bidadari, yang kata orang: berwarna putih, punya sayap, sifatnya baik. Megingat itu, aku jadi tertawa geli. Entah manusia goblok mana yang mengarang kisah itu. Jangankan melihat bidadari, setan saja belum pernah lihat. Setan? Jangan sampailah aku melihatnya. Lebih baik bertemu bidadari yang, katanya, cantik jelita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah juga mengurung di kamar. Aku keluar kamar. Gila! Telepon terus berdering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, halo?” Aku angkat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo juga, di sini siapa?” jawab di seberang sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kok tanya diri sendiri. Wah, ini pasti orang stres atau sekedar iseng. Sinting. Tapi tak apalah, mungkin dia perlu hiburan. Itung-itung amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sana jin yang pernah buang anak. Kalau di sini bintang film layar lebar yang main di film Selalu Melirik ke Rumah Tetangga,” jawabku sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok, tahu kalau di sini jin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha, orang di sini paranormal!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi katanya bintang film.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merangkap, gitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oooo....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membayangkan mulut orang, eh jin, atau jenis makhluk apalah itu mulutnya bulat sedang ber-o. Semoga saja tak dimasuki lalat. Keselek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Situ benean jin apa jon?” heranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terserahlah, mau disebut apa. Jin boleh, jon oke. Apa jun-jan, mungkin jen. Bisa juga iblis.” Ngawur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, kayak lagu Iron Maiden!” seruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Number of The Beast.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Situ tahu. Sini lagi nyetel.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha wong itu lagu kebangsaan ngeband, kok!” jelas makhluk tak jelas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di alam sana ada band juga?” candaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, menghina, neh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan, sekedar konfirmasi. Jangan ngambek gitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan aku boleh menelepo lagi?” Mengubah topik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan aja, terserah. Aku tunggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai telepon!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telepon berdering!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe.... Rupanya tadi itu makhlik halus. Tapi aku oke-oke saja. Dia asyik diayak ngobrol. Kalau memang ia jin, ini seru juga. Ditelepon jin. Hiii.... Aku haus, mau minim. Terus tidur. Lho, kok! Kalau dia sampai mau ketemu segala gimana, dong?! Eng-ing-eng....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*10 September 2001, 3 Maret 2008 (rewrite)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-2338709222927659496?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/2338709222927659496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=2338709222927659496' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/2338709222927659496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/2338709222927659496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2010/03/cuap-cuap-cerita-kala-senja-kian-menua.html' title='Cuap-cuap, Cerita Kala Senja kian Menua*'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-630004905687929517</id><published>2010-03-18T10:53:00.000-07:00</published><updated>2010-03-18T11:08:43.282-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Kemesraan Amerika Serikat dengan Media Massa: Sebuah Kendali Citra*</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEDIA massa memiliki kekuatan yang luar biasa untuk membentuk opini publik mengenai isu yang berkembang belakangan hari. Adapun seperti itu, media massa juga dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat pada publik. Bahkan, dalam skala tertentu media massa dapat menjadi corong penguasa sebuah negara dan menjerumuskan publik untuk mendukung dan melegitimasi tindakan salah penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dari Gengsi menjadi Kontrol terhadap Media&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dalam tataran tertentu dalam mendapatkan sumber resmi, seperti pemerintah, adalah merupakan gengsi tersendiri bagi wartawan dan memiliki prestise di kalangan kolega-kolega wartawannya dan publik umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini yang dimanfaatkan pejabat tinggi AS sebagai kartu as yang bisa dimainkan ketika menghadapi wartawan. Greg Noakes (dalam Ibrahim (ed.), 2005:212)—seorang muslim AS dan sebagai editor berita di Washington Report on Middle East Affairs—menjelaskan,“Kemampuan para wartawan untuk menelepon dan bertemu langsung dengan pejabat tinggi di Gedung Putih, Pentagon, atau Departemen Luar Negeri, atau bisa pesan kursi untuk perjalanan resmi, menjadi hal yang membanggakan para wartawan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noakes, bahkan menjelaskan lebih gamblang bahwa “Sejumlah berita yang merupakan berita pertama yang dibuat kalangan wartawan bisa ditafsirkan secara harfiah sebagai jenjang karier wartawan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;CNN, Jaringan Andalan AS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cable News Network (CNN)—stasiun penyiaran khusus yang berkonsentrasi pada reportase berita 24 jam terus menerus—didirikan pada tahun 1980 dan merupakan anak perusahaan dari Turner Broadcasting System Inc. (TBS) suatu perusahaan aneka komunikasi yang memberi perhatian pada hiburan, sindikasi berita, pemberian lisensi, olahraga dan real estate. Di tahun 1996, Time Warner sebagai pemegang saham 20% saham TBS, membeli saham sisanya yang diperdagangkan dan mendeskripsikan hal itu sebagai merger.(Küng-Shakelman, 2003:126)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh di balik nama besar CNN adalah Ted Turner. Ted Turner, digambarkan Lucy Küng-Shankleman (2003:132-134), sebagai ‘Kapten Kasar’ dan merupakan tokoh ugal-ugalan namun kharismatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, seleranya akan risiko dikatakan tidak pernah terpuaskan; ia selalu ‘siap sedia untuk menggelindingkan dadu. Bersedia untuk kehilangan segala-galanya.’ Gayanya ialah selalu ‘mencari tantangan selanjutnya’. Mencoba segala sesuatunya jika peluang yang menentang Anda ternyata cukup besar. Selalu bergerak. Jika jatuh bangunlah lagi, jatuh-bangun lagi, demikian seterusnya sampai anda merasa bahwa anda searah dengan angin’ (Bibb, 1993:61).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pers yang Memihak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di Eropa dan Amerika, kecemasan akan ekspor “fundamentalisme Islam” dan ancamannya atas keamanan domestik telah menarik perhatian media dan terkadang memperkuat citra Islam sebagai sebuah ancaman demografis.(John L. Esposito dalam Ibrahim (ed.), 2005:5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dikarenakan, “Banyak wartawan Amerika yang meliput Dunia Islam kekurangan sumber-sumber dasar tersebut, yang membuat mereka jadi mudah membuat berita yang secara halus—atau terang-terangan—“dipelintir”.”(Noakes dalam Ibrahim (ed.), 2005:212)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu. Dalam perang yang dikampanyekan AS di Afghanistan dan Irak, wartawan mendapat tekanan—dalam todongan senjata—dari pihak militer AS dan koalisinya. Kesulitan wartawan untuk mewujudkan pers netral menjadi sebuah keniscayaan tersendiri yang tidak terbantahkan dan diakui oleh wartawan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dirangkum Goodman dan Goodman (2005:226-228) sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;blockquote&gt;Sulit sekali. Kami berpakaian seperti mereka, kami makan dan tidur bersama mereka, dan kami menjadi bagian dari mereka.&lt;br /&gt;    RICK LEVENTHAL, KORESPONDEN FOX NEWS CHANNEL&lt;br /&gt;    YANG MENYERTAI MILITER&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;blockquote&gt;Proyek ini sangat keren. Seperti Band of Brothers tapi sungguhan…Aku sudah lama berhubungan dengan Marinir (aku menjadi pembicara di seminar pelatihan media mereka selama sepuluh tahun). Aku sudah pernah mengikuti layanan mulia mereka…Aku pulang dengan pandangan pesimis untuk banyak orang yang mengaku jurnalis internasional yang seringkali melaporkan berdasarkan keyakinan dan bukan mata mereka.&lt;br /&gt;    CHUCK STEVENSON, PRODUSER 48 HOURS INVESTIGATES&lt;br /&gt;    DI CBS NEWS, MENYERTAI MARINIR AS&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;blockquote&gt;Sepanjang perjalanan bersama Marinir aku tak bisa melepaskan perasaan bahwa kami adalah pemandu sorak dalam bis tim…Kebanyakan komandan Marinir yang kutemui tidak menganggap kami sebagai jurnalis netral yang memiliki tugas tersendiri, tetapi sebagai alat untuk menunjukkan prestasi dan kejayaan Korps Marinir Amerika. Suatu hari seorang petugas pers bersandar di kursinya di ruang makan. Ia menatap sekilas pada dua halaman foto berwarna di Time yang menampilkan para Marinir bersiap-siap untuk bertempur. “Kampanye perekrutan tidak bis dibeli dengan uang,” ujarnya.&lt;br /&gt;    JOHN BURNETT, KORESPONDEN NPR (National Public Radio, pen.),&lt;br /&gt;    MENYERTAI MARINIR AS&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;blockquote&gt;Aku bukan termasuk pihak yang turut bertempur, tapi kukatakan pada mereka aku bersedia mengangkat senapan jika perlu. Senapan tidak sukar digunakan. Tinggal bidik dan tembak.&lt;br /&gt;    CHANTAL ESCOTO, THE LEAF-CHRONICLE,&lt;br /&gt;    CLARKSVILLE, TENNESSEE&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Wajah Media di AS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;World Trade Center ternyata mempengaruhi pers di kemudian hari. Seperti ditulis oleh Noakes (2005:218-219) bahwa pers bagi kalangan Muslim AS sungguh mengkhawatirkan. Ketika tiga organisasi Muslim AS membangun hubungan dengan media adalah American Muslim Council (AMC) dan Council on American-Islamic Relations (CAIR) di Washington serta Muslim Public Affairs Council (MPAC) di Los Angeles, justru pers AS melakukan tindakan menodai hubungan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noakes, masih dalam tulisan yang sama, mengatakan bahwa ketika ia menyampaikan presentasi tahun 1994 di sebuah masjid di utara Virginia mengenai Islam di media, ternyata peserta yang hadir saat ditanya berapa banyak yang melihat sesuatu yang melecehkan Islam atau kaum Muslim dalam media arus utama sepanjang tahun, lebih dari 90% dari sekitar 250 Muslim yang hadir mangacungkan tangannya. Lalu, ketika ditanya apakah mereka menulis surat pembaca atau menghubungi stasiun radio atau televisi untuk mengajukan keberatannya, hanya dua Muslim yang mengacungkan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim AS setuju bahwa media membebani komunitas tersebut, namun kebanyakan dari mereka mengharapkan anak-anak mereka menjadi insinyur, dokter, bukan wartawan, redaktur atau produser televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejadian ini Muslim AS cenderung tak realistik meminta siaran media atau pemberitaan media cetak melakukan tindakan yang positif terhadap peliputan mengenai mereka.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Tidak Bersama Kami, Tunggu Tindakan Kami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pers mendapatkan cobaan yang tidak terperi atas posisinya dalam mengemban tugas jurnalistik. Dalam todongan senjata dan brondongan peluru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pagi hari, tanggal 8 April 2003, bencana terjadi. Seorang kepala koresponden Baghdad untuk kantor berita Al-Jazeera berdiri di atap kantor perwakilan di Baghdad. Ia mengamati dengan cermat pertempuran sengit antara pasukan Irak dan dua tank Amerika, yang sebelumnya sudah terlihat di jembatan Al-Jumhuriyah. Ia saat itu bersama kamerawannya Zuheir, warga Irak, menyorot pertempuran dan sang wartawan bergantian sebagai latar belakang laporan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, keduanya melihat sebuah jet tempur Amerika menukik rendah melintasi kota. Spontan keduanya mendongak. Pesawat tersebut menuju arah mereka berdiri. “Pesawat begitu rendah hingga kami yang di lantai bawah mengira pesawat akan mendarat di atap, sedekat itulah,” tutur rekan Ayyoub, Maher Abdullah, pada Robert Fisk dari Independent London, seperti dikutip Goodman dan Goodman (2005:234).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Serangan itu tepat sasaran, rudal itu sebenarnya meledak di generator kami,” kenang Abdullah. Rekan-rekannya yang panik mengangkat tubuh hancur reporter berusia 35 tahun itu, membungkusnya dengan selimut kemudian membawa ke ambulans. Tapi terlambat, “Tareq tewas seketika itu juga,” kata Abdullah. Zuheir, kamerawan terluka, namun selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Staf Abu Dhabi Television yang baru saja mendengar kabar Amerika telah membom Al-Jazeera berlindung dalam kantor mereka yang hanya berjarak satu mil dari kantor Al-Jazeera. Dua puluh lima staf tersebut meringkuk di lantar dasar, lalu menelepon dan memohon lewat udara agar ada yang dapat menolong mereka. Tapi, sekali lagi, hanya ketulian yang menyambut mereka. Tentara AS menghujani kantor mereka dengan peluru. Ajaibnya, tdak seorang pun dari mereka yang terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tengah hari, giliran Hotel Palestine. Di situ tinggal ratusan wartawan yang tidak menyertai militer. Banyak dari merka menatap ketakutan ketika melihat tank AS yang berada di jembatal Al-Jumhuriyah perlahan memutar moncongnya ke arah mereka. Kru sebuah televisi Prancis merekam momen tersebut, saat tank tersebut membidik. Kemudian tank melancarkan serangkaian tembakan ke arah hotel yang tinggi itu. Tingkat lima belas terhantam bom, langsung menggempur kamar yang dipakai sebagai kantor berita internasional Reuters. Taras Protsyuk (35), kamerawan veteran asal Ukraina tewas seketika. Jose Cousu (37), kamerawan dari televisi Spanyol, Telecinco, yang serdang merekam dari satu lantai di bawahnya, juga tewas. Tiga jurnalis lainnya terluka parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat lain, ketika berita terbunuhnya para wartawan tersebut berdengung ke seluruh penjuru dunia, jurubicara markas Komandi Pusat AS di Qatar berdalih, “Tembakan musuh yang bertubi-tubi dari arah Hotel Palestine.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara wartawan Al-Jazeera Baghdad, Majed Abdel Hadi mengatakan, “Kami dibidik karena tentara Amerika tidak ingin dunia melihat kejahatan mereka terhadap rakyat Irak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David Chater, korenponden Baghdad untuk Sky, mempertanyakan apakah wartawan yang tidak menyertai militer dapat terus melaporkan dari Irak. “Bagaimana kami dapat terus bekerja,” tanyanya, ”jika tank membidik kami?”&lt;br /&gt;Mengenai kejadian di atas, Al-Jazeera menyatakan bahwa mereka mengirim surat pada jurubicara Pentagon, Victoria Clarke, dengan memberikan titik koordinat kantor mereka. Mungkin ini kesalahan terbesar yang pernah dibuat kantor berita Arab ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembunuhan terjadi lagi terhadap seorang wartawan. Tanggal 17 Agustus 2003, Mazen Dana, kamerawan Reuters asal Palestina tewas saat meliput sebuah penjara di luar Baghdad. Sebelumnya ia berbicara dengan tentara Amerika mengenai apa yang dikerjakannya. Ia merekam kematiannya sendiri. Selagi kameranya menyorot sebuah tank AS yang berjarak lima pulih meter, tentara tiba-tiba menembak. Dana kehilangan fokus, terhuyung, saat sebuah peluru senapan mesin kaliber tinggi merobek dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalih yang diutarakan mereka bahwa tentara melihat kamera Dana adalah peluncur granat berpendorong roket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita simak ucapan Deputi Menteri Pertahanan Paul Wolfowitz pada Juli 2003, serangan terhadap Al-Jazeera dan Hotel Palestine seperti sudah direncanakan sebelumnya. “Tantangan terbesar kita yang masih ada, pertama, listrik; kedua, kerja dan pengangguran. Dan ketiga, media lokal yang didominasi pihak musuh. Termasuk dari dunia luar, dari Al-Jazeera dan Al-Arabiya dan beberapa siaran asing yang tidak bersikap membantu.” (Goodman dan Goodman, 2005:243-244)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas sekali, setelah Al-Jazeera mengirim surat kepada jurubicara Pentagon Victoria Clarke yang berisi koordinat kantor berita itu, maka pernyataan Wolfowitz seperti mengesahkan serangan tersebut. Serangan yang juga membunuh beberapa jurnalis netral (di beberapa tempat) saat memberitakan perang di Irak.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Di Balik Pers yang Memihak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perlu kita ketahui bagaimana beberapa perusahaan pers yang meliput perang yang dikampanyekan AS demi melawan terorisme ini cenderung tidak lugas. Dengan bahasa lebih halus, menutupi fakta yang ada di lapangan. Seperti kata John Burnett dari National Publik Radio, “Sepanjang perjalanan bersama Marinir aku tak bisa melepaskan perasaan bahwa kami adalah pemandu sorak dalam bis tim.” Sungguh pers telah menjadi corong yang membahayakan karena perannya sebagai kontrol atas permasalahan yang terjadi tidak digunakan. Ini sungguh menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tulisan ini merupakan draf naskah bagian ke-2 dari 6 bagian rencana tulisan &lt;a href="http://bahard2.wordpress.com/2010/03/18/kemesraan-amerika-serikat-dengan-media-massa-sebuah-kendali-citra/"&gt;Amerika dan Hegemoni&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-630004905687929517?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/630004905687929517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=630004905687929517' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/630004905687929517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/630004905687929517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2010/03/kemesraan-amerika-serikat-dengan-media.html' title='Kemesraan Amerika Serikat dengan Media Massa: Sebuah Kendali Citra*'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-1921046945839574184</id><published>2010-02-15T22:07:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T22:10:21.295-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Manusia</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu kata dalam setiap diri manusia. Ruh. Tanpa ruh maka manusia hanya seonggok daging yang diperkokoh tulang. Dengan ruh manusia bisa merasakan sakit dan gembira. Dengan ruh pula manusia dapat merasakan jatuh cinta, karena di dalam ruh ada perasaan. Dengan perasaan, manusia mampu mencapai keinginan yang sekadar mimpi menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan tersembunyi di hati yang tidak dapat kita lihat, karena ia ada di dalam ruh yang juga tidak nampak. Manusia yang kehilangan hati akan mengobarkan perang, menghunuskan pedang dan membantai kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tercipta hanya dua jenis. Pria dan Wanita. Disebut Pria karena ia telah mengenal sosok Wanita. Wanita disebut begitu sebab ia tak bisa hidup tanpa Pria. Terkadang kedua jenis manusia ini ada yang memilih untuk tidak hidup berdampingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua jenis manusia tersebut terkadang menjadi satu dalam jalinan kasih, tapi tak sedikit pula berpisah karena perbedaan prinsip dan keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pertanyaan dalam setiap hati Pria: Siapakah Wanitamu? Ada Pria yang menjawab, “Wanitaku adalah yang cantik dan selalu mengerti aku.” Namun ada juga yang mengatakan, “Wanitaku adalah istriku di Surga kelak.” Pun ada Pria yang bersuara, “Wanitaku adalah malaikat yang selalu ada dalam setiap suka dan dukaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam benak Wanita yang mendambakan Pria akan berpikir, “Priaku adalah pahlawanku.” Ada juga yang berkata, “Priaku adalah ia yang aku damba selalu di hatiku.” Pun ada yang mengatakan, “Priaku, ia mengajariku segla yang belum aku ketahui dalam hidupku. Ia pembimbingku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria dan Wanita tercipta dari sari pati tanah. Keduanya bakal kembali ke tanah. Pria yang hidup dengan logika dan Wanita dengan naluri adalah keserasian yang Tuhan ciptakan dan sebuah mahakarya sempurna dalam penciptaan makhluk hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Tuhan, atas terciptanya kami, terlahirnya kami di Dunia dan di masa depan diberi kesempatan untuk kembali berjumpa denganMu kembali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-1921046945839574184?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/1921046945839574184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=1921046945839574184' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/1921046945839574184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/1921046945839574184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2010/02/manusia.html' title='Manusia'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-3078384678949709856</id><published>2009-11-24T21:15:00.000-08:00</published><updated>2009-11-24T21:22:19.670-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Televisi'/><title type='text'>Realitas Terbalik Kotak Ajaib: Seragam dan Tidak Bergizi</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kotak ajaib (baca: televisi) di era informasi di Indonesia seperti sekarang ini telah banyak dan sedang menyajikan banyak pilihan tayangan. Setelah di penghujung dekade 1980-an, stasiun televisi tidak hanya ada TVRI, masyarakat mempunyai alternatif tayangan dari RCTI yang saat itu memulai siarannnya dengan menggunakan dekoder bagi masyarakat yang ingin melihat tayangan stasiun baru tersebut. Tapi timbul pertanyaan, apakah dengan banyaknya televisi seperti saat ini justru pemirsa memiliki alternatif tayangan? Tapi benarkah seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita cermati televisi siaran nasional, sepertinya kita bakalan mendapat tayangan yang seragam. Tak ada pilihan bagi pemirsa untuk mendapatkan tayangan yang lebih bergizi daripada tayangan yang kini banyak ditayangkan, terlebih pada jam-jam prime time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinetron bertebaran di hampir semua stasiun, film televisi (FTV) merambah semua segmen program, tak terkecuali yang satu ini: reality show. Dan yang yang tidak mau ketinggalan infotainmen yang menebar informasi (baca: bukan berita) para selebritis hingga mereka seperti dikuliti kehidupannya sampai tak memiliki privasi dan tempat bersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ditayangkan oleh televisi ini bila kita cermati justru berbanding terbalik dengan realitas. Sinetron yang selalu disajikan dengan gemerlap kemewahan propertinya mencoba membuai penontonnya dengan mimpi yang jauh dari apa yang mereka rasakan di dunia nyata. Bahkan tayangan ini memiliki imej atau identik bahwa penontonnya adalah kaum hawa yang gampang dikuras emosinya dengan tayangan yang menyita waktu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berbeda dengan sinetron, FTV isinya hanya percintaan dan hanya seputaran itu. Program yang ditayang sekali tamat itu menyajikan hanya kemasan yang ada di sinetron menjadi lebih padat semata. Bahkan ada FTV yang sukses kemudian dijadikan sinetron dengan berjilid episode. Atau kalau di sinetron, ada yang dijadikan film layar lebar karena kesuksesannya di layar kaca kotak ajaib tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program lainnya, perilaku sama ditunjukkan sitkom (komedi situasi). Sukses, maka dibuatkan pula versi layar lebarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda lagi dengan reality show yang dikemas dengan berbagai paket. Orang seperti tidak malu lagi bila persoalan pribadinya diketahui oleh khalayak ramai. Bahkan bisa dikatakan mereka (para pelaku) ini berlomba-lomba untuk tampil di depan kamera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam reality show, siapapun di dunia ini seperti dapat tersaji segar di layar kaca, setiap hari. Ada seorang gadis yang menyelidiki pacaranya apakah ada main dengan perempuan lain, istri yang memata-matai kegiatan suaminya karena perubahan sikapnya, ada pula remaja yang melakukan penyelidikan dengan mengintai kegiatan sahabatnya. Di dalamnya pun terkadang ada aksi saling memaki, berteriak, bahkan baku hantam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua dikemas seperti sebuah sandiwara yang layaknya seperti sebuah kejadian nyata (realitas). Walaupun sebenarnya, kejadian seperti itu bisa saja terjadi di sekitar kita. Sehingga reality (kenyataan) hanya sebuah pertunjukan (baca: show) dan show hanya sebuah virtualitas (virtuality) yang tersaji di televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemirsa dibuat tak berkutik dengan tayangan tersebut. Pindah kanal atau saluran televisi yang tayang sama saja di kotak ajaib itu. Bila satu stasiun sukses dengan sebuah programnya, stasiun televisi lainnya langsung gerak cepat melakukan tayangan serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, kita diberi sajian acara musik setiap pagi hingga menjelang tengah hari. Tak ada alternatif, semua penampilan penyanyi dan band di suatu tempat tertentu yang dipadati oleh penonton sehingga membuat seolah-olah acara tersebut meriah. Tak sedikit penonton yang hadir adalah bayaran. Penampilan selebritis yang hanya lipsing, walau ada juga yang dikemas seperti karaoke dengan hanya suara vokalisnya saja yang tampil live, tak sedikit pula yang berani tampil full live band. Semua mengisi seperempat hari itu dengan acara serupa di beberapa kanal televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Iklan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Tayangan yang satu ini (iklan) seperti mau mengubah apa yang sudah ada dan melekat pada pemirsanya, dalam hal ini citra perempuan dalam tampilan fisik. Dan tak berbeda dengan tayangan non-komersial atau program yang disajikan televisi, menjungkir balikkan realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari kulit perempuan yang cantik itu harus putih dari sebuah tayangan pemutih kulit yang datangnya dari berbagai merek terkenal. Hanya dengan tujuh hari pemakaian, maka penggunanya akan mendapatkan kulit putih yang cantik. Iming-iming yang membuai dan membius. Hal serupa juga terjadi dalam iklan sabun mandi, bahwa putih adalah indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan cantik dalam tayangan iklan selalu diidentikkan dengan tubuh yang langsing, tinggi dan berat badan yang proposional serta kulit putih tanpa cacat. Selain itu, berarti jelek atau buruk rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tayangan iklan seragam, tidak menyajikan alternatif. Lebih ekstrem, menyesatkan. Kulit hitam atau gelap berarti jelek. Tubuh gendut berarti tak enak dipandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal bila kita melihat di dunia realitas, cantik sebenarnya bukan sekadar keindahan tubuh maupun sensualitas yang melekat. Walau tidak memiliki kulit putih, seorang perempuan dapat terlihat cantik dengan kepandaiannya saat bertutur dan wawasan yang dimiliki. Jadi sekali lagi, cantik adalah dalam diri (inner beauty), bukan hanya tampak secara tersurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencitraan badaniah yang melekat pada iklan adalah simbol untuk menggiring penontonnya mengikuti imej yang ditunjukkan oleh tampilan lenggak-lenggok model. Memang pada dasarnya, iklan di televisi dibuat untuk membuat pemirsanya berbondong-bondong menggunakan produk komersial yang tersaji. Tapi terkadang apa yang ditampilkan terkadang terlalu berlebihan atau bahasa gaulnya, lebay, alih-alih omong kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pernah suatu produk pembasmi serangga (obat nyamuk semprot), akhirnya ditarik peredarannya karena menggunakan zat berbahaya karena penggunaannya mengganggu sistem pernapasan, sehingga jatuh korban. Walaupun, lagi-lagi merek tersebut muncul lagi dengan imej baru dengan iklan yang menyebutkan produknya aman bagi kesehatan, walau klaim yang serupa pernah didengungkan sebelum kasus penarikan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana tayangan televisi ini seharusnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan kotak ajaib harus sehat dan bermanfaat, terlebih bagi anak-anak yang masih belajar dalam penangkapan makna yang tersaji dan logika berpikir yang masih terus mengalami perkembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendampingan orangtua atau orang terdekat saat menonton televisi, bagi anak memberikan kesempatan untuk dapat berpikir. Dengan diskusi tentang apa yang ditontonnya sehingga dapat membedakan mana realitas dan hanya khayalan belaka. Mana perilaku yang dapat ditiru menjadi panutan dan mana yang tidak layak dicontoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton televisi bagi anak adalah makanan psikis. Maka itu bila makanan yang tidak bergizi langsung ditelan maka dapat membuat pertumbuhan mental dan psikologis anak menjadi terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak sekadar tayangan televisi yang tadi disebutkan, masih banyak jenis tayangan yang perlu anak dilakukan pendampingan saat menonton. Masa depan anak yang bertumbuh dengan baik adalah juga demi masa depan bangsa ini untuk melahirkan generasi bangsa yang mampu memajukan negara yang kini tengah mengalami perbaikan di berbagai bidang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana sikap Anda sebagai pemirsa televisi? Andalah yang memegang remote!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis anggota Forum Kajian Radio, Televisi dan Film (FKRTF), tinggal di Depok&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-3078384678949709856?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/3078384678949709856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=3078384678949709856' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/3078384678949709856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/3078384678949709856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/11/realitas-terbalik-kotak-ajaib-seragam.html' title='Realitas Terbalik Kotak Ajaib: Seragam dan Tidak Bergizi'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-3502273009136686321</id><published>2009-08-26T05:29:00.000-07:00</published><updated>2009-08-26T05:31:03.869-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sains'/><title type='text'>Awas, bakteri Salmonella*</title><content type='html'>Hati-hati, bila bakteri Salmonella jumlahnya berlebihan di dalam tubuh Anda. Pasalnya, bakteri jenis ini dapat mengancam jiwa penderitanya dan menyebabkan infeksi bila bakteri berkembang hingga 100.000. Penderita infeksi Salmonella yang sudah terlalu banyak mengeluarkan cairan dapat terancam jiwanya akibat kekurangan cairan (dehidrasi) yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini akan lebih berbahaya lagi bila anak-anak atau orang tua yang daya tahan tubuhnya lemah. Bila sudah nampak tanda-tanda keracunan Salmonella penderita harus segera dibawa ke dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat menghindari penularan infeksi bakteri ini, sisa kotoran, urin atau muntahan penderita harus dibuang dengan hati-hati. Sebab dari sinilah penularan dapat terjadi.&lt;br /&gt;Sedangkan sisa makanan yang diduga menyebabkan infeksi harus segera dibuang dan jangan sampai bercampur dengan makanan lain. Piring, pisau maupun alat dapur lain yang tersentuh makanan yang diduga mengandung Salmonella harus segera dicuci dengan air panas atau direbus agar bakteri mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salmonella adalah bakteri yang termasuk mikroorganisme yang amat kecil dan tidak terlihat mata. Selain itu, bakteri ini tidak meninggalkan bau maupun rasa apapun pada makanan. Kecuali jika bahan makanan (daging ayam) mengandung Salmonella dalam jumlah besar, barulah terjadi perubahan warna dan bau (merah muda pucat sampai kehijauan, berbau busuk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya bakteri dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium. Salmonella bisa terdapat di udara, air, tanah, sisa kotoran manusia maupun hewan atau makanan hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber bakteri Salmonella biasanya terdapat pada unggas (ayam, bebek, kalkun), daging babi, binatang laut, telur dan susu. Bahan makanan hewani yang paling sering berperan sebagai sumber penularan Salmonella adalah unggas. Unggas yang terinfeksi Salmonella bisa menyebarkan bibit bakteri melalui daging, telur baik pada kulit maupun isi telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di Jerman, daging atau susu boleh dikatakan sudah bebas Salmonella. Tetapi hal ini tidak berlaku bagi unggas atau telur. Sering sekali terjadi adalah keracunan Salmonella dari makanan yang mengandung telur mentah (tidak diolah), seperti mayonaise, es krim dan puding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila makanan yang mengandung telur mentah tidak disimpan secara baik (tidak didinginkan, sudah disimpan terlalu lama atau tidak dipanaskan sama sekali) besar kemungkinan Salmonella akan berkembang biak dengan pesat. Mayonaise biasanya sudah bersifat asam (pH dibawah 4, Salmonella hidup pada pH 4-9). Pada Mayonaise ditambahkan asam asetat sebagai cuka. Asam asetat pada mayonaise akan membunuh Salmonella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka itu, jagalah higienis dapur saat Anda memasak. Bila mencairkan ayam atau daging beku, segera buang air dan pembungkusnya. Untuk menghindari kontaminasi silang, cuci bersih benda-benda yang terkena air tersebut, seperti pisau, tangan dan alas memotong. Untuk tindak anitipasi, simpan ayam dan daging yang belum beku secara terpisah dari bahan makanan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dirangkum oleh Bahar D.Dirgantara dari:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ryaniehealth.blogspot.com/2007/03/salmonella-bahaya-tak-terlihat.html"&gt;http://ryaniehealth.blogspot.com/2007/03/salmonella-bahaya-tak-terlihat.html&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-3502273009136686321?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/3502273009136686321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=3502273009136686321' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/3502273009136686321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/3502273009136686321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/08/awas-bakteri-salmonella.html' title='Awas, bakteri Salmonella*'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-1426329460976482407</id><published>2009-08-05T08:01:00.000-07:00</published><updated>2009-08-05T08:19:37.061-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memoar'/><title type='text'>Mbah Surip, Sang Fenomenal</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEPOK, 5/8/2009—Kematian Mbah Surip, Sang Fenomenal, Selasa (4/8/2009) sungguh mengejutkan blantika musik Indonesia. Di tengah populernya lagu Tak Gendong yang banyak diperdengarkan di berbagai media elektronik dari radio, televisi hingga nada panggil justru Sang Khalik memanggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Tonny Q, sahabat dan musisi reggae, kemunculan Mbah Surip seperti membawa angin segar bagi dunia musik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagu Mbah Surip hadir di tengah-tengah budaya musik pop yang demikian menjamur di Indonesia. Kemunculannya juga tepat, karena lagu yang dibawakannya mucul di tengah kejemuan masyarakat terhadap musik yang selama ini mereka dengar,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Yuni dari Surabaya Community mengatakan Mbah Surip itu memiliki kepribadian yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbah Surip itu menarik. Sekitar 5 tahun lalu ia sudah terlibat di Surabaya Community, di mana saat itu kami sering berkumpul di Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta. Ia juga mengatakan di saat pertemuan kita di TIM ini bahwa setiap di Surabaya Community, ia akan selalu membawakan lagu Tak Gendong,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, Rizal, juga dari Surabaya Cummunity mengatakan semboyan komunitas ini Seduluran Sampe Mate (baca: Persaudaraan Sampai Mati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak didirikan, Surabaya Community memiliki semboyan Seduluran Sampe Mate dan Mbah Surip ini merupakan anggota kami yang seperti itu,” terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Menjiplak’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mengenai lagu Mbah Surip, Tak Gendong yang dinilai menjiplak lagu Billy Vaugh yang meninggal dunia tahun 1991, berjudul Rauchy (rilis 1957), Tonny Q mengomentari hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak membela atau membenarkan, paling tidak dari sebuah perjalanan Mbah Surip, ia pasti banyak mendengar banyak lagu. Kita juga nggak tahu sebanyak apa koleksi kasetnya saat ia muda. Lagi pula hanya beberapa saja not yang mirip dengan lagu Rauchy dan itu tak bisa dikatakan menjiplak. Apalagi kunci nada musik, kan, terbatas. Kemiripannya hanya pengulangan dan bukan semua notasin,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Adit, Produser Musik dari Falcon Record, yang mengorbitkan Mbah Surip tidak mengetahui apakah lagu Tak Gendong menjiplak atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami sebenarnya tidak mengetahui lagu tersebut (baca: Tak Gendong) menjiplak dari mana. Yang jelas lagu tersebut pertama kali saya dengar adalah sebuah lagu jenaka, lagu reggae yang liriknya sangat komunikatif. Dari tempo berbeda karena lagu itu (baca: Rauchy) cepat, sedangkan Tak Gendong lagu reggae. Memang ada kemiripan (dari birama),” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Royalti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengenai seberapa banyak kekayaan Mbah Surip, Tonny Q mencoba menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua hari sebelum meninggal saat ketemu kita sempat ngobrol di Bulungan (Jakarta Selatan). Saya juga bercanda tanya hal itu (kekayaannya) dan dia menjawab juga sambil bercanda bahwa nanti bila ada uangnya nanti ia akan belikan helikopter satu-satu buat temen-temen. Dari situ sebenarnya saya sudah tahu. Ia ada curhat juga bahwa sebenarnya hidup punya duit dan tidak menurutnya sama saja,” kisahnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adit, sang produser juga berkomentar mengenai berapa perkiraan royalti penyanyi fenomenal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang perlu saya klarifikasi dari RBT (ring back tone) adalah dari beberapa provider, Mbah Surip ada di peringkat pertama dengan jumlah 70.000, terus dari provider lain 60.000.kita akumulasi sekitar ratusan ribu, bisa saja 1 juta. Bila dari 8 provider, masing-masing 70.000 hingga 100.000 pelanggan RBT maka hanya sejumlah 800.000,” katanya berasumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga jika diasumsikan satu RBT royaltinya Rp 1.000 maka yang Mbah Surip dapat hanya sekitar Rp 800 juta, tidak sampai angka miliar. ”Jadi angka tersebut dapat dari mana, datanya hingga miliaran rupiah, apalagi setiap hari terus bertambah,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Proyek&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengenai rencana proyek untuk Mbah Surip adalah membuat video klip. “Kami sebenarnya berencana besok (Kamis, 6/8/2009) akan membuat video klip Bangun Tidur, tapi batal. Karena Mbah Surip sudah mendahului (baca: almarhum) kita pikirkan lagi langkah ke depannya,” kata Adit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tambahnya, Mbah Surip juga akan dibuatkan filmnya. “Kita juga sudah berbicara dengannya untuk membuat film. Untuk itu kita sudah siapkan anggarannya, begitu juga sutradaranya telah menyiapkan konsepnya. Namun lagi-lagi harus batal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk langkah ke depan mengenai apa yang menjadi hak Mbah Surip akan tetap dipikirkan dan diklarifikasikan (baca: hitung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi langkah ke depan coba kita maksimalkan saja yang ada ini, semoga yang ditinggalkan Mbah Surip itu bisa mendapatkan manfaatnya. Itupun juga nanti akan kita klarifikasi dengan keluarganya supaya tidak ada input (persmasalahan) yang terlalu berlebihan. Kasian Mbah Surip-nya kalo gitu, dimana ia belum tahu berapa jumlahnya, namun diluaran sudah heboh,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis wartawan, tinggal di Depok&lt;br /&gt;Dirangkum dari Suara Anda, MetroTV (Rabu, 5/8/2009) dan disunting penulis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-1426329460976482407?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/1426329460976482407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=1426329460976482407' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/1426329460976482407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/1426329460976482407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/08/mbah-surip-sang-fenomenal.html' title='Mbah Surip, Sang Fenomenal'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-4150811789902557234</id><published>2009-06-17T05:32:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T05:35:28.801-07:00</updated><title type='text'>Festival Depok 2009</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tenda pameran Festival Depok rubuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahar D. Dirgantara*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BALAIKOTA DEPOK, 15/6/2009—Hujan deras yang mengguyur Kota Depok, kemarin sore, membuat tenda pameran Festival Depok 2009 rubuh karena kurang kuatnya tenda menampung derasnya air yang menggenang di atapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pemantauan Monde tenda yang rubuh dengan kondisi parah ada pada sisi depan stand Kecamatan Sukmajaya. Terlihat rangka penyangga tenda tak mampu menopang bobot di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika penulis menyusuri tenda stand kecamatan, ditemui seorang ibu yang masih berada di stan pameran Kecamatan Pancoran Mas. Ibu tersebut sedang membereskan barang-barang pameran yang dipajang. “Wah, saya musti angkutin barang dan buru-buru, nih, takut ketiban tenda,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta pameran dari berbagai stand terlihat mengevakuasi produk pamerannya agar tak terkena tetesan air, seperti buku-buku yang dipamerkan oleh Gramedia yang tampak ditumpuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penjaga stand Book Cafe Zoe, Dian memaparkan kronologi kejadian rubuhnya tenda pameran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hujan yang tiba-tiba deras (kemarin) sore, tiba-tiba ada dekat satu tiang tenda yang atapnya bocor. Tapi belum ada penanganan dari panitia sampai akhirnya bocornya makin parah, lalu rubuh di bagian belakang. Atas kejadian tersebut panitia baru bertindak melakukan penanganan” paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu para peserta pameran, terang Dian, dihimbau paanitia untuk mengepak barang-barang. “Kami diminta untuk memindahkan buku-buku ke tempat yang aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dari stand Honda, Asmad kejadian ini merupakan gejala alam. “Tapi alangkah baiknya panitia penyelenggara dapat melakukan antisipasi sebelum menggelar acara pameran Festival Depok ini. Artinya dengan tenda-tenda yang memadai tidak mungkin terjadi kebocoran seperti saat ini,” keluhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humas Festival Depok, Andree menyebutkan kejadian ini di luar kendali manusia. “Sebelumnya kami sudah melakukan antisipasi dengan mengevakuasi orang, lalu sebagian barang-barang yang bisa segera dipindahkan. Kami selaku panitia meminta maaf pada seluruh peserta stand atas kejadian ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas kejadian ini, lanjutnya, panitia akan membangun ulang tenda yang rubuh sehingga besok (hari ini) sudah dapat digunakan. “Ini dapat kami jadikan pelajaran agar kejadian serupa terulang lagi dalam pameran festival ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai ganti rugi dari barang-barang pameran yang rusak terkena air belum dibicarakan lebih lanjut dengan peserta pameran.  “Nanti akan kami bicarakan dengan para peserta yang bersangkutan tepatnya berapa totalnya. Untuk sekarang hanay informasi ini yang dapat kami berikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah stand yang ada di Festival Depok jumlahnya 160 buah dengan bujet setiap stand antara Rp2 juta hingga Rp6 juta. Stand yang rusak tertimpa tenda salah satunya Dinas Pendidikan Kota Depok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Wartawan, tinggal di Depok.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-4150811789902557234?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/4150811789902557234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=4150811789902557234' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/4150811789902557234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/4150811789902557234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/06/festival-depok-2009_17.html' title='Festival Depok 2009'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-2927872393532520272</id><published>2009-06-17T05:22:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T05:30:12.561-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reportase'/><title type='text'>Mobil Pintar</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kampanyekan minat baca pada anak&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bahar D. Dirgantara*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BALAIKOTA DEPOK, 14/6/2009—Mobil Pintar Polda Metro Jaya, kemarin, hadir dalam Festival Depok. Mobil tersebut mengkampanyekan minat baca kepada anak-anak. Mobil yang merupakan perpustakaan jalan ini juga menjadi salah satu program polisi untuk mengkampanyekan anti narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu Sie Sentra Mobil Pintar Aiptu Wani menyebutkan ini selain untuk meningkatkan minat baca anak, juga untuk meningkatkan kreatifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mobil pintar ini tersedia berbagai macam bacaan dari dongeng, kesehatan hingga sains. Tak lupa juga kami memberikan penjelasan mengenai bahaya narkoba dengan mengadakan buku dengan tema tersebut,” paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran pembaca, lanjutnya, adalah anak usia 14-16 tahun. “Terutama sebagai titik beratnya pada hal yang menyangkut kamtibmas seperti penyuluhan narkoba, penculikan terhadap anak dan pelecehan seksual,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Waka Rumah Pintar Cendekia I, Iptu Ina mengatakan program ini mendapat dukungan dinas terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dinas tersebut ikut menyebarkan informasi adanya Rumah Pintar dan Mobil Pintar, sehingga kami terbantu,” singkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Rumah Pintar tersebut terdiri dari 7 sentra yaitu baca, audio-visual, komputer, psikologi kesehatan, bermain, kriya (ketrampilan) untuk ibu, dan outbond.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Operasionalnya tiap Selasa hingga Minggu, pukul 9:00-16:00, pengunjung tidak dipungut bayaran. Bila ada rombongan maupun komunitas yang ingin berkunjung dapat menghubungi kami terlebih dahulu, sehingga nanti dapat kami jadwalkan kapan bisa berkunjungannya,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Wartawan, tinggal di Depok.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-2927872393532520272?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/2927872393532520272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=2927872393532520272' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/2927872393532520272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/2927872393532520272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/06/mobil-pintar.html' title='Mobil Pintar'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-3945551970903086383</id><published>2009-06-17T05:13:00.000-07:00</published><updated>2009-06-29T09:50:10.410-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reportase'/><title type='text'>Festival Depok 2009</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mobil mungil Panmas ikut pawai&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bahar D. Dirgantara*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARGONDA, 14/6/2009—Saat mentari mulai memberkaskan cahayanya di langit berawan Jl Kartini Raya,  Kelurahan Depok, Pancoran Mas (Panmas) para staf kelurahan dan kecamatan mulai bersiap untuk menuju tempat start pawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun saling berkoordinasi satu sama lain melalui telepon genggam untuk menghubungi siapa saja yang belum hadir dan perlengkapan apa yang belum tiba di tempat berkumpulnya mereka di depan Kantor Kelurahan Depok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 7:00 rombongan Kecamatan Panmas mulai merayap menuju tempat start. Ketika Panmas tiba di lokasi start pawai yang berlokasi di gerbang Perumahan Pesona Khayangan sudah tampak hiruk pikuk peserta dari dinas-dinas tingkat kota dan 5 kecamatan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pawai ini Panmas mengusung tajuk Melalui Festival Kota Depok Kita Kembangkan Hasil Tani dan Seni Budaya Asli Depok yang tertulis di bentangan spanduk. Di barisan pertama pawai tersebut tampak Camat Panmas Raden Sudrajat yang diapit oleh Danramil Kapten M. Hairi dan Kapolsek AKP Gusti Ayu Supiati, tepat di belakang spanduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pawai ini Panmas, a.l terbagi rombongan kecil staf kecamatan dan kelurahan, guru, posbindu, drum band, dan delman. Namun dari semua itu ada yang unik, yaitu mobil mungil dari Kelurahan Panmas yang dihias atasnya dengan buah belimbing ukuran besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara udara yang tak begitu terik, kemarin,  membuat warga yang kebetulan berada di sekitar lokasi melintasnya rombongan pawai Panmas di Jl Margonda Raya dengan antusias menonton rombongan kecamatan ini. Bahkan ada juga warga yang melambaikan tangan dan menyapa lurah yang dikenalnya, serta tak lupa berfoto pose di dekat delman saat pawai berhenti sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai pawai, Camat Panmas Raden Sudradjat menuturkan peserta yang ikut rombongan berjumlah sekitar 600 orang. “Alhamdulillah, cukup antusias juga mereka yang menonton, apalagi melihat jumlah rombongan kami sebanyak itu. Apalagi dapat dikatakan lebih dari 50% khas Kota Depok yaitu buah belimbing ada di wilayah Panmas,” singkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya Sekretaris Camat Miral Hayadi di kantor kecamatan menyampaikan pawai saat ini kelurahan dinilai makin antusias menonjolkan keunggulan wilayahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap kelurahan memiliki ciri khas dan hal tersebut yang bakal makin ditonjolkan di pawai kali ini. Karena banyak produk lokal dari Kecamatan Panmas ini. Pawai ini juga sebagai media promosi untuk memperkenalkan kekhasan yang kami miliki kepada masyarakat Depok,” terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Wartawan, tinggal di Depok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peserta Pawai Festival Depok 2009&lt;br /&gt;Kecamatan Pancoran Mas&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Staf Kecamatan dan Kelurahan&lt;br /&gt;Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM)&lt;br /&gt;Tim Penggerak PKK&lt;br /&gt;Forum Komunikasi Kader Posbindu (FKKP)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Marching Band&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Qasidah&lt;br /&gt;Marawis&lt;br /&gt;Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)&lt;br /&gt;Perwakilan RT/RW&lt;br /&gt;Kelompok Keroncong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?cropsuccess&amp;id=1476916438#/album.php?aid=24760&amp;id=1476916438"&gt;Foto-foto terkait.&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-3945551970903086383?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/3945551970903086383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=3945551970903086383' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/3945551970903086383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/3945551970903086383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/06/festival-depok-2009.html' title='Festival Depok 2009'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-309802443191216349</id><published>2009-06-09T17:20:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T05:28:45.918-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reportase'/><title type='text'>Halun ke-13</title><content type='html'>‘Lansia tetap eksis’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahar D. Dirgantra*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BALAIKOTA DEPOK, 4/6/2009—Hari lanjut usia nasional (Halun) ke-13 diselenggarakan di Balaikota Depok, kemarin berlangsung cukup meriah. Lansia masih memiliki daya guna walaupun usianya tak lagi muda lagi dan eksis dalm kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketua Lembaga Lansia Indonesia (LLI) Kota Depok, Puriyati Kasmadi masih berdaya guna. “Lansia ini masih tetap eksis dan berkualitas menjalani hidupnya, juga mandiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berharap, tambahnya, jangan menganggap lansia lemah. “Dengan aktifnya lansia melakukan kegiatan sehingga lansia  tidak diremehkan. Tapi untuk itu dari diri sendiri yang harus mendukung, selain dukungan dari pamerintah dan lembaga lainnya,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia penyelenggara Halun kali ini dari Kecamatan Beji. “Kami selalu melakukan pergiliran panitia dalam menyelenggarakan Halun ini. Halun kali ini adalah untuk yang kedua kalinya kami selenggarakan,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lomba&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dewan Juri MTQ lansia, Dedi Suhardi mengatakan masyarakat yang sudah lansia memiliki keinginan untuk bisa baca Qur’an. “Sebagai hakim, melihat lansia sangat antusias dalam lomba ini. Jumlah pesertanya ada 24 orang, setiap kecamatan diwakili oleh 4 warga lansianya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga berharap sebelum pelaksanaan tingkat Kota Depok ini dilakukan seleksi di tingkat kecamatan sehingga mereka yang menjuarai tingkat kecamatan dapat dikirm ke tingkat Kota ini. “Adanya seleksi akan lebih memudahkan penjurian di tingkat Kota,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang lomba tumpeng pada Halun kali ini adalah dari Kecamatan Sukmajaya. Ny Budi Utama sering memenangkan lomba tumpeng ini. “Rekan sesama lansia sudah tidak heran saya juara tumpeng, bisa dikatakan saya rutin menjadi juara. Kata mereka tumpeng yang saya buat enak rasanya,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran LLI Sukmajaya, menurutnya cukup aktif. “LLI di Kecamatan Sukmajaya aktif bergiat. Kegiatan terakhir syukuran dan tumpengan saat pergantian periode pimpinan LLI Sukmajaya yang terpilih lagi,” kata Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Wartawan, tinggal di Depok&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-309802443191216349?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/309802443191216349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=309802443191216349' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/309802443191216349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/309802443191216349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/06/halun-ke-13.html' title='Halun ke-13'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-167579727171748326</id><published>2009-06-09T17:19:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T17:20:01.264-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reportase'/><title type='text'>Lansia Panmas kreatif</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANMAS, 30/5/2009—Ada-ada saja cara lansia dalam memaknai hari lansia ke-13 yang digelar di Kelurahan Pancoran Mas (Panmas), Sabtu (30/5). Mereka seperti menjelma menjadi remaja kembali, walau usia rata-rata mereka di atas 60 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara tersebut RW 017 menampilkan aksi teatrikal dengan diiringi lagu campusari yang membuat hadirin terhibur dengan tingkah polah mereka. Suasana dalam acara tersebut terjalin hangat sejak dimulainya acara. Sebelumnya, sebagai pembuka acara kader FKKP menyanyikan Mars Lansia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga diperingati hari jadi Forum Kajian Kader Posbindo (FKKP) setempat yang ke-1. Acara yang dihelat oleh FKKP dan P2KP (kini PNPM-MP) bertajuk Kita Tingkatkan Kreativitas dan Kepedulian Kader Posbindu Terhadap Lansia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Tim Penggerak PKK Kota Depok Lin Sumarto mengatakan lansia tetap berdaya guna bagi diri dan keluarga. “Untuk itu agar tidak berkesan lansia itu lemah dan loyo. Jadi dengan kegiatan yang dilakukan kader FKKP, dapat mendayagunakan lansia di Panmas ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Asmadi yang telah meneliti lansia di Panmas selama setahun menyebutkan lansia harus menjadi panutan. “Bila perlu sebelum lansia meninggalkan kita, korek dahulu semua pengalamannya. Tulis semua, catat pengalaman mereka karena berguna bagi pemuda untuk bahan pembelajaran,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga memaparkan hasil penelitian soal lansia dengan melakukan praktek. “Ada banyak suka dan duka saat bersama keluarga dan kader.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal di Panmas ini. Pertama, sudah terbentuk 20 Posbindu di 20 RW. Rencananya, pada Juni pertengahan akan ada launching Posbindu di RW 013. Kedua, pelatihan kader, sangat penting untuk mempersiapkan dalam upaya mempertahankan kesehatan lansia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terbatasnya tenaga di Puskesmas, bukan berarti kesehatan lansia tidak terpantau. Maka itu diperlukannya peran serta masyarakat secara aktif melalui kader Posbindu,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga melakukan pelatihan penanganan terhadap lansia selama 3 pekan. “Untuk memiliki kemampuan pelayanan yang baik terhadap lansia maka diadakanlah pelatihan selama 3 minggu kepada kader Posbindu,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua Posbindu mendapatkan pelatihan ini. “Tapi setidaknya Posbindu yang telah mendapatkan pelatihan dapat menyebarkan ilmunya kepada Posbinidu dalam forum pertemuan di FKKP, juga dengan keluarga yang terdapat lansia sebagai anggota keluarganya,” pungkas Asmadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Wartawan, tinggal di Depok&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-167579727171748326?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/167579727171748326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=167579727171748326' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/167579727171748326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/167579727171748326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/06/lansia-panmas-kreatif.html' title='Lansia Panmas kreatif'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-1091599266403466973</id><published>2009-06-09T17:18:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T17:19:06.182-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reportase'/><title type='text'>PERGERI gelar seminar demensia</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RS HERMINA, 27/5/2009—Perhimpunan Gerontologi Indonesia (PERGERI) cabang Kota Depok menggelar Seminar Demensia (Kepikunan) pada Lansia di RS Hermina, Kelurahan Depok, Pancoran Mas, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam seminar tersebut, Dr. Hardhi Pranata, Sp.S, MARS bahwa banyak orang mengatakan semakin tua orang semakin matanglah dia. “Tetapi sapai berapakah orang dikatakan matang, atau mungkin kelewat matang. Sebab sesuatu yang berlebihan tentu akan membawa dampak tertentu,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, menua itu merupakan proses alami , namun laju dan dampaknya berbeda-beda antara individu satu dengan lainnya. “Salah satu yang sering dijumpai ialah menurunnya daya ingat tau kecerdasan, yang lebih dikenal dengan nama pikun atau demensia,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah pikun telah dikenal sejak lama dalam percakapan sehari-hari sering mucul ada istilah yang bersifat egatif atau ejekan. “Semoga dengan mengenal pikun kita tidak ikut-ikutan terjerumus ke dalam pikun, tetapi justru dapat menhindari atau mencegahnya,” tutur Hardhi.&lt;br /&gt;Pikun ada dua. Pikun yang sulit untuk disembuhkan adalah alzeimer yang ditemukan oleh Dr. Alois Alzeimer tahun 1906 saat mengamati seorang pria 51 tahun yang makin lama daya ingatnya menurun hingga lupa segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pikun yang dapat diobati salah satunya tumor otak. Terutama di bagian depan atau sisi kiri otak. Keluhan utama adalah gangguan daya ingat dan kecerdasan. Bila tumor semakin luas, penderita tidak dapat mengerti pembicaraan maupun mengekspresikan isi pikirannya lewat kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pemeriksaan demensia pada lansia, Dr. Diah Herawati, Sp.S menyebutkan memori atau pengetahuan dasar individu dapat terpelihara sepanjang usia. “Namun pemasukan informasi dapat menurun. Kemampuan memori pada usia 75 tahun menurun 25%,” terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pemeriksaan bahasa pada usia menua lebih baik kondisinya. “Tetapi faktor sensoris seperti pendengaran yang berkurang dapat menyebabkan gangguan kelancaran berbahasa,” paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan atas pengidap demensia ini agar dilakukan persiapan terlebih dahulu. “Evaluasi kesiapan terhadap responden (pasien) terhadap pemeriksaan dengan memberi tahu tujuan dan jenis pemeriksaan. Hasil pemeriksaan dirahasiakan demi menjaga perasaan pasien selama pemeriksaan jika digunakan sebagai penelitian,” tutur Diah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Wartawan, tinggal di Depok&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-1091599266403466973?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/1091599266403466973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=1091599266403466973' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/1091599266403466973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/1091599266403466973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/06/pergeri-gelar-seminar-demensia.html' title='PERGERI gelar seminar demensia'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-3958118335499762338</id><published>2009-06-09T17:16:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T17:17:05.262-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reportase'/><title type='text'>Hari Bakti Dokter Indonesia</title><content type='html'>IDI Depok gelar seminar untuk awam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahar D. Dirgantara*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RS HERMINA, 23/5/2009—Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Depok menggelar Seminar Sehari untuk Awam di RS Hermina.Depok, Sabtu (23/5). Tema yang diangkat dalam makalah ialah Nyeri Sendi, Nyeri Otot dan Kesemutan yang disampaikan oleh Dr. Sasmoyohati, SpS (K) dan Penyakit Kencing Manis oleh Dr. Darmawan Wicaksono, Sp. PD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan baik aktual maupun potensial atau yang digambarkan dalm bentuk kerusakan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Sas (sapaan akrab Sasmoyohati) menerangkan nyeri tidak mengenal umur. “Karena nyeri merupakan keluhan yang paling banyak membawa pasien berobat ke dokter dan juga keluhan yang sulit ditangani sebab respon individu terhadap nyeri berbeda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya nyeri terbagi menjadi tiga, yaitu tingkat sederhana, nosiseptik dan neuropatik. “Pertama nyeri sedarhana, di mana tidak terdapat kerusakan jaringan. Contohnya seperti kena beda tajam, kita dapat langsung menariknya. Sedangkan kedua adalah nyeri nosiseptik, di mana kerusakan jaringan nyata atau tampak oleh mata. Ini terjadi karena ada yang terganggu dalam tubuh kita,” paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, nyeri neuroptik. Nyeri ini timbul karena kerusakan syaraf tepi atau pusat, terjadi karena penekanan maupun metabolik seperti diabetes dan penyakit ginjal. Ciri-ciri rasa nyeri ini seperti terbakar, ditikam atau tersengat listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena setiap orang berbeda responnya atas nyeri, Dr. Sas menyarankan agar penderita memeriksakan dengan segera. “Nyeri itu perlu penanganan segera.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai penyakit kencing manis (diabetes melitus/DM) yang merupakan penyakit metabolik menahun yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi normal.&lt;br /&gt;Dr. Darmawan memberikan penjelasan tentang DM. “Bila hadirin ada yang saat malam hari pipis sampai 5 kali, itu merupakan gejala DM. Juga seperti kaki terasa kesemutan, gatal-gatal penglihatan kabur, dan lesu atau lemah,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga menerangkan bahwa penderita penyakit tersebut memproduksi banyak darah, jaringan tubuh tak mampu meyerapnya. “Percuma saja tubuh kita ini memproduksi glukosa (gula darah) banyak, tapi tubuh tak mampu menyerapnya,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga menerangkan mengenai penanganan penderita DM dalam operasi. “Tindakan operasi khususnya dengan anestesi (pembiusan) umum. Persiapannya dengan menghindari puasa terlalu lama, sehingga dianjurkan operasi sepagi mungkin waktunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pasien DM, tambahnya, yang sudah terkontrol dengan obat hipoglikemik oral (obat penurun kadar glukosa), bila perlu untuk sementara diganti dengan insulin jangka pendek. “Bagi pasien yang belum terkntrol DM-nya, obat diganti dengan insulin yang sampai tercapai sasaran penderita,” sebutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca operasi, pemberian insulin dilanjutkan sampai kondisi umum pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Wartawan, tinggal di Depok&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-3958118335499762338?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/3958118335499762338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=3958118335499762338' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/3958118335499762338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/3958118335499762338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/06/hari-bakti-dokter-indonesia.html' title='Hari Bakti Dokter Indonesia'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-601440416188924083</id><published>2009-05-25T17:57:00.000-07:00</published><updated>2009-05-25T18:22:08.535-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reportase'/><title type='text'>Selamat tinggal Melvin</title><content type='html'>Depok Berkabung (2/2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Depok korban Hercules tiba&lt;br /&gt;Dimakamkan dengan upacara militer&lt;br /&gt;Bahar D. Dirgantara*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEPOK JAYA, 22/5/2009—Sekitar pukul 9:00 di rumah duka Mayor Lek (Elektro) Melvin bin H. Ardjulis, ST, Jl Pipit II No. 138, Depok Jaya, Pancoran Mas, telah berkumpul sanak keluarga dan tetangga korban, juga dari Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) TNI Angkatan Udara (AU) Halim Perdanakusuma telah berada di sana. Sementara pemakaman Melvin bakal dilaksanakan dengan upacara militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melvin merupakan salah satu korban jatuhnya Pesawat Hercules jenis pesawat angkut C-130 Hercules Alpha 1325 yang jatuh di Kabupaten Magetan, Madiun, Jawa Timur, Rabu (20/5/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Melvin menunggu dengan penuh rasa cemas atas kedatangan jenazah. Paman korban, Herman Marzuki mengatakan, “Ada dua kemungkinan kapan (Alm) Melvin dimakamkan. Bila waktu mencukupi akan segera kami makamkan sebelum shalat Jum’at. Namun jika waktu tak memungkinkan segera dimakamkan maka kami keluarga akan melaksanakannya setelah Jum’atan,” terangnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keterangan sumber dari Angkatan Udara, jenazahnya baru berangkat dari Madiun sekitar pukul 8:20 dan baru akan tiba di rumah duka 2 jam berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di lokasi warga sekitar sudah mulai banyak berkumpul di pinggir jalan raya depan rumah duka, di mana Melvin akan disemayamkan. Ketika jam menunjukkan pukul 9:00 melalui pengumuman, jenazah Melvin telah tiba di Landasan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pengumuman tersebut, sontak Kohanudnas mengadakan persiapan sebelum jenazah tiba di lokasi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jenazah tiba&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saat jam menunjukkan pukul 10:19, di kejauhan motor besar pengawal jenazah nampak terlihat. Iring-iringan yang mendampingi mobil jenazah Melvin mulai mendekat. Istri Melvin, Desi Indriyani dan Jasmine (anaknya), nampak duduk di kursi depan mobil jenazah suaminya dari Halim. Saat mobil itu berhenti, peti jenazah pun diangkat oleh 6 perwira dari TNI AU menuju rumah duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jasad Melvin memasuki rumah duka, terdengar derai tangis dan histeris keluarga korban. Ini membuat kita yang mendengarkannya, turut merasakan kesedihan yang mereka rasakan atas kepergian pria kelahiran Padang, 8 Nopember 1971 yang telah dikaruniai serang putri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunda Melvin, Aisyah, terlihat tak hentinya mengeluarkan air mata. Sedangkan ayahnya, H. Ardjulis, nampak dibantu berdiri saat akan mendekati peti jenazah anaknya yang baru sampai itu. Tak ketinggalan sang isteri beberapa kali memandangi foto suaminya yang telah tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desi di sela-sela banyak orang memberikan ucapan duka pada dirinya dan keluarganya menyempatkan diri untuk diwawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ke TKP (tempat kejadian perkara) jatuhnya pesawat di Madiun, ada mobil ambulans keluar. Saya pikir almarhum (suami saya), ternyata bukan jenazah seorang wanita,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun meminta supaya evakuasi tetap dilakukan karena jenazah Melvin masih belum dievakuasi. “Karena suami saya tertimpa patahan pesawat dari pinggang ke bawah dengan ketebalan sampai 2,5 meter. Alat yang digunakan untuk evakuasi sempat mengalami masalah, saat memotong patahan sayap itu. Sehingga mencari bantuan alat dari Basarnas (Badan SAR Nasional) setempat,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keterangan Desi, Melvin tidak langsung tanah. “Almarhum ada di puing-puing. Ciri khususnya adalah pernah operasi appendix, usus buntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga, tambahnya, keluarga sempat kirimkan ijazah yang ada cap jempol dan e-mail foto yang kelihatan gigi, tapi ternyata tak dibutuhkan. “Karena saya mampu mengenali suami saya sebab dibahunya masih utuh tanda pangkatnya dan kesatuan. KTA (Kartu Tanda Anggota) pun juga di card pack dalam dompetnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pemerintah harus perhatian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Desi ikhlas dengan apa yang menimpa suaminya. Namum bila kecelakaan Hercules terjadi karena soal teknis sebagai pemicu utama seharusnya pemerintah lebih memperhatikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Presiden (SBY) memang pernah mengatakan kekurangan anggaran alusista (alat utama sistem senjata), tapi bila itu pemicu utama beberapa waktu terakhir kecelakaan yang menimpa penerbangan kita. Karena ini juga tidak hanya menimpa militer, tapi juga penerbangan komersil,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya, saran Desi, menjadi prioritas dari penyelenggara negara untuk sistem penerbangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bukan ahlinya dalam bidang (penerbangan) ini, tapi penyelenggara negara, seperti pemerintah dan DPR yang membuat anggaran untuk dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini. Jangan lagi terjadi banyak korban, anak-anak lagi (menjadi) yatim dan piatu... (termasuk Jasmine, anak Desi dan Alm. Melvin),” ujarnya terputus sambil terisak saat memandangi peti jenazah suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Upacara pemakaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemakaman Melvin dilakukan upacara militer di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, usai dishalatkan di Masjid Jami’ Darul Mutaqin dekat rumah duka sekitar pukul 12:30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara tersebut dipimpin oleh inspektur upacara Kolonel Lek Amiruddin Latif, jabatan Asisten Komlek (Komando Elektro) Kosek (Komando Sektor) IV Biak, Papua, yang dimulai sekitar pukul 13:45.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga jalan darma bakti yang ditempuhnya dapat menjadi suri tauladan kita semua dan arwahnya diterima di tempat yang semestinya di alam baka,” kata Kolonel dalam upacara yang disebut Apel Persada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga menyampaikan bahwa musibah ini mengejutkan dan menyedihkan. “Tapi Tuhan menghendaki demikian, kita harus menerima dengan ikhlas. Walau demikian, tentu tak luput dari rasa duka atas kepergian almarhum. Semoga keluarga diberikan ketabahan dan bimbuingan Tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upacara tersebut Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU Para Komando 461 melakukan tembakan ke udara yang disebut salvo yang merupakan salah satu rangkaian upacara pemakaman militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana upacara pemakaman juga diselimuti haru oleh hadirin yang datang. Usai upacara seorang perempuan yang ikut hadir jatuh lemas karena panasnya sengatan matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayor Lek Melvin, NRP 524248, jabatan terakhir Kasie Operasi Kosek TNI AU IV Biak, Papua. Meninggal dunia demi kepentingan negara dan keluhuran negara pada tanggal 20 Mei 2009 karena dinas. Ia memiliki bintang jasa Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis Blog Managing Editor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya...&lt;br /&gt;&lt;a href="http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/05/melvin-belum-teridentifikasi.html"&gt;Melvin belum teridentifikasi&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-601440416188924083?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/601440416188924083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=601440416188924083' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/601440416188924083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/601440416188924083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/05/selamat-tinggal-melvin.html' title='Selamat tinggal Melvin'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-626660239807583514</id><published>2009-05-25T17:56:00.000-07:00</published><updated>2009-05-25T18:18:44.716-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reportase'/><title type='text'>Melvin belum teridentifikasi</title><content type='html'>Depok Berkabung (1/2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Depok korban jatuhnya Hercules&lt;br /&gt;Melvin masih belum teridentifikasi&lt;br /&gt;Bahar D. Dirgantara*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEPOK JAYA, 21/5/2009—Sebuah pesawat angkut jenis C-130 Hercules Alpha 1325 yang jatuh di Kabupaten Magetan, Madiun, Jawa Timur, Rabu (20/5/2009) pagi telah menimbulkan tanda tanya besar terhadap keluarga korban yang bernama Mayor Lek (Elektro) Melvin, ST karena hingga kemarin (20/5/2009) dari kesatuan TNI AU. Korban bertugas sebagai Kasie Komando Operasi Sektor (Kosek) IV Pertahanan Udara Biak, Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ibu korban, Aisyah (63), Melvin berangkat dari rumah, Rabu pagi. “Melvin diantar ke bandara Halim (Perdanakusuma) oleh kakaknya dari rumah sampai ia tinggal landas. Jadi tidak mungkin tak masuk pesawat,” kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masuk TNI, tambahnya, saat banyak para aparat TNI dipensiunkan pada tahun 1998. “Dia masuk tentara setelah kerusuhan 1998 lalu. Awalnya dia hanya coba-coba saja mendaftar menjadi anggota, namun lama kelamaan ia mulai bangga profesinya itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah menggambarkan bahwa anaknya itu memiliki sifat pendiam dan tak banyak omong. “Ia tak banyak omong, pendiam orangnya. Mengenai pesan terakhir dia sebelum berangkat sepertinya tidak ada. Tapi saat ia berangkat ia lupa memakai jam tangan dan cincin pernikahannya,” tutur ibu pensiunan PNS ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada kakak Melvin yang mengantarnya ke Halim, Melvin sempat berpesan mengenai jamnya yang lupa dipakainya saat berangkat.“Ambil saja jam saya, pakai saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah juga melarang Melvin untuk segera kembali ke Biak. “Saya minta ia liburan saja di rumah. Nanti berangkatnya naik pesawat komersil, tapi dia menolaknya. Melvin pernah mengungkapkan ke saya bahwa dirinya akan mencoba untuk minta dipindahkan ke Jakarta agar dekat dengan keluarganya,” paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kapten kapal tanker Deki Mansur, kakak sepupu korban menyebutkan keluarga masih menunggu hasil investigasi yang dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami masih menunggu, karena banyak mayat yang belum teridentifikasi. Kami telah mendapatkan kabar dari petugas penerangan akan hal itui. Tapi saya yakin kalau Melvin menjadi salah satu korban,” tandasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keterangannya, keluarga sudah menyiapkan pemakaman untuk Melvin dan berharap jasadnya dapat segera diketahui sehingga keluarga tidak menjadi resah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deki juga menyebutkan ciri-ciri fisik Melvin yang dapat dengan mudah dikenali. “Ia pernah operasi usus buntu, ada bekasnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melvin menikah dengan Desi Indriani yang berprofesi di sebuah lembaga penyiaran publik dan telah dikaruniai seorang anak bernama Jasmine yang berusia 3 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis Blog Managing Editor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya&lt;a href="http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/05/selamat-tinggal-melvin.html"&gt;&lt;br /&gt;Selamat Tinggal Melvin&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-626660239807583514?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/626660239807583514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=626660239807583514' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/626660239807583514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/626660239807583514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/05/melvin-belum-teridentifikasi.html' title='Melvin belum teridentifikasi'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-8412239171183554201</id><published>2009-02-12T06:39:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T06:41:31.647-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komentar'/><title type='text'>‘Anjing Kumuh’ yang Kaya Mendadak</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slumdog Milionaire baru saja meraih empat gelar di Gloden Globe, terutama Best Picture for Drama/Musical. Film ini mengisahkan tiga orang bocah Muslim di tengah konflik Hindu dan Muslim. Masa kanak-akan mereka sebagai latar dari kehidupan mereka sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di tengah lingkungan yang tak mengenal belas kasihan, apa pun dilakukan untuk bertahan hidup. Salim yang mengawali kehidupan keras ketika mereka bertiga masuk lingkaran sindikat pengemis India, hingga Salim remaja membunuh bos sindikat saat ia bertemu kembali dengannya (setelah ia dan Jamal kabur dari tempat penampungan) ketika memenuhi keinginan adiknya Jamal untuk mencari Latikha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamal, lelaki polos yang menganggap hidup haruslah putih. Setelah melalui berbagai persoalan dari menjadi guide di Taj Mahal sekaligus juru foto,—sedang Salim menjadi penadah sepatu/sandal pengunjung Taj Mahal dan barang-barang curian—Jamal akhirnya menjadi peserta kuis berhadiah total 20 juta rupee setelah ia menjadi OB di manajemen kuis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk putaran pertama ia menang 10 juta rupee. Di sinilah pembukaan film. Ia diinterogasi polisi karena dituduh curang saat menjawab kuis. Ditangkap dengan cara diculik saat selesai dalam kuis putaran pertama. Dia diinterogasi dan disiksa pukulan dan setrum dengan menggantung tubuhnya dengan tangan terikat di atas. Padahal jawaban atas kuis yang dia ikuti berdasarkan kejadian-kejadian selama hidupnya, yang bagi sebagian orang sepele. Namun beruntung bagi Jamal, ia mampu mengingat semua peristiwa itu di saat yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini seperti coba mengambarkan bahwa dunia ini begitu complicated. Danny Boyle sebagai sutradara secara cerdas memilih India sebagai gambaran dunia yang pas. India sebagai salah satu negara terus berkembang, tapi juga sekaligus memiliki masyarakat yang kumuh (slum). Televisi yang menjual mimpi melalui kuisnya digemari massa. Namun ada juga kisah budi pekerti manusia yang pantang menyerah untuk selalu hidup lurus dan akhirnya menuai hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat gelar sepertinya tidak cukup film ini, lima bila ditambah dengan penghargaan People’s Choice di Toronto International Film Festival. Catatan tersendiri bagi film India yang khas dengan tarian dan tabuhan gendang sepertinya tidak hilang di film ini. Tarian yang muncul di akhir film sebagai closing nampaknya menunjukkan ruh sinema Bollywood walaupun major label-nya Hollywood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah penikmat film alternatif dan festival, juga anggota Forum Kajian Radio Televisi dan Film, tinggal di Depok.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-8412239171183554201?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/8412239171183554201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=8412239171183554201' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/8412239171183554201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/8412239171183554201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/02/anjing-kumuh-yang-kaya-mendadak.html' title='‘Anjing Kumuh’ yang Kaya Mendadak'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-8140094774027536044</id><published>2009-02-06T19:50:00.000-08:00</published><updated>2009-02-06T19:51:58.757-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reportase'/><title type='text'>Commercial Yourself, a Hex!</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia media massa Indenesia mendapatkan momentumnya pada tahun 1998, ketika kran kebebasan pers dalam perizinan penerbitan media massa, khususnya cetak begitu mudah didapat. Merebak bak jamur yang hidup dalam kelembaban. Banyak hal yang kita tak ketahui membuat kita terkadang tergeleng dengan pemberitaan yang dimuat. Ada yang bilang kebebasan pers sudah kebablasan, namun saya menilainya sebagai tanda bahwa pers Indonesia sedang belajar dengan kebebasan baru setelah dicengkeram selama puluhan tahun. Belajar di era informasi dan berita begitu deras datang ke meja redaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah pers Indonesia diawali secara resmi pada masa kolonial Belanda tahun 1744 dengan Bataviasche Nouvelles dan pers Melayu-Tionghoa dengan Li Po.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Edisi Suratkabar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan pers kita hingga saat ini dirasa cukup menggembirakan, walau mereka yang mendaftarkan diri pada tahun 1998 lambat laun berguguran satu persatu. Hal ini sungguh disayangkan. Kategori suratkabar merah (SKM) dengan berita sensasional dan heboh cenderung diminati golongan kelas buruh dan mudah dijumpai di sudut-sudut berbagai tempat karena kemudahan dalam mencerna berita dengan bahasa sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konten dari SKM pun beragam. Dari berita heboh tadi hingga “iklan gratis” tentang seseorang yang mencantumkan nomor ponsel mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sumber saya, “Iklan tersebut apa bisa disebut iklan, mengingat ketidak jelasan konteks mereka mengiklankan diri.” Masih menurutnya bahwa isi yang seperti butuh “teman curhat”, “teman setia”, sampai “cari jodoh yang mapan dan kaya” sungguh seperti menunjukkan ketidak pahaman mereka apa guna media, begitu pula media yang memuat hal ini. Jika mereka (pengiklan) ini paham dan serius, tentunya mereka yang “mencari jodoh” dan “teman setia” bakal menuju ke biro jodoh resmi atau setidaknya mendaftarkan ke media seperti Kompas yang cukup terpercaya, dan media sejenisnya yang membuka iklan biro jodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan seperti ini bagi mereka (pembaca) yang kurang mengerti dapat saja tertipu dengan pengiklan itu. Tapi berdasarkan investigasi yang dilakukan ada juga nilai positif bagi mereka dan pembaca yang menjalin kontak, seperti pertemanan dan persahabatan, atau bisa jadi ketemu jodoh yang pas alias cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicermati pula, pembaca juga harus berhati-hati untuk tidak menghamburkan pulsa demi iseng-iseng ini. Bijaklah menggunakan pulsa Anda, seperti diungkap iklan-iklan layanan dalam tanda petik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkah polah pengiklan ini: ada yang minta selalu dihubungi, minta pulsa dan seterusnya. Motif pengiklan, seperti tidak mau kecewa di kemudian hari, ingin mendapatkan orang yang bukan main-main dalam menjalin hubungan, juga saat nanti kopi darat sesuai dengan imajinasi saat on the line.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, sebagai pembaca suratkabar yang meneliti tingkah pengiklan dan berhubungan secara on the line dengan mereka melalui internet cukup beragam. Dari yang “dobel” mengaku lajang, butuh teman curhat karena sering dilecehkan secara seksual, diputuskan kekasih sebab berbeda prinsip dengan keluarga besar kekasih, dan masih banyak lagi. Dari hal yang lucu-lucu sampai hal yang buat kita semua jengkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Edisi Televisi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja namanya Etha (19), tinggal di seputar timur Jakarta. Mengaku bermukim di daerah “slum”, memiliki keluarga yang besar maksudnya satu atap anggota keluarganya lebih dari lima orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya Etha coba dihubungi melalui SMS sempat agak kesal dengan perilaku orang iseng. Yah, ini bisa saja akibat mengiklankan nomornya di O Chat—sebuah tayangan interaktif dari O Channel berformat chatting di televisi. Walaupun stasiun teve itu tak bertanggung jawab atas pencatuman nomor telepon pengguna interaktif itu. Memang tak ada aturan yang jelas mengenai pencantuman nomor pribadi di sebuah media massa, terlebih itu sebagai keinginan pribadi si pemilik telepon. Jadi, yang menanggung konsekuensinya adalah si pemilik nomor telepon itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada Etha. Setelah kesal dengan SMS yang dikirim dengan nada lucu, mungkin menyindir, SMS selanjutnya bernada serius. Lalu, Etha mulai merespons secara terbuka. Pembicaraan boleh dibilang serius, maksudnya layaknya sebuah pembicaraan normal dengan saling mengenal kondisi masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sama saja dengan pemilik nomor telepon yang mengiklankan diri dan nomornya itu, umur dari nomor telepon itu hanya seumur jagung. Ada kesimpulan yang dapat ditarik di sini: orang tersebut merasa terganggu dengan banyaknya telepon dan/atau SMS yang masuk, bosan iseng-iseng dengan “pekerjaan” iklannya itu, sudah menemukan teman sejatinya, atau lebih ekstrem lagi-mendapatkan mangsa yang “gurih”. Harap dicerna dengan pikiran terbuka segala kemungkinan itu. Bila pun ada yang berkeberatan dengan kesimpulan tersebut, penulis membuka e-mail-nya untuk mendapatkan jawaban yang jujur dari pelaku iklan diri dan nomor telepon. Walau penulis tak begitu mengharapkan apakah kejujuran yang diungkap nantinya 100%  benar. Kita tunggu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etha adalah satu dari sekian contoh yang dapat saya ambil dari sekian subyek yang diteliti. Namun angka 75% menunjukkan ke arah nomor telepon yang seumur jagung, selebihnya masih ada yang aktif dan tidak ada respons lebih lanjut. Sedang O Channel sebagai sampel diambil karena tayangan interaktif chat lebih menarik di antara media televisi yang menyelenggarakan program yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk media suratkabar, saya mengambil sampel SK Harian Nonstop sebab sering menayangkan “iklan” tersebut di tiap edisinya. Subyek-subyek yang diteliti sengaja tidak disebutkan dalam uraian pembahasan di atas. Pastinya, kecenderungan nomor telepon seumur jagung sama dengan bahasan di media televisi. Sisanya, 20.5% telepon tak ada respons lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis juga ingin berbagi dengan pembaca blog ini sehingga isu kita ini lebih interaktif. Silakan berkomentar secara bebas dan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelusuran saya tentang hal ini belum selesai. Mungkin masih ada episode-episode lain dari “perilaku” pengiklan diri di media ini. Kita tunggu saja apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mengamati “pengiklan diri” dengan pencatuman nomor telepon.&lt;br /&gt;bahar_dirgantara@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-8140094774027536044?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/8140094774027536044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=8140094774027536044' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/8140094774027536044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/8140094774027536044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/02/commercial-yourself-hex.html' title='Commercial Yourself, a Hex!'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-1510951300584989594</id><published>2009-01-28T08:18:00.000-08:00</published><updated>2009-01-28T08:32:10.828-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sains'/><title type='text'>Krakatau Purba 535 AD: "A Super Colossal Eruption"</title><content type='html'>Awang Harun Satyana*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin 27 Agustus 1883 pukul 10.00 WIB adalah saat terakhir penduduk di sekitar Selat Sunda melihat Matahari tengah naik ke puncaknya. Setengah jam kemudian, mereka meregang nyawa diseret gelombang laut setinggi sampai 40 meter…. Jumlah seluruhnya 36.417 orang berasal dari 295 kampung di kawasan pantai Banten dan Lampung. Keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, penduduk sejauh sampai Jakarta dan Lampung tak melihat lagi Matahari, gelap gulita. Apa yang terjadi di hari yang seperti kiamat itu adalah letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara letusannya terdengar sampai sejauh 4600 km dan di dengar di kawasan seluas 1/8 permukaan Bumi. Telah banyak tulisan dan film di seluruh dunia dibuat tentang kedahsyatan letusan Krakatau ini. University of North Dakota, Volcanic Explosivity Index (VEI) mencantumkan dua gunung api di seluruh dunia yang letusannya paling hebat dalam sejarah moderen : Krakatau 1883 (VEI : 6) dan Tambora 1815 (VEI : 7). Dua-duanya ada di Indonesia, tak jauh dari kita. Semoga kita, bangsa Indonesia, terlebih yang menamakan dirinya geologist, mengenal dengan baik dua gunung api ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tetapi, banyak dokumen menunjukkan bahwa Krakatau 1883 bukanlah satu-satunya letusan dahsyatnya. Sebelumnya, masih di Krakatau juga, ada letusannya yang kelihatannya jauh lebih dahsyat lagi daripada letusan 1883, yang terjadi pada masa sejarah, pada masa kerajaan-kerajaan Hindu pertama di Indonesia tahun 400-an atau 500-an AD (Anno Domini, Masehi). Tentu saja letusan ini tak banyak ditulis apalagi difilmkan sebab pengetahuan kita tentangnya masih samar-samar, walaupun nyata. Adalah B.G. Escher (1919, 1948) yang berdasarkan penyelidikannya dan penyelidikan Verbeek (1885), dua-duanya adalah ahli geologi Belanda yang lama bekerja di Indonesia –yang menyusun sejarah letusan Krakatau sejak zaman sejarah–moderen. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat ini, di Selat Sunda ada Gunung Anak Krakatau (lahir Desember 1927,  44 tahun setelah letusan Krakatau 1883 terjadi), yang dikelilingi tiga pulau: Sertung (Verlaten Eiland, Escher 1919), Rakata Kecil (Lang Eiland, Escher, 1919) dan Rakata. Berdasarkan penelitian geologi, ketiga pulau ini adalah tepi-tepi kawah/kaldera hasil letusan Gunung Krakatau (Purba, 400-an/500-an AD). Escher kemudian melakukan rekonstruksi berdasarkan penelitian geologi batuan-batuan di ketiga pulau itu dan  karakteristik letusan Krakatau 1883, maka keluarlah evolusi erupsi Krakatau yang menakjubkan (skema evolusi Krakatau dari Escher ini bisa dilihat di buku van Bemmelen, 1949, 1972, atau di semua buku moderen tentang Krakatau).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B.G. Escher berkisah, dulu ada sebuah gunung api besar di tengah Selat Sunda, kita namakan saja KRAKATAU PURBA yang disusun oleh batuan andesitik. Lalu, gunung api ini meletus hebat (Kapan? Ada dokumen-dokumen sejarah tentang ini, ditulis di bawah) dan membuat kawah yang besar di Selat Sunda yang tepi-tepinya menjadi pulau Sertung, Rakata Kecil dan Rakata. Lalu sebuah kerucut gunung api tumbuh berasal dari pinggir kawah dari pulau Rakata, sebut saja gunung api Rakata, terbuat dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunung api muncul di tengah kawah, bernama gunung api Danan dan gunung api Perbuwatan. Kedua gunung api ini kemudian menyatu dengan gunung api di Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut KRAKATAU. Tahun 1680, gunung Krakatau meletus menghasilkan lava andesitik asam. Tanggal 20 Mei 1883, setelah 200 tahun tertidur, sebuah erupsi besar terjadi, dan terus-menerus sampai puncak erupsi terjadi antara 26-28 Agustus 1883 (Inilah letusan Krakatau 1883 yang terkenal itu). Erupsi ini telah melemparkan 18 km3 batu apung dan abu vulkanik. Gunung api Danan dan Perbuwatan hilang karena erupsi dan runtuh, dan setengah kerucut gunung api Rakata hilang karena runtuh, membuat cekungan kaldera selebar 7 km sedalam 250 meter. Desember 1927, ANAK KRAKATAU muncul di tengah-tengah kaldera.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seberapa besar dan kapan erupsi KRAKATAU PURBA terjadi? Inilah tujuan utama tulisan saya kali ini. Tulisan-tulisan yang berhasil dikumpulkan (buku-buku dan paper-paper lepas) menunjuk ke dua angka tahun: 416 AD atau 535 AD. Angka 416 AD adalah berasal dari sebuah teks Jawa kuno berjudul ”Pustaka Raja Purwa” yang bila diterjemahkan bertuliskan: ”Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada goncangan Bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Lalu datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula. Ketika air menenggelamkannya, Pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatra.” Di tempat lain, seorang bishop Siria, John dari Efesus, menulis sebuah chronicle di antara tahun 535-536 AD, “Ada tanda-tanda dari Matahari, tanda-tanda yang belum pernah dilihat atau dilaporkan sebelumnya. Matahari menjadi gelap, dan kegelapannya berlangsung sampai 18 bulan. Setiap harinya hanya terlihat selama empat jam, itu pun samar-samar. Setiap orang mengatakan, “Matahari tak akan pernah mendapatkan terangnya lagi.” Dokumen di Dinasti Cina mencatat: ”Suara guntur yang sangat keras terdengar ribuan mil jauhnya ke baratdaya Cina”. (Semua kutipan diambil dari buku Keys, 1999: Catastrophe: A Quest for the Origins of the Modern Worls, Ballentine Books, New York).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Itu catatan-catatan dokumen sejarah yang bisa benar atau diragukan. Tetapi, penelitian selanjutnya menemukan banyak jejak-jejak ion belerang yang berasal dari asam belerang vulkanik di temukan di contoh-contoh batuan inti (core) di lapisan es Antarktika dan Greenland, ketika ditera umurnya: 535-540 AD. Jejak-jejak belerang vulkanik tersebar ke kedua belahan Bumi: selatan dan utara.  Dari mana lagi kalau bukan berasal dari sebuah gunung api di wilayah Equator? Kumpul-kumpul data, sana-sini, maka semua data menunjuk ke satu titik di Selat Sunda: Krakatau! Adalah letusan KRAKATAU PURBA penyebab semua itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Letusan KRAKATAU PURBA begitu dahsyat, sehingga dituduh sebagai penyebab semua abad kegelapan di dunia. Penyakit sampar Bubonic (Bubonic plague) terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini secara signifikan telah mengurangi jumlah penduduk di seluruh dunia. Kota-kota super dunia segera berakhir, abad kejayaan Persia purba berakhir, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Bizantium terjadi, peradaban South Arabian selesai, berakhirnya rival Katholik terbesar (Arian Christianity), runtuhnya peradaban-peradaban purba di Dunia baru–berakhirnya negara metropolis Teotihuacan, punahnya kota besar Maya Tikal, dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Kata Keys (1999), semua peristiwa abad kegelapan dunia ini terjadi karena bencana alam yang maha besar, yang sangat mengurangi cahaya dan panas Matahari selama 18 bulan, menyebabkan iklim global mendingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K. Wohletz, seorang ahli vulkanologi di Los Alamos National Laboratory, mendukung penelitian David Keys, melalui serangkaian simulasi erupsi KRAKATAU PURBA yang terjadi pada abad keenam Masehi tersebut. Artikelnya (Wohletz, 2000: Were the Dark Ages Triggered by Volcano-Related Climate Changes in the Sixth Century?–If So, Was Krakatau Volcano the Culprit? EOS Trans American Geophys Union 48/81, F1305) menunjukkan simulasi betapa dahsyatnya erupsi ini. Inilah beberapa petikannya. Erupsi sebesar itu telah melontarkan 200 km3 magma (bandingkan dengan Krakatau 1883 yang 18 km3), membuat kawah 40-60 km, letusan hebat terjadi selama 34 jam, tetapi terus terjadi selama 10 hari dengan mass discharge 1 miliar kg/detik. Eruption plume telah membentuk perisai di atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur 5-10 derajat selama 10-20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, Escher dan Verbeek menyelidiki ada erupsi Krakatau Purba;  dokumen-dokumen sejarah dari Indonesia (Pustaka Raja), Siria, dan Cina mencatat sebuah bencana yang sangat dahsyat terjadi di abad 5 atau 6 Masehi; ice cores di Antarktika dan Greenland mencatat jejak-jejak ion sulfate vulkanik dengan umur 535-540 AD, peristiwa2 Abad Kegelapan di seluruh dunia terjadi pada abad ke-6, dan simulasi vulkanologi erupsi Krakatau Purba: semuanya kelihatannya bisa saling mendukung untuk a Super Collosal Eruption of proto-Krakatau 535 AD.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau benar, gunung api itu hanya di Selat Sunda, tak jauh dari kita, semoga kita mengenalnya dengan lebih baik, dan makin banyak ahli, Indonesia yang meneliti serta menuliskannya (sebab kini sedikit sekali bilangan ahli kita yang mempelajari dan menuliskannya, cukup dihitung dengan jari-jari di satu tangan!).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Thursday/Kamis, 22 Jun 2006 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat di-downlod di:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.bughibughi.files.wordpress.com/2007/03/krakatau-purba-535-ad-a-super-collosal-eruption.doc"&gt;http://www.bughibughi.files.wordpress.com/2007/03/krakatau-purba-535-ad-a-super-collosal-eruption.doc&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-1510951300584989594?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/1510951300584989594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=1510951300584989594' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/1510951300584989594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/1510951300584989594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2009/01/krakatau-purba-535-ad-super-colossal.html' title='Krakatau Purba 535 AD: &quot;A Super Colossal Eruption&quot;'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-1752873831766495616</id><published>2008-10-14T08:51:00.000-07:00</published><updated>2008-10-14T08:54:19.356-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Demonstrasi dan Segala Tingkah; Tingkah Intelektual yang Menjemukan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Irga Klan*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun alasannya saya tetap menolak demonstrasi! Menurut saya demonstrasi adalah tindakan yang tidak cerdas.  Menunjukkan manusia sudah tak bisa lagi diajak berkomunikasi; terlebih antara kaum elit dan rakyat, konteks yang sedang kita bicarakan. Rakyat di sini diwakili oleh berbagai macam kepentingan dari organisasi sampai lembaga yang saya melihat hanya mengambil keuntungan atas nama rakyat; melalui demonstrasi. Bah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 24 Juni 2008, kita melihat lagi sebuah aksi demonstrasi di depan Gedung MPR/DPR RI oleh mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya. Demonstrasi demi kepentingan rakyat?! Menolak kenaikan harga BBM, tapi para demonstran justru merugikan rakyat: dari merusak fasilitas mobil dinas Polda yang didapat dari uang rakyat, pagar pembatas jalan tol dirusak dan mereka masuk tol serta meminta para pengguna jalan tol untuk berbalik arah hingga perbuatan bodoh—kita sebut saja begitu—lainnya. Gila!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi intelektual sama saja seperti premanisme, begitu kira-kira ungkapan Rahma Sarita seorang anchor woman dari TV One di news Kabar Sore yang siar pada petang di tanggal yang sama dengan kejadian demonstrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu melihat aksi demonstrasi dengan miris. Tak layak, seorang atau sekelompok manusia melakukan hal yang membuat rugi orang lain. Lihat saja, bila demonstrasi terjadi: jalanan macet (ini pasti, tak terbantahkan), roda perekonomian seakan ikut macet bahkan pasti akses darat terhambat; apapun yang menggunakan jalan dan melintas jalan tersebut dibuat frustasi. Demonstrasi, selama ini selalu menyusahkan orang-orang sekitar. Demonstrasi sebagian besar berakhir rusuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi demonstrasi (juga) tak ubahnya aksi tawuran yang merusak dan mengacaukan segala yang ada dalam sistem negara yang sudah carut-marut ini. “Bubarkan saja negara ini!” ungkap seorang teman saya suatu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ada yang mengatakan bahwa dengan sendirinya negara Republik Indonesia ini bakal bubar, apalagi hutang yang tak terbayar dan hanya membayar bunga hutang setiap APBN-Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang berjalan. Ironis! Lantas para 3 (tiga) pilar: legislatif, eksekutif dan yudikatif; itu apa kerjanya? Dibiayai rakyat malah menyengsarakan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sendiri yang menyumbat akses komunikasi dengan rakyat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demonstrasi adalah bagian demokrasi, begitu kata-kata orang. Demokrasi harusnya membuat orang aman dan nyaman. Eh, kok, malah membuat orang lain dirugikan. Demonstrasi masakan saja tidak pernah merugikan orang lain, malah membuat orang yang ikut dalam demo masak itu menjadi kagum dengan aksi pendemo. Atau para demonstran itu diperintahkan saja untuk belajar dan/atau kursus singkat kepada para pendemo masakan. Hahaha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aksi demonstrasi tidak dihapuskan, menurut saya manusia tak pernah mau belajar. Bahwa apa yang terjadi seharusnya kita mendapat hikmah dan pembelajaran: yang buruk jangan diulang dan yang maju malah ditinggalkan. Dan ini bergantung dari paradigma kritis dari kita sebagai makhluk sosial yang memiliki tujuan hidup yang lebih baik di masa depan daripada kehidupan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konyol-konyolan apa yang membuat para intelektual ini selalu berlaku seenaknya: kali ini di parlemen. Tidak mahasiswa, ya, para elit politik yang selalu mengeruk uang rakyat demi balik modal yang dikeluarkan kala kampanye dahulu, giliran buat onar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah seorang aktivis partai, Wanda Hamidah dari Partai Amanat Nasional (PAN) yang siap dicalonkan ataupun mencalonkan diri sebagai walikota/wakil walikota Tangerang dalam sebuah seminar di kampus InterStudi 24 Mei 2008, mengatakan, “Ketika pendaftaran ada itu Anda harus menyiapkan uang Rp 15 juta.” Sinting! Partai politik hanya ajang mengeruk dana dari anggotanya dan anggotanya setelah duduk sebagai elit melakukan hal serupa, dana rakyat disedot habis-habisan dengan dalih bermacam banyaknya; tugas lapangan, studi banding, apa lagi?! Terkadang saya melihat skeptis apa yang keluar dari (mulut) seorang aktivis partai. Karena apa yang selalu dikatakannya belum pernah ada yang memberikan manfaat secara menyeluruh. Malah apa yang keluar dari mulut mereka tak ubahnya mimpi-mimpi siang bolong, .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut Wanda Hamidah, “Berarti penjaringan (untuk calon walikota/wakil walikota) ini dibuat hanya untuk orang-orang kaya, dong. Kalau daftar saja 15 juta, berarti bisa jadi pemimpin ini sudah suatu, apa ya, nggak bener. Dan saat itu saya menolak untuk mendaftarkan diri.” Ini terjadi di partainya sendiri, tempat ia berafiliasi sekarang. “Rp15 juta itu buat saya bukan sesuatu yang kecil. Apalagi untuk ukuran pendaftaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu tidak membuka peluang kader-kader (lokal/daerah) yang mungkin mereka tak punya uang tapi mau menjadi pemimpin.” Ini mekanisme yang tidak benar, menurutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga yang daftar itu hanya satu-dua orang, dan rata-rata direktur-direktur, yang secara finansial bagi Wanda secara finansial jauh di atas dirinya. Untuk keputusan partai saja diperlukan dana ratusan juta, belum pendanaan kampanye sekitar Rp 1-2 Milyar. Bila uang yang digunakan tidak benar, ketika orang berinvestasi kepadanya tapi mengahrapkan padanya. “Mendingan tidak usah menanamkan uang ke saya kalau Anda berharap nantinya saya terjebak dalam korupsi dan lain-lain,” jelas Wanda yang pernah menjadi anchor news di MetroTV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan para elit pernah melakukan perkelahian antar sesama elit dalam forum. Apa mau ikut-ikutan parlemen di Taiwan dan Korea Selatan yang saling baku hantam? Bodoh sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya menjadi seorang reporter (magang) di Suratkabar Dalog, kebetulan saya sedang meliput di gedung para elit itu sedang rapat (sekitar tahun 2003), saya mendengar celetukan seorang elit yang mengatakan, “Hei dasar Cina!” kira-kira seperti itu kepada Alvin Lie (seorang elit juga). Rasis! Telah merambah dunia elit. Rasialme yang menurut saya dilandasi karena elit tersebut (saya tidak tahu namanya) tidak bisa (baca: kalah) berbicara/argumen. Sebut saja elit tersebut layaknya binatang yang nafsunya sebesar gunung tapi otak di kepalanya tak lebih besar dari upil di hidung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para elit juga bisa disebut bintang bokep (pornografi), begitu ungkap seorang rekan saya. “Bisa jadi ketika di bandara, para petugas bandara melihat ke elit tersebut, ‘ih, ada bintang bokep!’ adalah dapat membuat hukuman bagi elit itu sebab tingkahnya itu telah tersebar di internet yang mendunia.” Najis, perilaku yang mereka pertontonkan. Mereka seharusnya menjadi orang terhormat, namun malah menjadi manusia terlaknat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku intelektual para elit dari korupsi, pornografi-cabul, entah apalagi, yang membuat bangsa ini begitu tercoreng-moreng dengan tingkah mereka. Pakaian mereka necis, tapi otak dan pemikiran mereka licik, lebih licik dari ular paling berbisa sekalipun. Mereka plin-plan! Tak punya tujuan bagi perbaikan bangsa ini, rencana saja tidak punya, bagaimana membuat tujuan ke arah lebih baik. Wah, percuma kita menghabiskan dana demi memilih mereka! Kadang saya ingin selalu menyebut mereka, “Setan-Iblis penghisap bak lintah-pacet yang menyedot darah kita hingga mereka kembung dan kepayahan! Kita dijadikan kurus-kering sehingga menjadi keriput dan yang tersisa hanya kulit dan daging. Hah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kita perlu melakukan aksi membenturkan kepala mereka supaya mereka sadar dari tindakan dan perilakunya yang tak manusiawi. Nurani milik mereka bisa jadi mereka simpan di peti es, sehingga ketika mereka melakukan tugas tak ubahnya seperti binatang melata yang menjulur-julurkan lidahnya dan mengeluarkan liur beracun yang mematikan bila kita menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kata-kata (atau makian, bentakan) apa lagi yang dapat membuat mereka berubah, para kaum intelektual. Janganlah jadi setan-setan dan iblis-iblis bagi diri sendiri dan masyarakat serta bangsa-negara ini! Jika tak sanggup hidup baik lebih baik mati saja, gorok leher Anda sendiri, tikam jantung dan ulu hati Anda sehingga tak lagi membuat jengah orang-orang yang ingn memperbaiki kondisi bangsa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang saja segera kalian ke rahmatullah sehingga kalian dapat segera dicambuk, dicungkil matanya, dipotong telinganya dan diremas-remas hati (nurani) Anda agar dapat merasakan bagaimana sakitnya rakyat saat ini oleh perilaku dan kepongahan Anda semua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada yang merasa tersinggung dengan tulisan ini berarti Anda adalah orang yang disasar oleh saya. Berarti Anda pelaku utama (aktor) kekisruhan bangsa ini. Anda terdakwa dan terpidana yang harus dipenjara di kerak Bumi seumur hidup. Sudah muak kami (rakyat) melihat para kaum intelektual berlaku seperti binatang, bahkan lebih rendah dari itu. Sadar, dong! Apa menunggu sampai Indonesia ini terkubur lumpur panas seperti di Sidoarjo? Mau ada Tsunami jilid 3 (tiga)? Atau gempa-gempa yang merubuhkan segala apa yang ada? Ingat, Tuhan tak memilih-milah untuk menghancurkan apa yang tidak Ia sukai: Anda di jalur kebenaran maupun kejahatan, Anda pasti terkena murkaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat buat Anda yang sudah pada jalur yang benar! Tetaplah menjadi benar, walau Anda disebut aneh dan gila!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berantas kebiadaban dan kejahiliyahan (dari hidup manusia) di muka Bumi ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah pemerhati masalah sosial, tinggal di Depok&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-1752873831766495616?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/1752873831766495616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=1752873831766495616' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/1752873831766495616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/1752873831766495616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/10/demonstrasi-dan-segala-tingkah-tingkah.html' title='Demonstrasi dan Segala Tingkah; Tingkah Intelektual yang Menjemukan'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-1384871800878601211</id><published>2008-10-14T08:44:00.000-07:00</published><updated>2008-10-14T08:50:37.643-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sains'/><title type='text'>ALAM SEMESTA SEBAGAI HOLOGRAM*</title><content type='html'>Pada tahun 1982 terjadi suatu peristiwa yang menarik. Di Universitas Paris, sebuah tim peneliti dipimpin oleh Alain Aspect melakukan suatu eksperimen yang mungkin merupakan eksperimen yang paling penting di abad ke-20. Anda tidak mendapatkannya dalam berita malam. Malah, kecuali Anda biasa membaca jurnal-jurnal ilmiah, Anda mungkin tidak pernah mendengar nama Aspect, sekalipun sementara orang merasa temuannya itu mungkin akan mengubah wajah sains.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspect bersama timnya menemukan bahwa dalam lingkungan tertentu partikel-partikel subatomik, seperti elektron, mampu berkomunikasi dengan seketika satu sama lain tanpa tergantung pada jarak yang memisahkan mereka. Tidak ada bedanya apakah mereka terpisah 10 kaki atau 10 milyar km satu sama lain.&lt;br /&gt;Entah bagaimana, tampaknya setiap partikel selalu tahu apa yang dilakukan oleh partikel lain. Masalah yang ditampilkan oleh temuan ini adalah bahwa hal itu melanggar prinsip Einstein yang telah lama dipegang, yakni bahwa tidak ada komunikasi yang mampu berjalan lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Oleh karena berjalan melebihi kecepatan cahaya berarti menembus dinding waktu, maka prospek yang menakutkan ini menyebabkan sementara ilmuwan fisika mencoba menyusun teori yang dapat menjelaskan temuan Aspect. Namun hal itu juga mengilhami sementara ilmuwan lain untuk menyusun teori yang lebih radikal lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar fisika teoretik dari Universitas London, David Bohm, misalnya, yakin bahwa temuan Aspect menyiratkan bahwa realitas obyektif itu tidak ada; bahwa sekalipun tampaknya pejal [solid], alam semesta ini pada dasarnya merupakan khayalan, suatu hologram raksasa yang terperinci secara sempurna. Untuk memahami mengapa Bohm sampai membuat pernyataan yang mengejutkan ini, pertama-tama kita harus memahami sedikit tentang hologram. Sebuah hologram adalah suatu potret tiga dimensional yang dibuat dengan sinar laser. Untuk membuat hologram, obyek yang akan difoto mula-mula disinari dengan suatu sinar laser. Lalu sinar laser kedua yang dipantulkan dari sinar pertama ditujukan pula kepada obyek tersebut, dan pola interferensi yang terjadi (bidang tempat kedua sinar laser itu bercampur) direkam dalam sebuah pelat foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pelat itu dicuci, gambar terlihat sebagai pusaran-pusaran garis-garis terang dan gelap. Tetapi ketika foto itu disoroti oleh sebuah sinar laser lagi, muncullah gambar tiga dimensional dari obyek semula di situ. Sifat tiga dimensi dari gambar seperti itu bukan satu-satunya sifat yang menarik dari hologram. Jika hologram sebuah bunga mawar dibelah dua dan disoroti oleh sebuah sinar laser, masing-masing belahan itu ternyata masih mengandung gambar mawar itu secara lengkap (tetapi lebih kecil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, jika belahan itu dibelah lagi, masing-masing potongan foto itu ternyata selalu mengandung gambar semula yang lengkap sekalipun lebih kecil. Berbeda dengan foto yang biasa, setiap bagian sebuah hologram mengandung semua informasi yang ada pada hologram secara keseluruhan. Sifat “keseluruhan di dalam setiap bagian” dari sebuah hologram, memberikan kepada kita suatu cara pemahaman yang sama sekali baru terhadap organisasi dan order. Selama sebagian besar sejarahnya, sains Barat bekerja di bawah prinsip yang bias, yakni bahwa cara terbaik untuk memahami fenomena fisikal –baik seekor katak atau sebuah atom– adalah dengan memotong-motongnya dan meneliti bagian-bagiannya. Sebuah hologram mengajarkan bahwa beberapa hal dari alam semesta ini mungkin tidak akan terungkap dengan pendekatan itu. Jika kita mencoba menguraikan sesuatu yang tersusun secara holografik, kita tidak akan mendapatkan bagian-bagian yang membentuknya, melainkan kita akan mendapatkan keutuhan yang lebih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencerahan ini menuntun Bohm untuk memahami secara lain temuan Aspect. Bohm yakin bahwa alasan mengapa partikel-partikel subatomik mampu berhubungan satu sama lain tanpa terpengaruh oleh jarak yang memisahkan mereka adalah bukan karena mereka mengirimkan isyarat misterius bolak-balik di antara satu sama lain, melainkan oleh karena keterpisahan mereka adalah ilusi. Bohm berkilah, bahwa pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, partikel-partikel seperti itu bukanlah entitas-entitas individual, melainkan merupakan perpanjangan [extension] dari sesuatu yang esa dan fundamental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar khalayak lebih mudah membayangkan apa yang dimaksudkannya, Bohm memberikan ilustrasi berikut: Bayangkan sebuah akuarium yang mengandung seekor ikan. Bayangkan juga bahwa Anda tidak dapat melihat akuarium itu secara langsung, dan bahwa pengetahuan Anda tentang akuarium itu beserta apa yang terkandung di dalamnya datang dari dua kamera televisi: yang sebuah ditujukan ke sisi depan akuarium, dan yang lain ditujukan ke sisinya. Ketika Anda menatap kedua layar televisi, Anda mungkin menganggap bahwa ikan yang ada pada masing-masing layar itu adalah dua ikan yang berbeda. Bagaimana pun juga, karena kedua kamera diarahkan dengan sudut yang berbeda, masing-masing gambar ikan itu sedikit berbeda satu sama lain. Tetapi sementara Anda terus memandang kedua ikan itu, akhirnya Anda akan menyadari bahwa ada hubungan tertentu di antara kedua ikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang satu berbelok, yang lain juga membuat gerakan yang berbeda tapi sesuai; jika yang satu menghadap kamera, yang lain menghadap ke suatu sisi. Jika Anda tidak menyadari seluruh situasinya, Anda mungkin menyimpulkan bahwa kedua ikan itu saling berkomunikasi secara seketika, tetapi jelas bukan demikian halnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bohm, inilah sesungguhnya yang terjadi di antara artikel-partikel subatomik dalam eksperimen Aspect itu. Menurut Bohm, hubungan yang tampaknya “lebih cepat dari cahaya” di antara partikel-partikel subatomik sesungguhnya mengatakan kepada kita bahwa ada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, yang selama ini tidak kita kenal, suatu dimensi yang lebih rumit di luar dimensi kita, dimensi yang beranalogi dengan akuarium itu. Tambahnya, kita memandang obyek-obyek seperti partikel-partikel subatomik sebagai terpisah satu sama lain oleh karena kita hanya memandang satu bagian dari realitas sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partikel-partikel seperti itu bukanlah “bagian-bagian” yang terpisah, melainkan faset-faset dari suatu kesatuan (keesaan) yang lebih dalam dan lebih mendasar, yang pada akhirnya bersifat holografik dan tak terbagi-bagi seperti gambar mawar di atas. Dan oleh karena segala sesuatu dalam realitas fisikal terdiri dari apa yang disebut “eidolon-eidolon” ini, maka alam semesta itu sendiri adalah suatu proyeksi, suatu hologram. Di samping hakekatnya yang seperti bayangan, alam semesta itu memiliki sifat-sifat lain yang cukup mengejutkan. Jika keterpisahan yang tampak di antara partikel-partikel subatomik itu ilusif, itu berarti pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam segala sesuatu di alam semesta ini saling berhubungan secara tak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elektron-elektron di dalam atom karbon dalam otak manusia berhubungan dengan partikel-partikel subatomik yang membentuk setiap ikan salem yang berenang, setiap jantung yang berdenyut, dan setiap bintang yang berkilauan di angkasa. Segala sesuatu meresapi segala sesuatu; dan sekalipun sifat manusia selalu mencoba memilah-milah, mengkotak-kotakkan dan membagi-bagi berbagai fenomena di alam semesta, semua pengkotakan itu mau tidak mau adalah artifisial, dan segenap alam semesta ini pada akhirnya merupakan suatu jaringan tanpa jahitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sebuah alam semesta yang holografik, bahkan waktu dan ruang tidak dapat lagi dipandang sebagai sesuatu yang fundamental. Oleh karena konsep-konsep seperti lokasi’ runtuh di dalam suatu alam semesta yang di situ tidak ada lagi sesuatu yang terpisah dari yang lain, maka waktu dan ruang tiga dimensional –seperti gambar-gambar ikan pada layar-layar TV di atas– harus dipandang sebagai proyeksi dari order yang lebih dalam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tingkatan yang lebih dalam, realitas merupakan semacam superhologram yang di situ masa lampau, masa kini, dan masa depan semua ada (berlangsung) secara serentak. Ini mengisyaratkan bawah dengan peralatan yang tepat mungkin di masa depan orang bisa menjangkau ke tingkatan realitas superholografik itu dan mengambil adegan-adegan dari masa lampau yang terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ada lagi yang terkandung dalam superhologram itu merupakan pertanyaan terbuka. Bila diterima –dalam diskusi ini– bahwa superhologram itu merupakan matriks yang melahirkan segala sesuatu dalam alam semesta kita, setidak-tidaknya ia mengandung setiap partikel subatomik yang pernah ada dan akan ada — setiap konfigurasi materi dan energi yang mungkin, dari butiran salju sampai quasar, dari ikan paus biru sampai sinar gamma. Itu bisa dilihat sebagai gudang kosmik dari “segala yang ada”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun Bohm mengakui bahwa kita tidak mempunyai cara untuk mengetahui apa lagi yang tersembunyi di dalam superhologram itu, ia juga mengatakan bahwa kita tidak mempunyai alasan bahwa superhologram itu tidak mengandung apa-apa lagi. Atau, seperti dinyatakannya, mungkin tingkat realitas superholografik itu “sekadar satu tingkatan”, yang di luarnya terletak “perkembangan lebih lanjut yang tak terbatas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bohm bukanlah satu-satunya peneliti yang menemukan bukti-bukti bahwa alam semesta ini merupakan hologram. Dengan bekerja secara independen di bidang penelitian otak, pakar neurofisiologi Karl Pribram dari Universitas Stanford, juga menerima sifat holografik dari realitas. Pribram tertarik kepada model holografik oleh teka-teki bagaimana dan di mana ingatan tersimpan di dalam otak. Selama puluhan tahun berbagai penelitian menunjukkan bahwa alih-alih tersimpan dalam suatu lokasi tertentu, ingatan tersebar di seluruh bagian otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam serangkaian penelitian yang bersejarah pada tahun 1920-an, ilmuwan otak Karl Lashley menemukan bahwa tidak peduli bagian mana dari otak tikus yang diambilnya, ia tidak dapat menghilangkan ingatan untuk melakukan tugas-tugas rumit yang pernah dipelajari tikus itu sebelum dioperasi. Masalahnya ialah tidak seorang pun dapat menjelaskan mekanisme penyimpanan ingatan yang bersifat “semua di dalam setiap bagian” yang aneh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pada tahun 1960-an Pribram membaca konsep holografi dan menyadari bahwa ia telah menemukan penjelasan yang telah lama dicari-cari oleh para ilmuwan otak. Pribram yakin bahwa ingatan terekam bukan di dalam neuron-neuron (sel-sel otak), melainkan di dalam pola-pola impuls saraf yang merambah seluruh otak, seperti pola-pola interferensi sinar laser yang merambah seluruh wilayah pelat film yang mengandung suatu gambar holografik. Dengan kata lain, Pribram yakin bahwa otak itu sendiri merupakan sebuah hologram. Teori Pribram juga menjelaskan bagaimana otak manusia dapat menyimpan begitu banyak ingatan dalam ruang yang begitu kecil. Pernah diperkirakan bahwa otak manusia mempunyai kapasitas mengingat sekitar 10 milyar bit informasi selama masa hidup manusia rata-rata (atau kira-kira sebanyak informasi yang terkandung dalam lima set Encyclopaedia Britannica).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula telah ditemukan bahwa di samping sifat-sifatnya yang lain, hologram mempunyai kapasitas untuk menyimpan informasi — hanya dengan mengubah sudut kedua sinar laser itu jatuh pada permukaan pelat film, dimungkinkan untuk merekam banyak gambar berbeda pada permukaan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah dibuktikan bahwa satu sentimeter kubik pelat film dapat menyimpan sebanyak 10 milyar bit informasi. Kemampuan mengagumkan dari manusia untuk mengambil informasi yang diperlukan dari gudang ingatan yang amat besar itu dapat lebih dipahami jika otak berfungsi menurut prinsip-prinsip holografik. Jika seorang teman minta Anda mengatakan apa yang terlintas dalam pikiran ketika ia menyebut “zebra”, Anda tidak perlu tertatih-tatih melakukan sorting dan mencari dalam suatu file alfabetis raksasa dalam otak untuk sampai kepada suatu jawaban. Alih-alih, berbagai asosiasi seperti “bergaris-garis”, “macam kuda”, dan “binatang dari Afrika” semua muncul di kepala Anda dengan seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, salah satu hal paling mengherankan tentang proses berpikir manusia adalah bahwa setiap butir informasi tampaknya dengan seketika berkorelasi-silang dengan setiap butir informasi lain– ini merupakan sifat intrinsik dari hologram. Oleh karena setiap bagian dari hologram saling berhubungan secara tak terbatas satu sama lain, ini barangkali merupakan contoh terbaik dari alam tentang suatu sistem yang saling berkorelasi. Penyimpanan ingatan bukan satu-satunya teka-teki neurofisiologis yang lebih dapat dijelaskan dengan model otak holografik Pribram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teka-teki lain adalah bagaimana otak mampu menerjemahkan serbuan frekuensi-frekuensi yang diterimanya melalui pancaindra (frekuensi cahaya, frekuensi suara, dan sebagainya) menjadi dunia konkrit dari persepsi manusia. Merekam dan menguraikan kembali frekuensi adalah sifat terunggul dari sebuah hologram. Seperti hologram berfungsi sebagai semacam lensa, alat yang menerjemahkan frekuensi-frekuensi kabur yang tak berarti menjadi suatu gambar yang koheren, Pribram yakin bahwa otak juga merupakan sebuah lensa yang menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk secara matematis mengubah frekuensi-frekuensi yang diterimanya melalui pancaindra menjadi persepsi di dalam batin kita. Sejumlah bukti yang mengesankan mengisyaratkan bahwa otak menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk menjalankan fungsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, teori Pribram makin diterima di kalangan pakar neurofisiologi. Peneliti Argentina-Italia, Hugo Zucarelli, baru-baru ini memperluas model holografik ke dalam fenomena akustik. Menghadapi teka-teki bahwa manusia dapat menetapkan sumber suara tanpa menggerakkan kepalanya, bahkan jika mereka hanya memiliki pendengaran pada satu telinga saja, Zucarelli menemukan prinsip-prinsip holografik dapat menjelaskan kemampuan ini. Zucarelli juga mengembangkan teknologi suara holofonik, suatu teknik perekaman yang mampu mereproduksi suasana akustik dengan realisme yang mengagumkan. Keyakinan Pribram bahwa otak kita secara matematis membangun realitas “keras” dengan mengandalkan diri pada masukan dari suatu domain frekuensi juga telah mendapat dukungan sejumlah eksperimen. Telah ditemukan bahwa masing-masing indra kita peka terhadap suatu bentangan frekuensi yang jauh lebih lebar daripada yang dianggap orang sebelum ini. Misalnya, para peneliti telah menemukan bahwa sistem penglihatan kita peka terhadap frekuensi suara, bahwa indra penciuman kita sebagian bergantung pada apa yang sekarang dinamakan “frekuensi (k)osmik”, dan bahkan sel-sel tubuh kita peka terhadap suatu bentangan luas frekuensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan-temuan seperti itu menandakan bahwa hanya di dalam domain kesadaran holografik saja frekuensi- frekuensi seperti itu dipilah-pilah dan dibagi-bagi menjadi persepsi konvensional. Tetapi aspek yang paling membingungkan dari model otak holografik Pribram adalah apa yang terjadi apabila model itu dipadukan dengan teori Bohm. Oleh karena, bila kekonkritan alam semesta ini hanyalah realitas sekunder dan bahwa apa yang ada “di luar sana” sesungguhnya hanyalah kekaburan frekuensi holografik, dan jika otak juga sebuah hologram dan hanya memilih beberapa saja dari frekuensi-frekuensi yang kabur dan secara matematis mengubahnya menjadi persepsi sensorik, apa jadinya dengan realitas yang obyektif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana, realitas obyektif itu tidak ada lagi. Seperti telah lama dinyatakan oleh agama-agama dari Timur, dunia materi ini adalah Maya, suatu ilusi, dan sekalipun kita mungkin berpikir bahwa kita ini makhluk fisikal yang bergerak di dalam dunia fisikal, ini juga suatu ilusi. Kita ini sebenarnya adalah “pesawat penerima” yang mengambang melalui suatu lautan frekuensi kaleidoskopik, dan apa yang kita ambil dari lautan ini dan terjemahkan menjadi realitas fisikal hanyalah satu channel saja dari sekian banyak yang diambil dari superhologram itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran realitas yang baru dan mengejutkan ini, yakni sintesis antara pandangan Bohm dan Pribram, dinamakan paradigma holografik, dan sekalipun banyak ilmuwan memandangnya secara skeptik, paradigma itu menggairahkan sementara ilmuwan lain. Suatu lingkungan kecil ilmuwan –yang jumlahnya makin bertambah– percaya bahwa paradigma itu merupakan model realitas yang paling akurat yang pernah dicapai sains.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, sementara kalangan percaya bahwa itu dapat memecahkan beberapa misteri yang selama ini belum dapat dijelaskan oleh sains, dan bahkan dapat menegakkan hal-hal paranormal sebagai bagian dari alam. Banyak peneliti, termasuk Bohm dan Pribram, mencatat bahwa banyak fenomena para-psikologis menjadi lebih dapat dipahami dalam kerangka paradigma holografik. Dalam suatu alam semesta yang di situ otak individu sesungguhnya adalah bagian yang tak terbagi dari hologram yang lebih besar dan segala sesuatu saling berhubungan secara tak terbatas, maka telepati mungkin tidak lebih dari sekadar mengakses tingkat holografik itu. Jelas itu jauh lebih mudah dapat memahami bagaimana informasi dapat berpindah dari batin individu A kepada batin individu B yang berjauhan, dan memahami sejumlah teka-teki yang belum terpecahkan dalam psikologi. Khususnya, Grof merasa bahwa paradigma holografik menawarkan model untuk memahami banyak fenomena membingungkan yang dialami orang dalam keadaan “kesadaran yang berubah” [altered states of consciousness].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1950-an, ketika melakukan penelitian terhadap anggapan bahwa LSD adalah alat penyembuhan psikoterapi, Grof mempunyai seorang pasien wanita yang tiba-tiba merasa yakin bahwa dia mempunyai identitas seekor reptil betina prasejarah. Selama halusinasinya, dia tidak hanya menguraikan secara amat mendetail tentang bagaimana rasanya terperangkap dalam wujud seperti itu, melainkan juga mengatakan bahwa bagian anatomi binatang jantan adalah sepetak sisik berwarna pada sisi kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengejutkan Grof ialah bahwa, sekalipun wanita itu sebelumnya tidak mempunyai pengetahuan tentang hal-hal itu, suatu percakapan dengan seorang ahli zoologi belakangan menguatkan bahwa pada beberapa spesies reptilia tertentu bagian-bagian berwarna dari kepala memainkan peran penting untuk membangkitkan birahi. Pengalaman wanita itu bukan sesuatu yang unik. Selama penelitiannya, Grof bertemu dengan pasien-pasien yang mengalami regresi dan mengenali dirinya sebagai salah satu spesies dalam deretan evolusi. Tambahan pula, ia mendapati bahwa pengalaman-pengalaman seperti itu sering kali mengandung informasi zoologis yang jarang diketahui yang belakangan ternyata akurat. Regresi ke dalam dunia binatang bukanlah satu-satunya fenomena psikologis yang menjadi teka-teki yang ditemukan Grof. Ia juga mempunyai pasien-pasien yang tampak dapat memasuki alam bawah sadar kolektif atau rasial. Orang-orang yang tidak terdidik tiba-tiba memberikan gambaran yang terperinci tentang praktek penguburan Zoroaster dan adegan-adegan dari mitologi Hindu. Jenis pengalaman yang lain adalah orang-orang yang memberikan uraian yang meyakinkan tentang perjalanan di luar tubuh, atau melihat sekilas masa depan yang akan terjadi, atau regresi ke dalam inkarnasi dalam salah satu kehidupan lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riset-riset lebih lanjut, Grof menemukan bentangan fenomena yang sama muncul dalam sesi-sesi terapi yang tidak menggunakan obat-obatan [psikotropika]. Oleh karena unsur yang sama dalam pengalaman-pengalaman seperti itu tampaknya adalah diatasinya kesadaran individu yang biasanya dibatasi oleh ego dan/atau dibatasi oleh ruang dan waktu, Grof menyebut fenomena itu sebagai “pengalaman transpersonal”, dan pada akhir tahun 1960-an ia membantu mendirikan cabang psikologi yang disebut “psikologi transpersonal” yang sepenuhnya mengkaji pengalaman-pengalaman seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun perhimpunan yang didirikan oleh Grof, Perhimpunan Psikologi Transpersonal [Association of Transpersonal Psychology], menghimpun sekelompok profesional yang jumlahnya semakin bertambah, dan telah menjadi cabang psikologi yang terhormat [di kalangan sains], selama bertahun-tahun Grof maupun rekan-rekannya tidak dapat memberikan suatu mekanisme yang dapat menjelaskan berbagai fenomena psikologis aneh yang mereka saksikan. Tetapi semua itu berubah dengan lahirnya paradigma holografik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dicatat Grof baru-baru ini, jika batin memang bagian dari suatu kontinuum, suatu labirin yang berhubungan bukan hanya dengan setiap batin lain yang ada dan yang pernah ada, melainkan berhubungan pula dengan setiap atom, organisme, dan wilayah di dalam ruang dan waktu yang luas itu sendiri, maka fakta bahwa batin kadang-kadang bisa menjelajah ke dalam labirin itu dan mengalami hal-hal transpersonal tidak lagi tampak begitu aneh. Paradigma holografik juga mempunyai implikasi bagi sains-sains “keras” seperti biologi. Keith Floyd, seorang psikolog di Virginia Intermont College, mengatakan bahwa jika realitas yang konkrit tidak lebih dari sekadar ilusi holografik, maka tidak benar lagi pernyataan yang mengklaim bahwa otak menghasilkan kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih, justru kesadaranlah yang menciptakan perwujudan dari otak — termasuk juga tubuh dan segala sesuatu di sekitar kita yang kita tafsirkan sebagai fisikal. Pembalikan cara melihat struktur-struktur biologis seperti itu menyebabkan para peneliti mengatakan bahwa ilmu kedokteran dan pemahaman kita mengenai proses penyembuhan juga dapat mengalami transformasi berkat paradigma holografik ini. Jika struktur yang tampaknya fisikal dari badan ini tidak lain daripada proyeksi holografik dari kesadaran, maka jelas bahwa masing-masing dari kita jauh lebih bertanggung-jawab bagi kesehatan diri kita daripada yang dinyatakan oleh pengetahuan kedokteran masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sekarang kita lihat sebagai penyembuhan penyakit yang bersifat “mukjizat” mungkin sesungguhnya disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam kesadaran yang pada gilirannya mempengaruhi perubahan-perubahan dalam hologram badan jasmani. Demikian pula, teknik-teknik penyembuhan baru yang kontroversial, seperti visualisasi, mungkin berhasil baik oleh karena dalam domain pikiran yang holografik gambar-gambar pada akhirnya sama nyatanya dengan “realitas”. Bahkan berbagai vision dan pengalaman yang menyangkut realitas yang “tidak biasa” dapat dijelaskan dengan paradigma holografik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya “Gifts of Unknown Things”, pakar biologi Lyall Watson menceritakan pertemuannya dengan seorang dukun perempuan Indonesia yang dengan melakuan semacam tarian ritual, mampu melenyapkan sekumpulan pepohonan. Watson mengisahkan, sementara ia dan seorang pengamat lain terus memandang perempuan itu dengan takjub, ia membuat pepohonan itu muncul kembali, lalu melenyapkannya dan memunculkannya lagi beberapa kali berturut - turut. Sekalipun pemahaman saintifik masa kini tidak mampu menjelaskan peristiwa-peristiwa seperti itu, berbagai pengalaman seperti ini menjadi lebih mungkin jika realitas “keras” tidak lebih dari sekadar proyeksi holografik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita sepakat tentang apa yang “ada” atau “tidak ada” oleh karena apa yang disebut “realitas konsensus” itu dirumuskan dan disahkan di tingkat bawah sadar manusia, yang di situ semua batin saling berhubungan tanpa terbatas. Jika ini benar, maka ini adalah implikasi paling dalam dari paradigma holografik, oleh karena hal itu berarti bahwa pengalaman-pengalaman sebagaimana dialami oleh Watson adalah tidak lazim hanya oleh karena kita tidak memprogram batin kita dengan kepercayaan-kepercayaan yang membuatnya lazim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam alam semesta yang holografik, tidak ada batas bagaimana kita dapat mengubah bahan-bahan realitas. Yang kita lihat sebagai ‘realitas’ hanyalah sebuah kanvas yang menunggu kita gambari dengan gambar apa pun yang kita inginkan. Segala sesuatu adalah mungkin, mulai dari membengkokkan sendok dengan kekuatan batin sampai peristiwa-peristiwa fantastik yang dialami oleh Castaneda selama pertemuannya dengan dukun Indian. Jadi sebenarnya bahkan sihirpun tidak lebih dan tidak kurang adikodratinya daripada kemampuan kita menghasilkan realitas yang kita inginkan ketika kita bermimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, bahkan paham-paham kita yang paling mendasar tentang realitas patut dipertanyakan, oleh karena di dalam alam semesta holografik, sebagaimana ditunjukkan oleh Pibram, bahkan perisitiwa yang terjadi secara acak [random] harus dilihat sebagai berdasarkan prinsip holografik dan oleh karena itu bersifat determined. ‘Sinkronisitas’ atau peristiwa-peristiwa kebetulan yang bermanfaat, tiba-tiba masuk akal, dan segala sesuatu dalam realitas harus dilihat sebagai metafora, oleh karena bahkan peristiwa yang paling kacau mengungkapkan suatu simetri tertentu yang mendasarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah paradigma holografik Bohm dan Pribram akan diterima oleh sains atau tenggelam begitu saja masih akan kita lihat, tetapi pada saat ini agaknya dapat dikatakan bahwa paradigma itu telah berpengaruh terhadap pemikiran sejumlah ilmuwan. Dan bahkan jika kelak terbukti bahwa model holografik tidak memberikan penjelasan terbaik bagi komunikasi seketika yang tampaknya berlangsung bolak-balik di antara partikel-partikel subatomik, setidak-tidaknya, sebagaimana dinyatakan oleh Basil Hiley, seorang pakar fisika di Birbeck College di London, temuan Aspect “menunjukkan bahwa kita harus siap mempertimbangkan paham-paham baru yang radikal mengenai realitas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis tidak diketahui&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-1384871800878601211?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/1384871800878601211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=1384871800878601211' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/1384871800878601211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/1384871800878601211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/10/alam-semesta-sebagai-hologram.html' title='ALAM SEMESTA SEBAGAI HOLOGRAM*'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-3627075972072716899</id><published>2008-03-01T07:39:00.001-08:00</published><updated>2008-03-01T07:41:01.194-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengumuman'/><title type='text'>Koar-koar, KAMPANYE RAMAH PLANET BIRU</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Nomor : 001/CP-4/02-2008&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum Wr. Wb., Salam sejahtera, Suksek untuk Semua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengundang seantero jagad kepenulisan dengan tema Tanah, Air, Api dan Angin yang merupakan unsur-unsur penunjang kehidupan yang ada di Semesta ini. Siapa pun diundang untuk memberikan kontribusinya di kampanye ini dalam bentuk tulisan demi Bumi yang lebih nyaman dan ramah. Isu lingkungan bukan hanya sekedar isu, melainkan sebuah kebutuhan kita sebagai manusia untuk melestarikan lingkungan sekitar. Bumi nan ramah, Bumi kita semua; Manusia peduli, Manusia yang amanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan dikirim dalam bentuk soft berupa file melalui e-mail disertai biodata singkat. Bila berkenan menjadi anggota dapat mengajukan permohonan agar kami segera mengirim formulir pendaftaran menjadi anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak cipta tulisan ada pada penulis, namun CP dapat menggunakan materi tulisan selama kampanye ini berlangsung. Kampanye berlangsung selama tahun 2008 dan masa kampanye dapat diperpanjang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Bila ada pihak-pihak yang menggunakan material tulisan tanpa seizin penulis dan CP dapat dikenakan sanksi sesuai Undang-undang yang berlaku di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami persilakan para anggota CAKRAWALA PUSTAKA (CP) dan kontributor memberikan ide dan gagasannya sesuai tema tersebut dalam berbagai jenis tulisan. Banyaknya tulisan yang dikirim tak dibatasi oleh panitia. Bagi tulisan terbaik bakal memperoleh bingkisan dari CP. Tulisan terbaik diumumkan di blog kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pengumuman yang dapat kami sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu’alaikum Wr. Wb. , Sukses!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, 29 Pebruari 2008&lt;br /&gt;Kami, atas nama yang peduli lingkungan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahar D. Dirgantara&lt;br /&gt;Administrator Cakrawala Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS  : 0813.1584.3462&lt;br /&gt;Call Center : (021) 94551578&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-3627075972072716899?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/3627075972072716899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=3627075972072716899' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/3627075972072716899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/3627075972072716899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/03/koar-koar-kampanye-ramah-planet-biru.html' title='Koar-koar, KAMPANYE RAMAH PLANET BIRU'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-1931347291846922508</id><published>2008-03-01T07:29:00.000-08:00</published><updated>2009-04-27T18:23:45.309-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Telah Lahir Anak Manusia</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Bahar D. Dirgantara, Indonesia 2006-2007&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;© 2007&lt;br /&gt;© 2008, edited&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SEMANGAT!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menempuh jalan terasa berat&lt;br /&gt;Tanjakan&lt;br /&gt;Turunan terjal&lt;br /&gt;Tetesan peluh, asin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjuanglah, terus&lt;br /&gt;Jangan pernah hentikan&lt;br /&gt;Semua dapat terwujud&lt;br /&gt;Pastikan dan camkan dalam jiwa kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMANGAT!&lt;br /&gt;Tak pernah mati&lt;br /&gt;Sampai raga ini berputus dari ruh&lt;br /&gt;Ruh yang dipanggil Sang Pemilik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lesu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kulihat dirinya berpacu&lt;br /&gt;Tak ada yang jua menolong&lt;br /&gt;Berat di pundaknya hendak dihempaskan&lt;br /&gt;Kataku: Jangan! Ini adalah karuniaNya, kamu patut bersyukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kataku telah lama berselang&lt;br /&gt;Hampa dalam dirinya meradang&lt;br /&gt;Jangan menyerah!&lt;br /&gt;Segala tindakan pasti ada hasilnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mulai tertunduk lesu&lt;br /&gt;Tanpa orang yang mau mengerti&lt;br /&gt;Kataku: Teruslah, jangan berhenti!&lt;br /&gt;Dia mulai bangkit, menuju kesuksesan tiada henti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesejukan Hati&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang, tapi hanya sebagian&lt;br /&gt;Banyak bicara, tapi tak berisi&lt;br /&gt;Banyak tingkah, tapi tak berarti&lt;br /&gt;Banyak ide, tapi tanpa kejelasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sering berbuat kesalahan&lt;br /&gt;Tak sadar, kemudian menyesal&lt;br /&gt;Sadarlah,&lt;br /&gt;Bahwa sikap jujur adalah penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilangkan kepura-puraan&lt;br /&gt;Jadilah manusia alami&lt;br /&gt;Sealami bumi ini dalam melewati usianya&lt;br /&gt;Dan menuju kesejukan dalam hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Seseorang Mengatakan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Telah lama terdengar&lt;br /&gt;Kata-kata itu&lt;br /&gt;Dia mengatakan:&lt;br /&gt;Sudah tiada lagi yang peduli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memohon untuk tidak terjadi&lt;br /&gt;Masa yang membuat hidup&lt;br /&gt;Menjadi tidak berarti&lt;br /&gt;Dapatkah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya memohon&lt;br /&gt;Tetesan air mata&lt;br /&gt;Peluh itu mengalir&lt;br /&gt;Perih yang terasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, tidak&lt;br /&gt;Tidak hari ini harus meninggalkan&lt;br /&gt;Mereka yang kesakitan&lt;br /&gt;Mereka yang diterjang peluru&lt;br /&gt;Diterjang oleh mata zaman kemunafikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Serbuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jangan rusak Bumi ini&lt;br /&gt;Jangan lagi kau gempur tanah-tanah kami&lt;br /&gt;Tiada daya kami melakukan perlawanan&lt;br /&gt;Terus kami digempur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata-mata ganas itu begitu serakah&lt;br /&gt;Melalap habis milik kami&lt;br /&gt;Tiada yang menolong kami&lt;br /&gt;Kecuali Ia Yang Maha Besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terus berjuang&lt;br /&gt;Hingga anak-anak kami&lt;br /&gt;Dan cucu kami&lt;br /&gt;Mengerti arti sesungguhnya perjuangan di jalanNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lima&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa&lt;br /&gt;Sudah berjalan sedemikian lama&lt;br /&gt;Perjalanan&lt;br /&gt;Dengan naik turunnya semangat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momen-momen yang telah lewat, ternikmati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja ditemukan, asa baru&lt;br /&gt;Saat berkumpul&lt;br /&gt;Di sebuah ketinggian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara sejuk mengantarku&lt;br /&gt;Demi sebuah tanggung jawab&lt;br /&gt;Yang jangan pernah kutinggalkan&lt;br /&gt;Yang selalu aku junjung karena sebuah pilihan akhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nyanyian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Empat lagu telah mengantarkanku&lt;br /&gt;Ke sebuah harapan baru&lt;br /&gt;Demi kejayaan&lt;br /&gt;Demi kesejahteraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diberi pilihan&lt;br /&gt;Dan aku dipilih&lt;br /&gt;Untuk membuat pemilihan&lt;br /&gt;Walau berdiri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ya, Allah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku memanjatkan permohonan&lt;br /&gt;Lapangkan dada ini&lt;br /&gt;Dalam menjalankan RisalahMU&lt;br /&gt;Walau banyak penghalang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan diri ini kekuatan&lt;br /&gt;Kekuatan yang datangnya dari arah manapun&lt;br /&gt;Aku sungguh memohon&lt;br /&gt;Sangat memohon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ketulusan ini&lt;br /&gt;Atas keikhlasan ini&lt;br /&gt;Aku memohon&lt;br /&gt;Demi terangnya Cahaya Salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aku Tetap Berdiri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah lekang apa yang ada dalam diri ini&lt;br /&gt;Aku berdiri&lt;br /&gt;Tegak&lt;br /&gt;Menghadap langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu berkembang&lt;br /&gt;Tumbuh&lt;br /&gt;Laksana Pohon Jati&lt;br /&gt;Dan memiliki harga diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mau mundur sedikit pun&lt;br /&gt;Meski&lt;br /&gt;Apapun&lt;br /&gt;Yang dapat membuat nyawaku melayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tidur&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Buah rasa setelah ada&lt;br /&gt;Selalu dapat membuat kita semakin merasa ada&lt;br /&gt;Tak pernah rasa kantuk&lt;br /&gt;Hingga kita tersadar bahwa kita tidur untuk selamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Seekor Katak Kecil&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, ada seekor katak kecil yang penuh ide. Dia selalu ingin membuat dirinya diperhatikan oleh orang lain. Tapi, banyak orang tidak mengacuhkannya. Ia terus berupaya untuk membuat orang lain kagum atas dirinya. Namun sia-sia saja upayanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Isa; Yesus menurut...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Persoalan berakhir perang&lt;br /&gt;Ia pasti sedih jika melihat kekacauan ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pasti bersaksi&lt;br /&gt;Untuk kami atau mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami, kasih dan sayang&lt;br /&gt;Mereka, kasih dan cinta&lt;br /&gt;Tak berbeda&lt;br /&gt;Mengapa saling terkam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupakah ajaran Sang Al Masih as&lt;br /&gt;Tidak&lt;br /&gt;Manusia sengaja melupakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Manusia Penutup telah hadir, kemudian pergi&lt;br /&gt;Manusia Penutup, oh, Kekasih Allah&lt;br /&gt;Damaikan manusia-manusia, damailah manusia-manusia&lt;br /&gt;Seperti saat jayanya Cahaya Allah di muka Bumi (ini) lampau&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-1931347291846922508?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/1931347291846922508/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=1931347291846922508' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/1931347291846922508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/1931347291846922508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/03/telah-lahir-anak-manusia.html' title='Telah Lahir Anak Manusia'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-188668465669446994</id><published>2008-03-01T07:27:00.000-08:00</published><updated>2008-03-01T07:28:42.195-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Televisi'/><title type='text'>Tayangan Semusim Kotak Ajaib Masih Wajah Lama*</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Bahar D. Dirgantara**&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan penuh berkah disambut dengan penuh antusias oleh umat Islam, begitu pula umat beragama lainnya, karena mendapatkan tontonan televisi yang berbeda dan memberikan kesan dibandingkan dengan tontonan TV biasanya—tontonan di luar bulan Ramadhan—walaupun hanya tontonan semusim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan semusim yang saya maksudkan dalam tulisan ini hanya terbatas pada tayangan yang diudarakan pada bulan Ramadhan. Seperti kita ketahui, pada bulan suci umat Islam ini, entah karena apa, tayangan TV terlihat sedikit santun dan agak sopan. Saya katakan sedikit santun karena bahasa yang dikemas tidak seterbuka (sebebas) pada tayangan reguler. Agak sopan, karena pakaian yang dipakai oleh para pemerannya tidak seminim pada tayangan umumnya. Walaupun aurat masih terlihat di mana-mana, apalagi menyangkut etika Islam bahwa bagian wanita yang dapat dilihat oleh bukan muhrimnya hanya pada wajah dan tangan sebatas sampai pergelangan, itupun batasan yang ada di Indonesia pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal mula maraknya tayangan semusim ini ditandai dengan bermunculannya TV swasta di Indonesia pertengahan 1990-an. Mengapa baru pertengahan 1990-an? Sebab RCTI (1988) mengawali kemunculannya dengan mewajibkan pemirsanya menggunakan dekoder sebagai alat penerima (receiver) dan SCTV untuk jangkauan Surabaya (1989). Sehingga kala itu hanya kalangan terbatas yang menikmati tayangan dari TV swasta, pun kala itu sinetron belum menjamur seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan pemirsa dalam menikmati santapan elektronik kini tidak lagi hanya pada 2 (dua) stasiun TV tersebut. Banyaknya stasiun TV membuat pilihan kanal lebih beragam. Tapi apakah hal yang beragam ini berbanding lurus dengan tema acara ataupun yang dipilih stasiun TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, kita tahu, kebiasaan stasiun TV di Indonesia selalu mengekor pada tayangan yang sukses di stasiun TV lain. Ini membuat beberapa kalangan jemu pada tayangan yang tidak variatif ini dan hal itu pula yang diulangi pada tayangan semusim di Ramadhan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja tayangan religius yang dibungkus dengan mistik, saat ini diulangi lagi di bulan Ramadhan. Hal ini terjadi pada Rahasia Ilahi (spesial Ramadhan)(TPI) dan Insyaf (Ramadhan), salah satu contohnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah para kreatif di in house production dan production house sudah kehilangan ide dalam mengemas dan merancang program. Atau malahan mereka hanya tunduk pada produser program TV yang mengagungkan sukses sebuah program kemudian melakukan “duplikasi” atas program tersebut, entah tayangan itu nantinya bagus atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Deddy Mizwar (dalam tulisan Dahono Fitrianto, Kompas, 9/10/2005) mengatakan, “Sekarang ini kan banyak sinetron yang mengaku religius, tetapi sebenarnya hanya kelanjutan dari sinetrom-sinetron bertema mistik yang pernah populer sebelumnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deddy pun mencoba mereproduksi kembali film Kiamat Sudah Dekat menjadi sinetron (tayangan) alternatif untuk melawan parasinetron yang mengaku religius, namun dibungkus dengan mistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kita amati, tayangan religius dengan mistik sebagai bumbunya, sering terlihat over dan tidak masuk akal. Apa karena dengan over dan makin tidak masuk akal itu yang dibutuhkan oleh pemirsa di era seperti ini, era dimana hal yang riil lebih mendapat tempat. Atau jangan-jangan masyarakat kita masih menganut faham mistisisme (istilah saya), dimana segala sesuatu dapat diperoleh dengan cara-cara tidak wajar (gaib).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan semusim di bulan Ramadhan kali ini memang tidak ada yang berubah dibandingkan dengan tayangan semusim serupa di tahun-tahun yang lalu. Seperti tulisan Chris Pudjiastuti (Kompas, 2/10) yang menyebutkan, dalam lima tahun terakhir, tiap kali bulan Ramadhan tiba, stasiun-stasiun TV seakan berlomba membuat acara spesial. Padahal acara-acara tersebut, jika dicermati merupakan pengulangan dari acara-acara tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Format program sebelum waktu berbuka semuanya dikemas dalam konteks kultum (kuliah tujuh menit), walau dengan nama yang berbeda-beda. Tidak ada perubahan kreatif dalam hal penayangannya. Plot program menemani pemirsa saat sahur pun tidak jauh berbeda. Dikemas dalam guyonan dan menebar hadiah kepada pemirsa, juga mencoba sisi lain dengan menampilkan orang tak berpunya sebagai fokus acara. Tampilan sisi lain ini sama saja dengan program-program serupa (terlihat tak sama) Rejeki Nomplok (TV7), Tolooong!! (SCTV) dan banyak lagi program sejenisnya yang ditayangkan pada siaran rutin sebelumnya. Bahkan kemasan dengan memberi santunan melalui dukungan SMS (oleh pemirsa) dilakukan oleh Lativi dalam tayangan Grebeg Sahur Bagi-Bagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sinetron, tayangan-tayangan yang disuguhkan adalah kelanjutan dari sukses tayangan sebelumnya. Sebut saja: Hikmah 2 (RCTI) merupakan sekuel dari sinetron sebelumnya dengan judul sama; Anak Cucu Adam (RCTI) mencoba melanjutkan (sejenis sekuel) sinetron sebelumnya berjudul Adam dan Hawa (SCTV) dengan menampilkan bintang yang sama, Marshanda; sedangkan Kiamat Sudah Dekat (SCTV) adalah pengulangan dari film dengan judul yang sama, dengan perubahan skenario disana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana kita menyikapi perkembangan pertelevisian kita dewasa ini? Tontonlah acara yang menurut kita tidak memberikan dampak buruk bagi perkembangan anak-anak kita di masa depan. Dampingi mereka dan berikan penjelasan sesuai dengan bahasa mereka, jika mereka (anak-anak) meniru adegan berbahaya dan tidak santun dalam televisi, maka dapat berakibat buruk pada diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi pertelevisian kita hanya memperebutkan kue iklan, itu tidak masalah. Jangan karena kue iklan, mereka malah menambah muak kita dengan tayangan yang seronok dan vulgar di bulan penuh berkah ini. Semoga saja personil pertelevisian kita masih memiliki hati nurani sebagai pagarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ditulis saat menyambut Ramadhan 1426 H/2005 M&lt;br /&gt;** Penulis anggota Forum Kajian Radio, Televisi dan Film (FKRTF) Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-188668465669446994?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/188668465669446994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=188668465669446994' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/188668465669446994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/188668465669446994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/03/tayangan-semusim-kotak-ajaib-masih.html' title='Tayangan Semusim Kotak Ajaib Masih Wajah Lama*'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-7378245848811052569</id><published>2008-03-01T07:22:00.000-08:00</published><updated>2008-03-01T07:24:04.580-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kolom'/><title type='text'>Wajah-wajah di Akhir Episode*</title><content type='html'>Kehidupan dapat diibaratkan sebuah rol film yang memiliki awal dan akhir. Diri kita adalah sutradaranya. Sutradara nantinya menentukan bagaimana akhir sebuah film: bahagia atau duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bila dianalogikan dalam kehidupan seorang mahasiswa, sutradaranya adalah mahasiswa itu sendiri. Sang produser adalah orangtua mereka. Bagi mahasiswa yang telah bekerja dan membiayai kuliahnya sendiri, mereka merangkap sebagai produser. Bahkan sutradara ini menjadi aktornya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendukung kegiatan mahasiswa (sutradara sekaligus aktor—dan produser) maka dibutuhkan set tempat maupun fasilitas, yaitu kampus. Setelah biaya ada, maka biaya itu digunakan untuk menyewa tempat dan fasilitas yang diserahkan kepada biro yang diberi wewenang atas pembayaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, tentunya, sang mahasiswa menginginkan segala skenarionya berjalan lancar. Dengan adanya fasilitas kegiatan mahasiswa berupa UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dan HIMA (Himpunan Mahasiswa) membuat mahasiswa memiliki wadah untuk menyalurkan inspirasinya. Walau begitu, banyak dari mahasiswa yang mengeluhkan bahwa kampus tidak memberikan keleluasaan kepada mahasiswanya untuk mengadakan kegiatan di dalam kampus dan memanfaatkan fasilitas kampus yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana ini bisa terjadi? Sang sutradara dan produser telah membayarkan biaya untuk sewa set dan tempat namun pihak pengelola seperti enggan atau sayang-sayang jika set dan tempat yang telah disewa itu dipakai si penyewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas hal ini membuat banyak mahasiswa merasa lebih baik cepat-cepat keluar (lulus) dari kampus dengan berbagai cara, seperti: membuat prasasti di meja dan tukar-menukar jawaban soal kala ujian, sampai nyontek dan menjiplak skripsi mahasiswa terdahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun biaya yang ia keluarkan tidak dapat merasakan fasilitas yang seharusnya ia terima selama ia masih menjadi mahasiswa, apapun dilakukan mahasiswa jika terpepet. Seperti inikah yang kita inginkan untuk sebuah generasi yang akan membangun bangsa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ada mahasiswa yang sangat tidak tahan dengan keadaan ini langsung angkat kaki dari kampus dan meneruskan studinya ke kampus lain. Hal ini pernah diungkapkan DK, seorang mahasiswa yang tak tahan dengan kebijakan kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hal ini hanya terjadi pada mahasiswa? Tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini pula yang juga terjadi pada dosen-dosen. Kurun waktu sekitar enam tahun ke belakang banyak dosen yang hengkang dari kampus karena ketika menjadi dosen tetap di kampus, waktu luang setelah mengajar tidak diperkenankan untuk dipergunakan berkarya di tempat lain walaupun ketika berkarya di tempat lain ia tidak mengganggu aktivitas mengajar dan jadwalnya untuk membimbing mahasiswa serta kegiatan lainnya seperti: mengoreksi soal, melaporkan nilai-nilai mahasiswa ke biro akademik dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kini yang telah hengkang, menjadi dosen ternama di kampus besar ternama. Tidak perlu disebutkan siapa mereka dan di kampus mana mereka kini berada, toh pihak kampus, mahasiswa angkatan lama dan para dosen yang telah lama mengajar tahu dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sangat ironis. Bahwa dosen seharusnya diberikan kesempatan yang luas untuk mengembangkan dirinya sebagai seorang pengajar bahkan sebagai pendidik. Karena wawasan luas sang dosen adalah gengsi tersendiri bagi dirinya. Bayangkan jika dosen tidak dapat menjawab (baca: mati kutu) pertanyaan mahasiswanya, tentu ada pertanyaan besar dalam diri mahasiswa, “Setidaknya Pak Dosen bisa kasih kita keterangan sedikit, ya, jangan hanya diam (manyun).” Minus nilai dosen di mata mahasiswa maka minus pula nilai kampus tersebut di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa juga seharusnya diberikan ke mahasiswa. Kampus sewajarnya memberikan fasilitas kepada mahasiswanya untuk terus tumbuh dan berkembang demi menghadapi tantangan setelah lulus nanti. Perlu dipertegas bahwa kampus adalah zona praktek tahap awal bagi mahasiswanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampus juga harus menjalin kerjasama dengan pihak luar yang berhubungan erat dengan studi yang diambil oleh mahasiswanya. Berkenaan dengan ilmu jurnalistik, sewajarnya kampus menjalin hubungan erat dengan media-media, bukan mengandalkan mahasiswa lulusannya yang bekerja di media itu—memangnya media itu milik mahasiswa lulusan yang notabene tidak memiliki wewenang atas kebijakan media tempat ia bekerja. Hal ini juga dilakukan atas jurusan-jurusan lain yang terdapat di kampus demi menciptakan jaringan yang luas antara pihak kampus-mahasiswa-praktisi/perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dengan kampus kita? Selalu itu yang ada dalam benak kita. Bahkan ada mahasiswa yang saking sakit hatinya berkata, “Bagaimana kalau kita bikin kampus sepi kegiatan mahasiswa dan kita laporkan hal tersebut ke Dikti? Biar kampus ini ketika ajaran baru, sedikit calon mahasiswa yang mendaftar dan mendapatkan sorotan tajam Dikti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan mahasiswa itu mungkin hanya candaan ketika ia penat melihat kondisi kampusnya saat sedang berkumpul dengan rekan mahasiswa yang lain. Terlepas perkataan itu menjadi kenyataan atau tidak di kampus kita sekarang ini. Jika ya, maka kebijakan kampus harus dirubah! Kampus harus belajar bahwa kebijakan yang diputuskan satu pihak hanya jadi jurang pemisah antar civitas kampus. Bila tidak, bersyukurlah bahwa kampus masih dipercaya para orangtua untuk tempat menimba ilmu anak-anaknya, walaupun kemungkinan besar tak bakal bertahan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya mahasiswa dan kampus seharusnya memiliki hubungan yang harmonis dan interdependensi sehingga mahasiswa dapat menghidupkan kampus dan kampus idealnya memberikan fasilitas yang menunjang mahasiswa demi kemajuan kedua belah pihak. Jika ini terjadi kampus akan mendapat faedah dari para lulusannya, dengan promosi (gratis) ke adik-adik dibawahnya bahwa, “Di kampus kakak, fasilitasnya oke, lho dan rugi kalo kamu nggak masuk kampus kakak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, siapkah kampus menjalankan hal yang seperti ini dan memberikan ruang gerak yang luas pada dosen dan mahasiswanya? Kita tunggu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila skenario berjalan dengan lancar, sutradara tak perlu membuat skenario wajah-wajah tegang di akhir episode, justru malah memasang wajah-wajah berseri-seri penuh senyum dan keceriaan. Tul, nggak?!(b!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Judul awal Hikayat Kampus Tercinta&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Telah diedit di beberapa bagian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-7378245848811052569?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/7378245848811052569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=7378245848811052569' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/7378245848811052569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/7378245848811052569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/03/wajah-wajah-di-akhir-episode.html' title='Wajah-wajah di Akhir Episode*'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-2721783318388756261</id><published>2008-03-01T07:13:00.000-08:00</published><updated>2008-03-01T07:15:20.485-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Jagad Nurani Melepas*</title><content type='html'>© b!, 2008&lt;br /&gt;Cakrawala Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Huruf D&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Melangit tanpa tepi&lt;br /&gt;Siang malam merajuk meluka&lt;br /&gt;Dukanya tiada bertepi&lt;br /&gt;Ranting-ranting patah tersambar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jatuh, jatuh, jatuhlah semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang di atas pasti ke bawah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Bangkitlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tertidur pasti bakal tegak berdiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuraninya tercabik-cabik&lt;br /&gt;Darah (mem)beku&lt;br /&gt;Hangat surya pun tak mampu&lt;br /&gt;Perihmu meradang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menunggu, menemukan&lt;br /&gt;Akar yang mau menopang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka tak ingin berulang&lt;br /&gt; Demi surga dengan nikmat tak berujung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Satu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kaki-kaki berderap&lt;br /&gt;Langkah-langkahnya penuh keyakinan&lt;br /&gt;Nyiur melambai-lambai&lt;br /&gt;Sejuk, meradang, jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tukang kayu bertalu-talu&lt;br /&gt;Pohon, bunga berkembang tak ingin melayu&lt;br /&gt;Seikat kuntum berhias rapi&lt;br /&gt;Vas siap diisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik-titik, tetes-tetesnya&lt;br /&gt; Sudah coba melalu&lt;br /&gt;Tunas mulai tumbuh&lt;br /&gt; Menjadi baru, segar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Ia tegap, busungkan dada&lt;br /&gt;  Melangkah pasti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalam b!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selaksa makna kabut menoreh&lt;br /&gt;Tinta mengabur, melebur kertas&lt;br /&gt;Guratan tangan mengikir batang pohon&lt;br /&gt;Namanya terpahat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badai tampak mencekam&lt;br /&gt;Awan hitam di bawah awan putih, gelap... pekat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerkam, melaju, cepat, terhantam&lt;br /&gt;Meledak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah, mereka bertanya saling&lt;br /&gt;Entah&lt;br /&gt;.......................................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia seakan berduka&lt;br /&gt;Telah hilang satu nyawa&lt;br /&gt;Dalam sebuah tabrak lari&lt;br /&gt;Pelaku: pengkhianatNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cuma Omong Kosong&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tak takut, tapi terluka&lt;br /&gt;Dasar tak berhati lelaki itu&lt;br /&gt;Buat duka wajah nan elok&lt;br /&gt;Goresan lukisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omong kosong ucapannya&lt;br /&gt;Hah, hanya bujuk merayu, nol, ompong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukanya tak lekang, terngiang-ngiang&lt;br /&gt;Pelaku: tersangka cinta?&lt;br /&gt;Tak. Tak layak sebutan itu. Layak: terdakwa jiwa&lt;br /&gt;Dosa yang sukar terusap, hanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai, tersangka jiwa&lt;br /&gt;Mohonlah, merataplah, bersimpuhlah&lt;br /&gt;KepadaNya&lt;br /&gt;Semoga dosa-dosamu diampuni wajah nan elok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak takut, tapi terluka&lt;br /&gt;Dasar tak berhati lelaki itu&lt;br /&gt;Buat duka wajah nan elok&lt;br /&gt;Goresan lukisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelangi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Warna-warni&lt;br /&gt;Gerimis reda&lt;br /&gt;Kilat lenyap&lt;br /&gt;Angin menyayat, beku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indah&lt;br /&gt;Hitam di raya jalan berpijak&lt;br /&gt;Elok di atas&lt;br /&gt;Bercacing hati manusia yang tak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucing pulas&lt;br /&gt; Burung hantu bekerjap-kerjap&lt;br /&gt;...............................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi (dalam) sekejap sekedip mata&lt;br /&gt;Kok?&lt;br /&gt;Hilang&lt;br /&gt;Lenyap&lt;br /&gt;Kosong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna-warni&lt;br /&gt;Sayang&lt;br /&gt;Tak ada yang menikmatimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jalang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Matanya nyalang, hatinya kesal, merangkak&lt;br /&gt;Tergenggam pisau di tangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan di perempatan&lt;br /&gt;Menatap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pisau terhunus, telah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pucat perempuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunyi sekitar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan, satu pilihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pisau dimain-mainkan, menggoda&lt;br /&gt;Diasah-asah di telapak tangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintang pukang perempuan&lt;br /&gt;Satu-satunya jalan keluar&lt;br /&gt;Tak berharapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengejar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berteriak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah (suara) mereka (berdua) membelah malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korban telah jatuh:&lt;br /&gt;Perkosaan diakhiri pembunuhan&lt;br /&gt;Dimuat: Koran Pagi, Depok, 27 Maret 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kumpulan puisi ini semula diberi judul &lt;em&gt;Lagu-lagu di Bulan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;** Masih sedang dalam tahap penulisan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-2721783318388756261?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/2721783318388756261/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=2721783318388756261' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/2721783318388756261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/2721783318388756261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/03/jagad-nurani-melepas.html' title='Jagad Nurani Melepas*'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-121969052007961448</id><published>2008-03-01T07:11:00.000-08:00</published><updated>2008-03-01T07:13:14.061-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Petuah Pepatah Apatah*</title><content type='html'>© b!, 2006, 2007&lt;br /&gt;© Telkomsel, 2006**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita merasakan kelelahan dalam hidup, selalu ada cara untuk melepas kepenatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk di atas atap rumah pada malam hari, menikmati semilir angin dan debu-debu malam yang lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar tarikan napas kita sambil menengadah ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hayati bayang-bayang masa silam, puaskan diri merekam semua itu, putar masa itu ke titik awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita rasakan kenangan yang merambat perlahan, tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembalikan semangat dengan kepalan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita terpilih untuk hidup dan menjalaninya adalah pilihan terbaik yang (pernah) ada.(b!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan itu adalah saat kita menemukan momentum yang luar biasa dan membaginya kepada orang-orang di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga saat di sekeliling kita memberikan saran dan kritik yang membangun bagi kita untuk selalu maju demi menciptakan inovasi yang berbuah peluang sebagai hasil dari usaha keras selama ini.(b!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan besar, begitu awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bila kita memiliki asa untuk menyelesaikannya, semua itu tidak dapat dipandang suatu yang besar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena besar atau kecilnya sesuatu adalah bagaimana sudut yang dipakai untuk melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menghadapinya, kita dapat memperoleh pelajaran darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang tidak didapat dari bangku sekolah, dimana pelajaran sekolah membuat kita tak memiliki pilihan lain selain (terpaksa) melahapnya selama duabelas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanglah segala sesuatu sebagai lompatan demi meningkatkan kemampuan hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan yang dapat dan pasti mempunyai andil di kehidupan masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, jadilah MANUSIA DAHSYAT, manusia tanpa batas dengan rencana-rencana yang teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari demi mewujudkan berbagai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar dan selalu ikhlas menjalani bahtera kehidupan merupakan dua hal sebagai bekal bagi diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga menjadi manusia pantang menyerah.(b!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bersyukur pada apa yang kamu sedang kerjakan saat ini, dan jangan terlalu melihat ke belakang atau ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan semua kewajiban dengan benar.(Telkomsel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terkadang diri ini tak menyadari ketika orang-orang yang memberikan perhatian kepada kita adalah orang yang selama ini menunjukkan jalan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyesalan memang datang belakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun untuk mencapai momentum jalan kebenaran, untuk dapat kita peroleh di kesempatan kedua, kita harus mengeluarkan energi yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kata berhenti untuk mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak peduli orang-orang mencemooh dan memandang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita jaga langkah-langkah kebenaran itu tetap menjadi setapak yang selalu kita lalui.(b!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dirangkum oleh Bahar D. Dirgantara&lt;br /&gt;** Berdasarkan penerimaan pesan melalui ponsel berkartu simPATI (merek dagang Telkomsel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perhatian!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan nama Telkomsel dan simPATI hanya sebagai sumber bukan bermaksud untuk promosi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-121969052007961448?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/121969052007961448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=121969052007961448' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/121969052007961448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/121969052007961448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/03/petuah-pepatah-apatah.html' title='Petuah Pepatah Apatah*'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-8280931834289259541</id><published>2008-02-24T22:01:00.000-08:00</published><updated>2008-02-24T22:06:25.117-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memoar'/><title type='text'>Often of Beautiful</title><content type='html'>(roadtrip journal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bahar D. Dirgantara*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I start to walk outside from my home. I always thinking the new day will bring me a new colors in my life. What happen then is becoming real, it always happen to me. I’m really glad even to be greatful to God that Thee gives me more and more of meaning thing to enjoy my life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Today, 21 February 2008 I goes to internet rental to finish my work. I upload some of my articles to Cakrawala Pustaka blog. Before I arrive to that place, I used public transportation, twice. I have a lot of experiences on it travel. This travel I see a lot of beautiful things, literally and metaphor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Before I explain those tow meanings, I like you all to know that a lot of beautiful things have colors my life, but never get written. Now is the time to writes it down.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In literally, I have meet beautiful people. As a young and a man, see beautiful faces of young girls and women are a gives, but I see them with positive ways. Look they faces make me thinking that God give beautiful to be used in positive and right way, we should thankful on Thee. They are seem so glad and look so charming. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At metaphor, I look them that they have a passion to enjoy their life. Laughing so loud, they are very happy. Oh, God’s mercy on them. Amen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In many situations, I also meet beautiful people, boys and girls, men and women. They look so great to enjoy their life. Talks to one of them I often do. They tell the stories of their life, how they control the matters whose make them close to hard circumstances. They are always tries on it, solves their matters.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I don’t know how could I describes these God’s gives. See many various people whose inspiring me, gives me much….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I just want to say Alhamdullilah that I have much see (the) often of beautiful.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* The writer is administrator of Cakrawala Pustaka and blogger&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-8280931834289259541?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/8280931834289259541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=8280931834289259541' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/8280931834289259541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/8280931834289259541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/02/often-of-beautiful.html' title='Often of Beautiful'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-2199581588686284630</id><published>2008-02-24T21:30:00.000-08:00</published><updated>2008-02-24T21:45:40.491-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Senandung Lara Kalbu*</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Bahar D. Dirgantara&lt;br /&gt;Cakrawala Pustaka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SENANDUNG LARA KALBU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lahir dari sebuah perenungan tentang anak manusia yang sedang mencari arah dari dirinya. Diri yang sedang mencari sebuah cinta di medan penuh dengan peluh yang tak henti mengucur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertarungan dari pelbagai wacana jiwa di dunia yang menyajikan probabilitas yang dapat dipilih. Sungguh, kita dapat merasakan sebuah kejadian yang siapa saja dapat ikut merasakannya. Tak semua terjadi, memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semburan api dan kepulan asap dari kepala penulis dilakukan untuk coba merasakan bagaimana panasnya jiwa yang terpenjara dan tak terungkapkan. Kadang kepala ingin meledak dan terburai isinya menjadi serpihan yang dapat dipilah-pilih untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di kepala kita. Sesungguhnya, apa yang hakiki yang sedang diresapi kepala (akal) untuk mendapatkan keasaan yang memuaskan dan menjadi siraman raga dan ruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dorongan yang terjadi pada penulis adalah natural dan mengalir bak hujan yang mengguyur bumi ketika panas yang teramat (sangat) menyengat baru saja terlewati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan penulis untuk menulis puisi, akhirnya tersalurkan. Ini merupakan paragoresan yang terbaru (2005) dari banyak puisi yang terserak di file PC penulis. Buku ini ditulis tanpa menggunakan halaman, menunjukkan kebebasan setiap lembar isi untuk hinggap di mana saja; di tembok, di baju, di halte bis dan kamar peraduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahar D. Dirgantara&lt;br /&gt;bahar_dirgantara@yahoo.com&lt;br /&gt;© 2005&lt;br /&gt;© 2008, retitle (mengubah judul)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hati tak...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selama itu, selama tahun-tahun itu tak kunjung berjumpa&lt;br /&gt;Semangat tak lekang oleh detik yang terhitung&lt;br /&gt;Lelah dan kepayahan selalu menyerbu&lt;br /&gt;Tegar pun harus ditempuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin meledak&lt;br /&gt;TERIAK...&lt;br /&gt;Jangan!&lt;br /&gt;Terus bergejolak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahar yang mendidih tak kuasa ditahan&lt;br /&gt;Peluh mengucur deras&lt;br /&gt;Mimpi berjumpa tak mengobati&lt;br /&gt;Sampai kapan harus menunggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus...&lt;br /&gt;Kuatkan...&lt;br /&gt;Bila saat tiba,&lt;br /&gt;Tak pernah hilang kesempatan bersamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Terjun bebas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah merasa takut!&lt;br /&gt;Aku tak pernah merasa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh diraih&lt;br /&gt;Tetap di hati&lt;br /&gt;Oh,&lt;br /&gt;Apa lagi ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah diri ini telah terjun bebas?&lt;br /&gt;Bebas tanpa sepengetahuanku, untuk memilih sesosok yang...&lt;br /&gt;Ah, begitu indah&lt;br /&gt;Seperti kemilau berlian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letuskan lara ini&lt;br /&gt;LEDAKkan saja!&lt;br /&gt;Biar terburai...&lt;br /&gt;Oh, dirimu yang nun jauh, dirindu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menunggu...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setiap kisah pasti ada akhir&lt;br /&gt;Tak selama yang dirasakan&lt;br /&gt;Menunggu...&lt;br /&gt;Tak berarti bila itu sebuah pengharapan yang tulus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapatkah yang jauh teraih&lt;br /&gt;Usaha datang kala ia telah jauh&lt;br /&gt;Dengan asa yang menggebu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan terakhir dengan duka atas dirinya&lt;br /&gt;Tak membuat untuk berani ungkapkan&lt;br /&gt;Peluang yang harus dimengerti&lt;br /&gt;Walau harus lepas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lelap&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam gelap&lt;br /&gt;Suasana hening&lt;br /&gt;Badai itu menerpa, kembali&lt;br /&gt;Liku jalan tajam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan kembali terlihat&lt;br /&gt;Sulit untuk didekap&lt;br /&gt;Semakin merindu&lt;br /&gt;Jauh teraih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh,&lt;br /&gt;Apa yang telah terjadi?&lt;br /&gt;Tersadar untuk segera melangkah&lt;br /&gt;Dan mengambil keputusan: &lt;br /&gt;Apakah dia yang seharusnya di sampingku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aura&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Harumnya telah membius&lt;br /&gt;Aku tak kuasa menahan asa&lt;br /&gt;Terlalu lama hanya memandang&lt;br /&gt;Berasa untuk segera disambut tangan ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersenyum dirimu&lt;br /&gt;Begitu indah&lt;br /&gt;Membuatku terbang&lt;br /&gt;Ke langit ke tujuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jarak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kadang, terasa berjarak&lt;br /&gt;Namun terasa dekat&lt;br /&gt;Atau hanya aku yang merasa&lt;br /&gt;Tidakkah dirimu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riuhnya kebisingan kota, apakah membuatmu lupa&lt;br /&gt;Lupa ketika hari pertama di sekolah&lt;br /&gt;Jangan dilupakan, teruslah dalam ingatan&lt;br /&gt;Sebagai rasa yang pantas terekam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pandangan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di depan kelas&lt;br /&gt;Dirimu berbicara&lt;br /&gt;Kupandangi dirimu&lt;br /&gt;Sesekali bertemu pandang, saling tersenyum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah aku lupakan, walau sedetik akan dirimu&lt;br /&gt;Cahaya tetap kupegang erat&lt;br /&gt;Auramu tetap lembut kurasa&lt;br /&gt;Untuk menemani mimpi kala lelap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sanggupkah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dapatkah dirimu ada di sisiku&lt;br /&gt;Setelah kau tahu kegelapanku&lt;br /&gt;Aku tak memaksa&lt;br /&gt;Hanya ingin tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau itu tak terwujud&lt;br /&gt;Semoga di Surga tempat kita untuk beradu&lt;br /&gt;Demi sebuah asa yang...&lt;br /&gt;...tak terungkap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja menjelang&lt;br /&gt;Usia kita berkurang&lt;br /&gt;Dan...&lt;br /&gt;...semua ini adalah keputusan Segala Maha Kuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Selama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terlukis selalu&lt;br /&gt;Tetap selalu ada&lt;br /&gt;Bayangan yang tak pernah hilang&lt;br /&gt;Memenuhi ruang pikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini &lt;br /&gt;Aku mengangkasa&lt;br /&gt;Membiarkanmu lepas di bawah sana&lt;br /&gt;Berlarian tiada henti, dengan tawa riang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menari&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Balerina meliukkan tubuhnya&lt;br /&gt;Suara-suara sendu mengalun&lt;br /&gt;Gelap terasa di sekujur tubuh&lt;br /&gt;Derita yang tak kunjung padam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarian itu mengharukan&lt;br /&gt;Kisah sedih kembali terungkap&lt;br /&gt;Mengisi kembali lembaran baru&lt;br /&gt;Hari ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelajaran Cinta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kau telah mengajarkanku&lt;br /&gt;Tentang bagaimana merindu&lt;br /&gt;Dan pulang membawa peluh hasil&lt;br /&gt;Dari sebuah kasih sayang yang abadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan berhenti mengajarkanku&lt;br /&gt;Tentang kasih sayang untuknya&lt;br /&gt;Yang hanya bisa berhenti&lt;br /&gt;Bila diri ini terlepas dari ruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa cinta adalah kasih&lt;br /&gt;Tapi tidak sebaliknya&lt;br /&gt;Kebenaran&lt;br /&gt;Cinta dariNya&lt;br /&gt;Jangan Kau hentikan pelajaran ini untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jangan Biarkan!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ajarilah aku&lt;br /&gt;Dan jangan biarkan&lt;br /&gt;Setan-setan itu membunuhku&lt;br /&gt;Membunuh cintaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandaikanlah aku&lt;br /&gt;Untuk meraih kepuasan&lt;br /&gt;Dari dahaga yang tiada tara ini&lt;br /&gt;Demi ketulusan yang dinantikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolonglah aku&lt;br /&gt;Membunuh mereka&lt;br /&gt;Mereka yang ingin membunuhku&lt;br /&gt;Membunuh keikhlasanku padaMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagilah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jangan kau biarkan kesenanganmu untukmu seorang&lt;br /&gt;Berilah aku sedikit kebahagian itu&lt;br /&gt;Marilah kita maju bersama&lt;br /&gt;Bila kau tertunduk menghadapi masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pasti ada&lt;br /&gt;Ketika kau pilu&lt;br /&gt;Tak pernah hilang aku&lt;br /&gt;Jika kau merindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisimu pasti&lt;br /&gt;Saat kau kedinginan&lt;br /&gt;Di hadapanmu, itu aku&lt;br /&gt;Waktu kau terpuruk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalanlah bersamaku untuk merengkuh keabadian&lt;br /&gt;Jangan kau tolak&lt;br /&gt;Kesungguhan ini sangat berarti&lt;br /&gt;Tak pernah luntur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kepayahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pastilah kita pernah merasakannya&lt;br /&gt;Saat kita dikecewakan&lt;br /&gt;Bila mereka menjauhi kita&lt;br /&gt;Dan meninggalkan jauh tanpa pernah kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabarlah,&lt;br /&gt;Dirimu pasti menemukanku&lt;br /&gt;Dalam setiap detik yang tercurah&lt;br /&gt;Pasti aku hadir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berdo’alah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tertunduk&lt;br /&gt;Air mata mengucur&lt;br /&gt;Saat ini kita bertekuk lutut&lt;br /&gt;Dan tersadar bahwa kita adalah lemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panjatkanlah&lt;br /&gt;Memohonlah&lt;br /&gt;Merataplah&lt;br /&gt;Merenunglah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akui bahwa kita salah&lt;br /&gt;Kecerobohan itu membuat tersadar&lt;br /&gt;Jujurlah&lt;br /&gt;Bahwa kita lunglai tanpaNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendek&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sedikit saja&lt;br /&gt;Satu detik&lt;br /&gt;Koma&lt;br /&gt;Stop!&lt;br /&gt;Cinta&lt;br /&gt;Titik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Paku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bulan itu sebagai pertanda&lt;br /&gt;Atas saling pandang kita&lt;br /&gt;Sebagai saksi&lt;br /&gt;Keterpakuan ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah saling pandang itu makna tersirat&lt;br /&gt;Entah&lt;br /&gt;Kau telah menebar siratan itu&lt;br /&gt;Tapi aku masih ragu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau aku yang membuatmu ragu&lt;br /&gt;Maafkan&lt;br /&gt;Bila kita seperti paku&lt;br /&gt;Yang tak mau lepas dari kayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bintangmu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lagu apa yang kau suka, aku tak tahu&lt;br /&gt;Warnamu aku tak mengenalnya&lt;br /&gt;Sifatmu, aku buta&lt;br /&gt;Hasratmu tak pernah kumengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sengatanmu, aku tahu&lt;br /&gt;Sebuah sengatan yang buatku menggigil&lt;br /&gt;Karena aku tahu&lt;br /&gt;Itu sinarmu yang terang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Judul asli kumpulan puisi ini adalah &lt;strong&gt;SEMANGAT LARA KALBU&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-2199581588686284630?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/2199581588686284630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=2199581588686284630' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/2199581588686284630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/2199581588686284630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/02/senandung-lara-kalbu.html' title='Senandung Lara Kalbu*'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-630812275094182455</id><published>2008-02-20T23:05:00.000-08:00</published><updated>2008-02-20T23:06:20.069-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Be Yourself!*</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Be yourself, gitu, loh!” Kamu tentu pernah mendengar ucapan tadi. Lalu apa yang terlintas di benak kita saat mendengarnya? Baca ulasan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi “manusia lepas”. Maksud dari “lepas” di sini adalah berpikir dan bergerak secara natural, tidak dibuat-buat, apa adanya. Intinya, menjadi diri sendiri. Ada ungkapan, “Kalau bukan kita sendiri yang menghargai diri kita, siapa lagi?” Maka menjadi diri sendiri merupakan hal yang patut kita pertahankan. Dengan menjadi diri sendiri, kita memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Kita seharusnya bangga dengan diri kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita meniru gaya orang lain, justru malah menjadikan diri kita tidak natural lagi. Karena yang ada pada diri kita sudah bukan kita lagi, melainkan orang lain. Diri kita menjadi hantu bagi diri kita sendiri, sebab jati diri kita sudah entah ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang membuat manusia merubah jati dirinya ialah ketika ia banyak “menelan” informasi dari berbagai sumber tanpa melalui filter, sehingga apa yang didapat langsung ditiru. Salah satu informasi yang cukup cepat dan mudah terserap adalah televisi. Dengan mengadopsi budaya yang ditayangkan ”kotak ajaib” ini, seseorang dapat melakukan bahkan meniru apa yang tersiar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya-budaya ini ada yang sifatnya membangun, ada pula yang merusak. Sifat membangun harusnya kita beri ruang dalam kehidupan sehari-hari. Seperti tayangan orang yang survive dalam hidupnya, walaupun ia seorang tukang sapu jalanan namun tetap melakukan kebaikan. Tayangan pribadi yang sukses juga perlu dijadikan acuan. Alhasil, dengan begitu kita menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan orang yang menempatkan dirinya dengan budaya-budaya negatif, seperti: kumpul kebo, memakai narkoba, kluyuran tidak tentu arah, dan banyak lagi. Tentunya ini akan membuat perkembangan dalam pribadinya menjadi labil. Sehingga banyak kejadian, seperti: perkosaan, segala jenis pencurian (merampok, mencopet, menjambret) dan semua perbuatan kriminal terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara agama dan norma, hal-hal di atas sangat tidak patut. Walau begitu ada kesempatan untuk menjadi manusia positif bagi mereka dengan mengembangkan potensi-potensi positif yang dimiliki demi masa depan. Dengan terus berkembang, banyak hal positif dapat diambil. Bahkan, ketika keluar rumah untuk menuju tempat tujuan kita (misal: kampus), di situ banyak hal yang dapat kita petik hikmahnya. Saat diperjalanan bertemu dengan seorang hustler (pengasong), kita  berpikir bagaimana orang itu dapat survive dalam”kejamnya ibukota” tanpa harus melakukan tindak kriminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah diri sendiri! Ciptakan nuansa positif dalam kehidupan kita. Ingat, setiap hari adalah hari yang baru, hari yang harus diisi dengan hal bermanfaat. Teruslah bergairah, motivasi terus diri kita, jangan lewatkan peluang yang ada di depan mata, sekecil apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, kamu siap menjadi diri sendiri? Karena menjadi diri sendiri butuh sikap konsisten. Kapan lagi kalau tidak sekarang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Disarikan dari berbagai sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;© Mei 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-630812275094182455?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/630812275094182455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=630812275094182455' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/630812275094182455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/630812275094182455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/02/be-yourself.html' title='Be Yourself!*'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-755136631815428359</id><published>2008-02-20T22:53:00.000-08:00</published><updated>2008-02-20T23:03:48.068-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Travelling'/><title type='text'>Two Days of Moments (catatan perjalanan)</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari satu. Perjalanan (di) Jalan Raya Bogor. Cuaca mendung, langit putih, tidak sehitam kemarin dan beberapa hari belakangan. Salip silap menggunakan motor bebek. Jarak tempuk sekitar 30 km selama 1,5 jam seperti tak terasa. Sungguh dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan itu, bertemu kendaraan tipe Jazz yang berlaku konyol, tak perlu saya jelaskan secara detil. Karena perbuatan pengemudinya bisa membuat saya dan mungkin pengendara di belakang saya kecelakaan. Pun saya karena kesal dengan perilaku itu, melambaikan jari tengah tangan kiri saya. Tapi selayaknya orang-orang yang mngenal perilaku jalanan, kami tidak bersitegang. Sambil mengendarai kendaraan kami masing-masing, kami saling pandang dan saling “memaafkan”. Damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di Kedai Tempo harus ke kamar kecil. Setelah itu memesan black cofffe. Santai, menulis inspirasi di kedai tersebut. Saya terus menulis, sesekali menelepon orang-orang yang saya kenal untuk melepas rindu pada mereka. Oh ya, suasana kedai sungguh mendukung untuk proses kreatif saya dalam menulis. Ini adalah tempat kedua setelah Bandara Soekarno-Hatta yang memberikan saya aura menulis sedemikian lancar. Bedanya jika di Bandara saya menemukan momen-momen yang saya rekam di kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati kopi hitam. Angin semilir menemani. Di meja sebelah, para jurnalis sedang brain storming. Di meja belakang saya, seseorang sedang browsing. Inilah saat-saat suasana kreatif yang memenuhi benak saya, juga terdapa di kedai ini dan orang-orang di sekitarnya.&lt;br /&gt;Sempat stuck sebentar inspirasi saya. Memainkan kedua ponsel saya. Meneguk kopi hitam, sudah agak dingin. Cuaca mulai gelap lagi, namun awan tak begitu hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini saya juga menunggu seorang teman. Ia sedang proses untuk bekerja di Radio Utan Kayu. Saya mengirim kabar kepadanya bahwa saya sudah sampai. Kami hari ini memang berjanji untuk berjumpa. Beberapa saat ia membalas pesan saya. Kemudian saya telepon dia, karena ia mempersilahkan saya untuk menelepon dia dalam pesan balasannya. Ia terdengar nerveous dari nada bicaranya. Mungkin ini salah satu pekerjaan yang ia tunggu-tunggu atau nantikan, selama ini. Terdengar sangat jelas sekali suaranya seperti itu. Ya, suara pelan dan tertahan, tidak lepas seperti saat perjumpaan pertama kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi, saya memainkan salah satu ponsel saya. Tiba-tiba sobat dari Bintaro menelepon saya, sebut saja July. Ia sedang di kantornya, sedang menyambi mencetak pekerjaannya. Kami berbicara selama, sekitar 8 menit lebih. Berbicara mengenai hal-hal ringan dan kesibukan kami masing-masing. Bila salah satu dari kami luang, ia ingin menghubungi dan begitu juga sebaliknya. Baiklah, ini merupakan hubungan yang baik yang kami jalin. Karena ia pernah mengatakan pada saya bahwa ia beruntung bertemu dengan saya. Suatu kelegaan buat saya untuk dapat membuat hati orang ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat saya menikmati waktu untuk tidak menulis, melainkan mengamati suasana sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, teman dengan inisial Day yang sedang proses untuk bekerja datang bersama beberapa orang lainnya yang juga dalam tahap proses. Ia duduk tepat di depan saya, berbicara banyak hal. Kami juga makan siang bersama. Keceriaan terlihat di matanya. Sesekali ia tertawa. Dalam beberapa pembicaraan, saya jadi lebih memahami karakternya bukan sekadar sifatnya. Bagaimana latar belakangnya diukir. Maaf saya tak bisa ekspos mengenai dirinya. Cukup saya dan dia saja yang tahu. Ini sebuah kode etik tak tertulsi dalam sebuah hubungan, apalah itu namanya. Ia juga mengetahui latar belakang saya. Kami sangat terbuka dalam kesempatan mengobrol itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, kami berpisah di lingkungan dekat rumahnya. Sejatinya, saya akan ke perpustakaan komunitas di Bekasi, namun mata kiri saya kemasukan kerikil yang cukup besar, sehingga membuat mata saya begitu perih dan sangat merah, untuk menutup mata saja perihnya tak terkira apalagi membukanya. Maaf, detil bagian ini juga tak dapat saya jelaskan secara lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastinya, hari ini merupakan hari (penuh) inspirasi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebuah hari lagi. Tentunya. Dengan suasana yang baru. Suasana berbeda, aura berbeda. Saya bertemu dengan teman-teman yang dalam beberapa hari ini saya tak jumpai. Yusoef, yang pernah ingin meminjam sebuah film biografi seorang petualangan setelah sekejap membaca buku yang saya baca saat terakhir kami jumpa. Perjumpaan setelah selama ini tak pernah bersua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan itu diawali dengan ia melihat buku saya, Annapurna, buku mengenai grup pendakian perempuan ke puncak Annapurna I di Himalaya, Nepal. Ia kemudian berkata bahwa kapan bisa pinjam film Into The Wild milik saya. Ya, buku yang hanya sekelumit ia baca itu memiliki judul sama, tulisan Jon Krakauer. Saya menjawab, malam setelah kita bertemu itu saya ke sini (Saung—tempat teman-teman biasa bercengkrama) lagi. Ia membalas, kita tonton bareng saja di sini. Lalu saya mengambil film yang dimaksud ke kamar saya. Jarak Saung dengan kamar saya sekitar 60-an meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun menonton bersama. Yusoef terkantuk-kantuk, kurang tidur. Maklum ia pagi dini hari tadi sempat menonton siaran langsung sepak bola Liga Champion di televisi, walaupun akhirnya terlelap, paginya ia menyimak siaran berita olahraga sehingga mengetahui hasil pertandingan dini hari tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara nonton bareng itu, Mell muncul. Saya berkata, “Mana buku Ayat Ayat Cinta? Saya mau pinjam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia jawab, “Itu ada (di dalam kamar).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pinjem, dah....” Bahasa kongko saya muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipinjamilah saya buku itu hingga 24 Pebruari. Jadi, saya dipinjami dari sore 20 Pebruari. Buku itu merupakan buku yang Mell pinjam dari seorang kerabatnya. Dan kemungkinan bakal dikembalikan pada awal Maret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nonton selesai, buku berhasil dipinjam, saya pulang untuk makan siang yang telat. Yah, makan siang pada jam 16:45. Kemudian saya ke lapangan karena setelah acara nonton bareng teman-teman, mereka bermain futsal. Saat beberapa saat saya berangkat menuju lapangan saya bertemu Opicks, ia saya ajak untuk ikut ke lapangan, kemudian bertemu Once. Kami bertiga menuju lapangan namun mengambil jalan memutar, melihat keadaan Saung, apakah masih ada yang belum ke lapangan, untuk memastikan teman-teman benar bermain futsal sehingga ketika kami bertiga sampai ke lapangan dan ternyata tak mendapati teman-teman kami berada di sana. Yah, untuk memastikan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan membawa buku Ayat Ayat Cinta saya dan dua teman saya itu menuju lapangan. Sesampainya di sana, saya mengambil posisi duduk di samping kiri Monts—teman yang bertubuh gempal. Sesekali saya melihat permainan futsal, sesekali pula saya membaca komentar-komentar tentang Ayat Ayat Cinta di halaman-halaman awal buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua suasana barusan sungguh memberikan saya satu suasana menyerap berbagai informasi yang menumbuhkan inspirasi. Walaupun inspirasi itu belum terlihat, tapi suasana maupun aura yang saya dapatkan adalah saya dapat menulis dengan lancar saat ini. Memang saya sedang melatih kelancaran menulis saya, bagaimana merangkai sebuah tulisan yang ringan namun bermakna, jadi tak sekedar tinta yang menempel di atas kertas semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa ini, Apa itu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kedua hari di atas sungguh memberikan arti bagi saya. Detik-detik yang saya lalui sungguh saya nikmati. Di hari pertama, dalam keadaan mata yang payah saya juga sempatkan untuk mampir ke Rumah Sakit Mitra Internasional di Kampung Melayu, Jakarta Timur, setelah semua janji saya pada hari pertama itu terselesaikan, accomplished. Di situ saya mengunjungi, katakanlah seorang teman yang sedang positif tifus dan terserang gejala demam berdarah (DBD-Demam Berdarah Dengue). Dalam kunjungan di RS itu saya banyak berdiskusi banyak hal dengannya, sebut saja namanya Yudshuwa. Di situ kami banyak berbicara mengenai: segala sesuatu jika kita ingin berhasil butuh (ya, sebuah kebutuhan, bukan kewajiban) diperjuangkan, apa pun itu; kesabaran adalah tanpa batas; keikhlasan tak mengenal tepi; dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari kedua, walau tak sebanyak inspirasi seperti hari pertama, saya menganggap sebagai hari yang juga patut disyukuri. Allah, Tuhan semesta alam yang selalu dan terus memberikan berkahNya padaku, manusia fana ini. Ada spirit dalam perjalanan dua hari yang begitu saya nikmati itu. Saya selalu berdo’a bahwa jangan hanya saya yang diberikan keberkahan ini, melainkan seluruh makhluk yang bernyawa di muka Bumi ini. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir dari saya. Selalulah merasa cukup, niscaya kecukupan itu bakal ditambah dengan kecukupan selanjutnya. Teruslah bersabar hingga malaikat menjemput kita. Selalu ikhlas walaupun di dunia ini hanya kita seorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian dari saya. Semoga coret-coretan ini memberikan ilham bagi yang membacanya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 19 Pebruari 2008-Depok 20 Pebruari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah administrator Cakrawala Pustaka&lt;br /&gt;dan blogger&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Nama-nama dalam tulisan ini disamarkan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-755136631815428359?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/755136631815428359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=755136631815428359' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/755136631815428359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/755136631815428359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/02/two-days-of-moments-catatan-perjalanan.html' title='Two Days of Moments (catatan perjalanan)'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-3766715411248780279</id><published>2008-02-20T22:52:00.000-08:00</published><updated>2008-02-20T22:53:42.080-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Only Us, We, You and Me</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOMETIMES we really can afford what we thinking. Some other times, we stuck in the middle of nowhere. We always beware about something in the front of us, to much worry, its natural. We are humans being, we (always) use head (mind) and heart (soul).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If we has syndrome which related to the past, thats fine, but please, we used to be crack what happen to us. Why the syndrome make us scared or maybe affraid in the high level, sometime make us in tension? We suppose to conquer our frightness. The syndrome is not a nightmare, it just our mindset why we could like that: scared and affraid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We need process to control a syndrome, our syndrome. Stab to our soul that we are not scared and affraid anymore about it, whatever syndrome we has. If we do it and done the steps to off the syndrome we has power to done it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Use your own steps to make process to solve the syndrome. We know our condition and circumstances around us. We are the only knew. People: family, friends, neighbourhood, etc; are the inspiration to motivated us, just only. They’re only gives us some suggestions, the solver are us. One more time, we the only the solver about our matters. Play our steps to do the process, we will and must be find the way out.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We are the magnet, we created gravitation plus (positive thinking) and we spread it to the world even to the universe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We can, we could, if we would!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do it, done it, solve it!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* The writer is administrator of Cakrawala Pustaka&lt;br /&gt;and blogger&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-3766715411248780279?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/3766715411248780279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=3766715411248780279' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/3766715411248780279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/3766715411248780279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/02/only-us-we-you-and-me.html' title='Only Us, We, You and Me'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-4886319853844536679</id><published>2008-02-20T22:51:00.000-08:00</published><updated>2008-02-20T22:52:50.799-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Manusia Proaktif*</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk Allah yang diberikan kelebihan atas segala makhluk yang diciptakanNya. Namun sebagai manusia, kadang, melupakan kelebihan yang dimiliki. Di mana kelebihan yang dimiliki tidak hanya satu. Kelebihan-kelebihan itulah yang seharusnya memotivasi kita untuk aktif. Untuk menjadi aktif, manusia ada yang bertipe reaktif dan tipe proaktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua tipe manusia ini memiliki segi-segi yang dapat kita ambil hikmahnya dan kita cermati demi perubahan yang lebih maju. Dengan mencermati, kita memiliki kemampuan analisis, dengan begitu membuat kita kian cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, menjadi manusia yang reaktif tidak tidak lebih baik daripada manusia yang menunggu tanpa aksi. Namun manusia reaktif adalah tipe manusia yang hanya bergerak jika telah melihat hasil yang diperoleh dari proses yang telah atau baru saja terjadi. Jelasnya, manusia reaktif lebih banyak menunggu. Penjelasan tersebut pernah diungkapkan oleh Hermawan Kertajaya (salah satu marketing guru) dalam rekaman yang disiarkan oleh Radio SmartFM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses menunggu orang reaktif ada yang melakukan pekerjaan sampingan, tapi sebagian besar justru lebih banyak nganggur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaktif, memang, tidak dapat dikatakan buruk. Namun ia bergerak lebih lamban dari manusia proaktif. Kecenderungan menunggu inilah yang membuat produktivitasnya menjadi tidak berjalan atau bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelambanan ini membuat orang reaktif boleh dikatakan kurang memberikan “semarak” dalam sebuah kinerja perusahaan. Sikap menunggu inilah yang membuat sebuah tim dalam perusahaan, bila diisi dengan orang-orang bertipe seperti ini, berjalan seperti siput, begitu ungkapan ekstremnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasinya, perlu dirubah cara berpikir orang bertipe ini. Dengan begitu, kecenderungan sikap yang “selalu menunggu” menjadikan dia tertinggal dari yang laindalam bidang-bidang yang digelutinya. Solusinya, ia harus mengasah kegesitan, kecepatan dan ketanggapannya dalam melihat peluang yang ada dan jeli. Tentunya hal ini diperoleh dengan proses pembelajaran, dan harus siap konsisten!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo, dunia ini sudah jenuh dengan teori stimulus-respons, “dipancing” baru mau bergerak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, manusia proaktif, cenderung melihat kesempatan, momentum ataupun peluang sebagai waktu yang tepat untuk melakukan pergerakan yang berarti, walau hal yang dilihat adalah hal kecil sekalipun. Ia memandang setiap detail dalam penglihatannya sebagai hal yang harus ia cerna. Hal ini karena sifat sensitif atau peka yang dimiliki oleh manusia proaktif. Sensitivitas mengenai banyak hal sungguh sangat penting. Kemampuan manusia jenis ini sangatlah kuat. Pekerjaan olah otak membuat ia selalu dan terus berpikir mengenai apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan kuat dalam diri yang tumbuh secara natural ataupun melalui proses pembelajaran yang panjang membuatnya disebut sebagai manusia bertipe pekerja keras, dapat dihandalkan, memiliki rencana kerja, dan tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka berpikir yang selalu pada hal-hal positif membuat ia selalu terpacu untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk akal dan dinilai orang yang memiliki pikiran orang kebanyakan, sebagai hal yang aneh. Padahal sesuatu yang belum terlihat hasilnya itu belum dapat dikomentari secara jauh, sebelum dilakukan aksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain selalu berpikir secara positif, tipe proaktif juga dapat mengambil keputusan dari rencana-rencana yang ia susun, dalam skala prioritas, tentunya. Serta tidak lupa ia selalu memikirkan resiko yang nanti terjadi bila sebuah rencana dijalankan. Ia pun juga memiliki berbagai rencana bila satu rencana gagal. Dapat dikatakan, seribu satu rencana telah terancang dalam kepalanya sebelum satu rencana itu dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi yang dilakukan oleh tipe proaktif ini, dapat menggerakkan seseorang. Tipe proaktif juga sering disebut sebagai orang yang bertipe penggerak. Tipe orang yang selalu dan ingin melakukan sesuatu, tidak bisa hanya berdiam diri dalam tiap detik hidupnya. Ia cenderung mudah diajak bicara dan diskusi mengenai berbagai isu, cepat akrab dan suka dengan hal-hal baru. Bahkan, bila kamu baru kenal dengan tipe ini, bila kebetulan kamu berpapasan dengannya, kamu akan ditegur terlebih dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kamu bisa menilai dirimu, di posisi mana kamu berada! Orang bertipe reaktif atau justru orang bertipe proaktif yang penuh dengan ide dan gagasan yang tidak pernah henti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dirangkum dan disarikan dari berbagai sumber.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-4886319853844536679?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/4886319853844536679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=4886319853844536679' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/4886319853844536679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/4886319853844536679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/02/manusia-proaktif.html' title='Manusia Proaktif*'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-1318844022806139620</id><published>2008-02-20T22:41:00.000-08:00</published><updated>2008-02-20T23:05:10.515-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Meledakkan Potensi dalam Diri!</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap.”&lt;br /&gt;QS. Alam Nasyrah (94): 7-8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengantar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Manusia terlahir ke dunia sesungguhnya memiliki bekal yang ia peroleh sewaktu dalam kandungan, kemudian selayaknya ia menggali melalui wawasan yang ia peroleh setelah lahir. Untuk jelasnya mari kita simak terjemahan narasi The Ultimate Guide to Pregnancy produksi Discovery Health Channel (2004) berikut ini, dalam kurung oleh penulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 26 pekan, kandungan bukan lagi gelembung keheningan. Karena janin mulai mengenali suara ibu (saat sang ibu berbicara, bercerita). Janin bisa juga merespon suara di dalam dan di luar tubuh ibu. Dunia janin makin ribut setiap hari.&lt;br /&gt;Struktur telinga (pendengaran) mulai berkembang sejak 5 pekan kehamilan. Telinga terdiri dari 3 komponen dan dalam 3 tahap. (1) Struktur luar mulai terbentuk setelah 8 pekan; (2) Lubang di kiri-kanan kepala membentuk telinga dalam. Bertanggung jawab memproses suara dan pertahankan keseimbangan; (3) Tak lama kemudian, kanal (saluran) suara dan gendang telinga berkembang.&lt;br /&gt;Menjelang 26 pekan, telinga tampak lengkap dan ketiga komponen (di)mungkinkan (untuk) mendengar. Setiap hari membawa simfoni suara baru kepada janin. Yang paling utama dan menenangkan adalah suara dari ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kajian ilmiah tersebut, kita manusia hanya butuh latihan dan mengembangkan apa yang telah kita peroleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sebagai manusia juga memiliki bakat, potensi, talenta, kemampuan, dan banyak kata yang semacam dengan itu semua. Namun bagaimana kita dapat mengetahui kita memiliki itu semua? Atau bagaimana jalan untuk menuju dan mengembangkan apa yang kita miliki dan masih terpendam itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrie Wongso dalam 15 Wisdom Success: Classical Motivation Stories (2005: 35), menyebutkan: “Kebiasaan yang terlatih akan melahirkan keahlian! Mari pelihara dan kembangkan kebiasaan berpikir sukses! Bersikap sukses! Sehingga terbentuk karakter sukses yang akan membawa kita pada puncak kejayaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mengatakan dalam buku yang sama (2005: 55), “Miliki keberanian menetapkan target! Yakini dan percaya bahwa Anda bisa sukses! Wujudkan melalui perjuangan nyata! Anda bisa menjadi seseorang seperti yang Anda inginkan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sebuah kebiasaan terlahir karena kita sering berlatih dan melakukannya secara berulang-ulang, hingga membuat kita menjadi mahir dan ahli di bidangnya. Kongkretnya, seorang pesepakbola seperti Ronaldinho yang merumput bersama FC Barcelona di Spanyol tak mungkin dapat berjaya seperti sekarang tanpa berlatih keras dan bertekad teguh untuk menjadi pesepakbola handal yang selalu dipasangkan pelatih dalam starting line-up.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak hanya sekedar menjadi seorang Ronaldinho, tapi kita harus menjadi seorang yang lebih. Yang mampu memimpin dan berkarakter, seperti Muhammad saw; yang cerdas seperti Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Rusyd (Averroes) dan Albert Einstein; maupun seperti penulis sekaliber Syaikh Nizami dan Remy Sylado; serta banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini akan dibahas bagaimana mencapai atau menjadi manusia yang memiliki jiwa pemimpin dalam beberapa aspek. Dalam kaitan ini, sebagai seorang pemimpin dalam sebuah organisasi. Kongkretnya, dalam organisasi tempat kita bernaung; Forum Kajian Radio, Televisi dan Film (FKRTF).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita bahas bersama aspek-aspek tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembahasan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia (kita) memiliki potensi dan bakat menjadi pemimpin. Minimal menjadi pemimpin bagi diri sendiri, yaitu mampu mengendalikan hawa nafsu diri dan jiwa serta tidak menjadi manusia yang sekedar ikut-ikutan tanpa dalil (baca: taklid buta) dalam kehidupannya. Untuk mencapai itu, diperlukan keteguhan hati dan kesiapan maupun kekuatan mental karena dipastikan berbagai ujian dan cobaan bakal datang menghadang dalam perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin. Ada yang suka dengan predikat itu, ada pula yang risih ketika disodori jabatan itu. Yang suka, banyak. Yang “tidak suka”, tidak sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang suka menjadi pemimpin memiliki banyak motivasi atas kepemimpinannya. Ada yang bermotif karena memiliki kuasa penuh atas suatu hal, “Kapan lagi memiliki kesempatan seperti ini? Mumpung jadi pemimpin, saatnya “memanfaatkan jabatan”, dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang “tidak suka”, cenderung pesimis karena imej kepemimpinan sekarang ini, khususnya di Indonesia adalah buruk, tak mampu memberikan solusi dari keadaan yang sulit, tak mampu mengayomi dan menindak bawahannya yang berlaku minus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin seyogyanya memberikan penyelesaian atas permasalahan yang ada. Pemimpin itu harus cerdas dan cerdik, tidak sekedar pandai. Mampu memberikan motivasi dan kekuatan bagi orang-orang yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, “Tujuan kepemimpinan adalah membantu yang lain mencapai kemampuan personal terbaik. Target yang tinggi mendorong kinerja Anda dan staf menjadi realistis, dan mendapatkan cara memperbaiki prosedur dan operasi, serta berusaha munuju kualitas total.” (Heller, 2002: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa langkah-langkah selanjutnya? Simak penjelasan berikut. (Heller, 2002: 6-17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Fokuskan pada Mutu&lt;br /&gt;Menentukan standar. Sebelum kamu dan staf memperoleh sasaran mutu, jelaskanlah harapanmu: bagaimana harus dikerjakan dan standar yang mesti dicapai. Tetapkan dan standar pekerjaan ini dan komunikasikan dengan jelas kepada staf. Tekankan komitmenmu sendiri serta dorongan bahwa mencapai keunggulan adalah tanggung jawab setiap orang.&lt;br /&gt;Peningkatan standar. Libatkan seluruh staf dalam perbaikan. Perbaikan dan penambahan standar adalah proses yang terus menerus, tiada henti. Beri semangat para staf untuk menganalisa masalah dan bersama-sama mencari solusinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Belajar dari yang Lain&lt;br /&gt;Seorang manajer sebelum menjadi manajer “belajar” terlebih dahulu kepada seorang manajer saat menjadi staf. Kemudian ketika ia menjadi manajer ia mengembangkan ketrampilannya dengan “mengajari” staf di bawahnya.&lt;br /&gt;Seorang pemimpin harus berkesinambungan dalam menilai kinerjanya dan mencari jalan untuk memperbaiki kinerjanya serta memperluas keterampilannya. Melatih yang lain merupakan sumber pendidikan ketrampilan yang bernilai dan dibutuhkan oleh seorang pemimpin yang efektif, seperti berkomunikasi dengan jelas, memberi instruksi, umpan balik, pendelegasian, dan pengembangan (staf) karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Memperoleh Pengalaman&lt;br /&gt;Bergabung bersama tim adalah cara untuk memperoleh pengalaman. Perluas pengetahuan dan keterampilan baru dengan bergabung dengan tim proyek. Manfa-atkan proyek sebagai kesempatan belajar lebih banyak tentang disiplin lain. Bergabung dengan orang dari bagian-bagian lain dan coba mengerti cara kerja mereka.&lt;br /&gt;Perluasan wawasan. Manfaatkan pengalamanmu dalam tim proyek guna memper-luas keterampilanmu. Meluaskan wawasan melalui membaca dan membangun kontak saling asah dengan bagian-bagian lain dapat mendatangkan keuntungan di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Dipelajari dalam Proyek:&lt;br /&gt;1.Bagaimana memahami proyek,&lt;br /&gt;2.Bagaimana mengerti tujuan,&lt;br /&gt;3.Dimana mendaatkan sumber daya,&lt;br /&gt;4.Bagaimana menggunakan sumber daya,&lt;br /&gt;5.Bagaimana menghubungkan dengan bagian-bagian lainnya,&lt;br /&gt;6.Bagaimana bernegosiasi,&lt;br /&gt;7.Bagaimana memantau kegiatan,&lt;br /&gt;8.bagaimana mengatasi masalah, dan&lt;br /&gt;9.BAGAIMANA MENCAPAI TUJUAN PROYEK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: Robert Heller (2002: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Penguasaan Peran&lt;br /&gt;Seorang pemimpin harus menguasai perannya berdasarkan aspek administrasi, pe-ngembangan potensi staf, menumbuhkan kepercayaan, berpikir panjang, menantang status qou (stagnansi), dan selalu mengerjakan sesuatu yang baik sekaligus benar.&lt;br /&gt;Menjadi seorang strategis. Sebagai pemimpin perlu fokus pada permasalahan yang luas yang mungkin mempengaruhi efektivitas tim. Bersama tim, rencanakan apa yang ingin diraih dengan tepat waktu dan jabarkan dalam tujuan dan sasaran yang terjangkau, yakin bahwa setiap orang sadar akan tanggung jawabnya. Masalah yang diharapkan membutuhkan penyesuaian ke elemen perencanaan, oleh karenanya sediakan ruang untuk revisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Mengembangkan Kekuatan&lt;br /&gt;Seorang pemimpin harus memiliki semangat dan kekuatan. Keyakinan diri dan ketegasan hati dikombinasikan dengan kemampuan mengelola uang dan orang, menjadikan kamu seorang pemimpin yang kuat.&lt;br /&gt;Ia juga jangan pernah mengharapkan sasaran tanpa berani mengambil resiko, yang ha-rus cermat dan teliti dihitung, di atas kertas, agar dapat diterima. Hal ini membantu kita menetapkan sasaran yang tinggi namun realistis.&lt;br /&gt;Selalu bekerja dengan kekuatan sendiri, tulis semua ambisi di atas kertas untuk mem-bantu kita merelalisasikannya, pahami apa yang sedang kamu kerjakan agar mencapai tu-juan, jangan terima bahwa kelemahan tidak dapat diobati dan diperbaiki, merupakan bebe-rapa hal yang harus diperhatikan dalam memimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca dan memahami, langkah selanjutnya adalah mempraktekkannya. Pemimpin harus selalu memiliki banyak rencana dalam mencapai tujuannya. Sikap pantang menyerah; terbuka dengan berbagai masukan yang diberikan staf dan saling berbagi bila terdapat permasalahan dalam menjalankan tugas; pantang berprasangka, jika berprasangka terhadap staf bagaimana mau bisa bekerja sama; saling berkomitmen satu sama lain; saling mendukung demi mencapai tujuan; tempatkan staf pada divisi yang tepat dan lakukan pergiliran divisi agar staf memiliki multi kemampuan; dan berbagai sikap lainnya yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bergerak, Bekerja&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aksi. Itulah yang kita butuhkan sekarang! Setelah membaca teori-teori Robert Heller (pakar maanajemen terkemuka) yang dipaparkan di atas, tentunya dapat menggugah apa yang ada dalam benak kita, semua.&lt;br /&gt;Bagi seorang pemimpin dan pejabat yang diberi wewenang untuk membangun sebuah oganisasi, etos kerja dan kinerja adalah penting adanya. Untuk lebih kongkretnya, kita buat sebuah contoh rencana kerja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan, kita sedang membuat acara diskusi bertema “Sinergi Media Indonesia dan Metro TV dalam Pemberitaan Banjir Jakarta 2007”. Dalam melaksanakan diskusi ini tentunya kita membutuhkan personel yang tidak sedikit. Dari penanggung jawab, panitia pelaksana yang di dalamnya terdapat antara lain ketua, sekretaris, bendahara, perlengkapan dan peralatan, dan tim lobi.&lt;br /&gt;Setiap bagian memiliki job desk masing-masing. Namun begitu, tiap bagian harus saling mendukung dan membantu bagian yang lainnya. Karena pembagian tugas dilakukan demi terfokusnya tiap pekerjaan, bukannya mengkotak-kotak. Dan tentunya yang pada saat acara ini ditempatkan sebagai ketua (pelaksana), di event berikutnya bisa jadi di pos perlengkapan (sistem rolling). Ini dilakukan agar tiap anggota organisasi memahami kinerja dan disiplin ilmu dari tiap-tiap bagian, yang pada akhirnya menjadikan kita orang yang multi kemam-puan.&lt;br /&gt;Jangan lupa membuat time table, tabel yang kita gunakan untuk dateline tiap-tiap bagi-an. Ini digunakan agar kita disiplin dan bertanggung jawab dengan pekerjaan yang diama-nahkan oleh organisasi kepada kita. Ini merupakan ajang melatih kita sebelum kita terjun di dunia kerja sesungguhnya. Anggaplah ini sebagai ajang menggali potensi yang kita miliki. Terjun di tiap bagian, di tiap acara yang diselenggarakan merupakan nilai lebih bagi kita.&lt;br /&gt;Kembali ke acara. Susunlah proposal sesuai kebutuhan, jangan melebar dari tema. Gunakan referensi ilmiah untuk memperkuat latar belakang mengapa menyelenggarakan acara tersebut.&lt;br /&gt;Teknik lobi, untuk mendapatkan pembicara haruslah ada keberanian dari pelaksana-nya. Jangan gugup ketika menghadapi pembicara, terlebih jika kita baru (hanya) berhadap-an dengan resepsionis melalui telepon atau satpam gedung dengan wajah garang. Jika mental kita sudah jatuh karena menghadapinya, maka kita perlu berlatih dengan banyak berkenalan dan berbicara dengan orang asing (belum kita kenal). Jika chatting  di internet kita bisa ceplas-ceplos, why not dengan dunia sesungguhnya. Jangan menilai, “Itu kan lain suasananya.”&lt;br /&gt;Mudah saja jawabnya. Batasan dalam diri ini kitalah yang menciptakan. Contoh, kita bisa melompati dinding setinggi dua kali tinggi tubuh kita ketika dikejar anjing, tapi di situasi yang normal belum tentu kita bisa. Pada dasarnya, kita harus memotivasi diri kita—selain mendapat motivasi dari orang di sekeliling kita—sehingga kita dapat melakukan hal yang menurut kita tidak masuk akal sebelumnya.&lt;br /&gt;Selanjutnya, lakukan rapat rutin untuk mengevaluasi sejauh mana perkembangan ter-baru, selain juga untuk share wawasan dan solusi permasalahan. Rapat mendesak juga dibu-tuhkan bila terjadi hal-hal yang diluar kendali kita terjadi, seperti pembicara utama tidak dapat memenuhi undangan.&lt;br /&gt;Lakukan dengan sempurna pekerjaan tiap bagian sampai ke hal-hal yang kecil, seperti jangan terlihat ada sampah sekecil apapun dalam ruang penyelenggaraan acara, sarang laba-laba yang terlihat di ventilasi udara maupun kaca jendela terlihat kumal, dan seterusnya.&lt;br /&gt;Temani pembicara dari datang hingga ia selesai menuturkan makalahnya dan antar dia keluar ruang acara, bila telah selesai acara atau tidak ada kepentingan lagi untuk ia tetap berada di tempat acara.&lt;br /&gt;Jangan pernah memutus kontak dengan pembicara. Jalinlah hubungan yang baik seper-ti saat kita mengajukan permohonan kepadanya menjadi pembicara.&lt;br /&gt;Tiap panitia dan anggota harus memiliki rasa tanggung jawab demi suksesnya sebuah acara. Karena ini tidak hanya menyangkut nama baik organisasi, tapi juga individu di dalam organisasi.&lt;br /&gt;Setelah selesai acara, lakukan evaluasi pada saat itu juga dan segera buat rancangan laporan pertangung jawaban serta laporkan bila telah selesai dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh di atas memang hanya sekelumit. Bila dijabarkan lebih luas, tentunya dapat membuat materi ini menjadi sebuah buku. Namun yang terpenting dari apa yang telah kita bahas bersama adalah bahwa kita menjadi seorang pemimpin adalah memiliki keberanian, percaya diri dan sanggup ketika diberi amanah apa saja saat organisasi membutuhkannya, sesuai dengan kesanggupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya, dalam organisasi ada yang memimpin dan dipimpin. Seorang yang saat ini memimpin sebelumnya juga pernah dipimpin. Namun saat ia tidak menjabat lagi maka ia juga harus siap untuk dipimpin (lagi) oleh mereka “yang baru”. Dan bagi anggota-anggota organisasi, tak terkecuali bagi pejabat yang memimpin, harus memiliki sikap siap memimpin dan sikap siap dipimpin-dua hal ini wajib digaris bawahi. Siapapun yang memimpin, dia harus memiliki rasa hormat, jangan karena sentimen pribadi menjadikan kita ogah-ogahan. Prinsip dalam kepemimpinan adalah siapa yang siap dan sanggup memimpin maka mari kita dukung. Selain itu, bila pimpinan melenceng (khilaf) dari jalur, maka kewajiban anggota mengingatkan. Sikap obyektif pun juga perlu dipelihara, jadi jangan memutuskan dari satu kepala (egois), dan mene-bar infotainment (gosip) seseorang yang “tak sedap” didengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, di kesempatan ini, dalam LDK FKRTF VII dengan tema “Menyatukan Kreativitas dengan Semangat Kebersamaan untuk Membangun Jiwa Kemandirian” mari kita realisasikan rencana-rencana kita. Wujudkan kesolidan dan keep the spirit n’ good attitude become our habit. Tetap semangat dan JADILAH DAHSYAT!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita selalu dalam lindunganNYA. Amin. Ciao!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Anggota Forum Kajian Radio, Televisi dan Film (FKRTF) angkatan III,&lt;br /&gt;kini aktif merintis sebuah komunitas kepustakaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Referensi dan Bacaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Andrie Wongso, 15 Wisdom Success: Classical Motivation Stories, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daniel Goleman, Emotional Intelligence, alih bahasa: T. Hermaya, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Florence Littauer, Personality Plus: Bagaimana Memahami Orang Lain dengan Memahami Diri Anda Sendiri (Edisi Revisi), alih bahasa: Anton Adiwiyoto, Binarupa Aksara, Jakarta, 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermawan Kertajaya, Marketing Yourself: Kiat Sukses Meniti Karir dan Bisnis, MarkPlus &amp; Co, Jakarta, 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert Heller, Effective Leadership, alih bahasa: Jacub M. Saleh, Dian Rakyat, Jakarta, 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toto Tasmara, Etos Kerja Pribadi Muslim, PT Dana Bhakti Wakaf, Cet. II, Yogyakarta, September 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Discovery Health Channel, The Ultimate Guide to Pregnancy, Medialine Entertainment, 2004.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-1318844022806139620?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/1318844022806139620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=1318844022806139620' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/1318844022806139620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/1318844022806139620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/02/meledakkan-potensi-dalam-diri.html' title='Meledakkan Potensi dalam Diri!'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-73960122790184467</id><published>2008-02-17T01:05:00.000-08:00</published><updated>2008-02-20T22:47:30.250-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reportase'/><title type='text'>South to South, Ajang Unjuk Rasa kepada Kebijakan Negara-negara North melalui Film</title><content type='html'>Bahar D. Dirgantara*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam telah beranjak. Cuaca di langit berawan pekat. Semilir angin menemani menuju Goethe Haus tempat dimana South to South Film Festival 2: Vote for Life diselenggarakan. Goethe Haus terletak di ling-kungan Goethe Institute di Jalan Sam Ratulangi 9-15 Menteng, Jakarta Pusat, Indonesia. Acara festival ini berlangsung pada 25-27 Januari 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini dimaksudkan untuk membuka kesadaran masyarakat bahwa ancaman bencana yang diakibatkan tidak terawatnya lingkungan sudah terjadi di depan mata. Bukan saatnya saling menyalahkan lagi atas dampak operasional dunia industri yang tak bersahabat atas lingkungan ini. Tindakanatau aksi lestarikan lingkungan memang harus secara bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, 25 Januari, merupakan acara pembukaannya. Rencananya acara dibuka pada jam 19:00 WIB, namun sempat molor beberapa menit. Acara dibuka oleh seorang pianis personel grup Tika and The Band. Menyenandungkan lagu yang mengingatkan kita pada malam-malam romansa. Lalu, pe-nampilan dilanjutkan dengan for-masi lengkap band ini. Mereka membawakan beberapa lagu de-ngan nada-nada rumit, namun te-tap terkesan nikmat didengar pada acara pembukaan festival ini. Tika (vokalis) yang pada lagu sebelum terakhir membuka jubahnya, seperti mengisyaratkan kepada hadirin bahwa dalam ruangan Goethe Haus yang diselimuti penyejuk udara nan dingin udara panas tetap ada. Ini peringatan, bahwa perubahan iklim di dunia sungguh serius untuk ditangani secara bersama, bukan sekadar tindak individu maupun ajang para pecinta lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang dilanjutkan dengan sekapur sirih dari Vonny Novita, Ketua Panitia Festival kemudian Direktur  Goethe Institute Jakarta, Frans Xaver Agustin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar ini ditutup dengan sepatah kata dari Menteri Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar. Rahmat mengatakan bahwa mengapa acara ini justru mendapat perhatian (tempat berlangsungnya acara) dari orang Jerman bukan dari kita orang Indonesia. Ini merupakan sindiran bagi para hadirin dan sekaligus bagi dirinya yang sebagai orang nomor satu di Kementrian Lingkungan Hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang membuat prihatin kita dapat pula dikaitkan dengan baru tergeraknya Indonesia atas pemanasan global setelah republik ini mendapatkan donor untuk merawat hutannya (akibat pembalakan liar) dari negara-negara maju melalui konferensi tentang Global Climate di Bali akhir tahun lalu. Sungguh ironis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Film Dokumenter&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Film-film yang diputar di festival ini adalah film-film dokumenter yang menyoroti akibat dari berbagi kegiatan manusia yang memiliki dampak buruk kepada lingkungan.&lt;br /&gt;Film pembuka berjudul Sipakapa is Not For Sale fokus pada sebuah perusahaan tambang emas Montana (asal Kanada) yang dalam produksi untuk menghasilkan emas membutuhkan air yang bisa dipakai warga Sipakapa selama 22 tahun. Lalu bagaimana reaksi warga Sipakapa, Guatemala ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini diproduksi Caracol Producciones, Guatemala, Nopember 2005.&lt;br /&gt;Warga Sipakapa mengajukan gugatan dengan menggelar Jajak Pendapat dengan hasil yang mayoritas mendesak ditutupnya Montana. Karena di negara asalnya Kanada dan juga di Eropa, Montana juga banyak mendapat penentangan. Data yang mengejutkan bahwa Montana mendapat kucuran dana dari World Bank.&lt;br /&gt;Aksi Sipakapa setelah memenangi Jajak Pendapat, menuju para perwakilan pemerintah—yang mereka pilih dalam pemilu—di Sipakapa hingga yang berada di ibukota. Aksi mengusir polisi oleh warga Sipakapa di kantor kota Sipakapa sungguh memberikan inspirasi bahwa aksi damai tidak perlu penjagaan ketat polisi apalagi dengan polisi yang dipersenjatai secara berlebihan.&lt;br /&gt;Apa yang terjadi di Sipakapa dapat kita petik pelajaran atas berbagai kasus di Indonesia. Dari pembalakan liar oleh warga sekitar sampai penambang sekaliber Freeport McMoran. Negara jangan bertindak diam dan mengorbankan rakyatnya hanya demi janji dana yang nanti dikucurkan, itu tak seberapa dibanding dengan akibat berupa menurunnya kualitas hidup warga di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film-film lain yang juga diputar adalah Penusah Tana (The Forgotten Struggle) yang disutradarai Hillary Chiew dan Chi Too berkebangsaan Malaysia. Hillary juga menghadiri acara pembukaan ini didampingi oleh Pramodya Harzani. Pram begitu ia biasa dipanggil sedang menyelesaikan filmnya yang ia shoot, edit dan produksi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film Penusah Tana diputar pada 26 Januari. Film ini menceritakan suku Dayak Penan di Serawak, Malaysia yang selalu menjaga hutan. Hingga tahun 1960-an, ketika perusahaan kayu mulai masuk ke wilayah mereka dan melakukan pembalakan besar-besaran. Sebuah gambaran mengenai pelanggaran terhadap alam dan juga sindiran bagi Malaysia. Indonesia memberi asap kebakaran hutan akibat illegal logging kepada Malaysia, yang kemudian Malaysia mencak-mencak. Tapi Malaysia berbuat hal serupa berupa pembalakan kayu. Mulut tak sesuai dengan tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada festival kali ini, film yang diputar sebanyak 19 film yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Filipina, India, Australia dan Ceko. Juga terdapat film Too Hot Not to Handle yang diproduksi atas “bantuan” Lovett Productions dan HBO yang sayang untuk dilewatkan.&lt;br /&gt;Jadi, bagaimana? Masih tidak mau bersahabat dengan alam setelah melihat apa yang terjadi melalui film-film yang screening di ajang South to South Film Festival 2 2008 ini? Tunggu saja bencana yang akan menimpa kita. Ini bukan ancaman, tapi sebuah Warning. Ayo!&lt;br /&gt;Apa harus menunggu South to South Film Festival 3?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penikmat Film,&lt;br /&gt;Administrator Cakrawala Pustaka, tinggal di Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-73960122790184467?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/73960122790184467/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=73960122790184467' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/73960122790184467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/73960122790184467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/02/south-to-south-ajang-unjuk-rasa-kepada.html' title='South to South, Ajang Unjuk Rasa kepada Kebijakan Negara-negara North melalui Film'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-5552531668373850884</id><published>2008-02-17T00:12:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T09:15:37.568-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksi'/><title type='text'>DSK</title><content type='html'>&lt;strong&gt;novelet&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Author: irga klan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DSK, © 2001 &lt;br /&gt;DSK (remake), © 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katalog Koleksi WAWAS PUSTAKA, Depok, Pebruari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicetak oleh : Capusia, divisi percetakan CAKRAWALA PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d/a WAWAS PUSTAKA&lt;br /&gt;Cimanggis Indah Blok N/No. 5 Depok-Indonesia 16415&lt;br /&gt;T: +62.813.1584.3462 (SMS)&lt;br /&gt;E: cakrawalapustaka@yahoo.co.id&lt;br /&gt;B: http//www.cakrawalapustaka.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cakrawala Pustaka/Capusia Call Center: +6221.94.5515.78&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;irga klan&lt;br /&gt;E: irga-klan@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.&lt;br /&gt;Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian&lt;br /&gt;atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari CAKRAWALA PUSTAKA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arina: rindu&lt;br /&gt;Sudah empat tahun&lt;br /&gt;Sayang, aku sedih&lt;br /&gt;Tapi juga gembira&lt;br /&gt;Banyak bunga yang menemaniku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku banyak menghindar&lt;br /&gt;Karena burung-burung yang menghampiriku&lt;br /&gt;Semua kotor tak seperti kamu&lt;br /&gt;Aku jijik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam aku mimpi&lt;br /&gt;Ketemu kamu di surga&lt;br /&gt;Jadi kekasih abadi&lt;br /&gt;Tanpa berakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi itu sering&lt;br /&gt;Aku jadi lemah&lt;br /&gt;Ingin mengikatmu di atas bohlam kamarku&lt;br /&gt;Buat jadikan kamu teman tidur saat kangen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samudro: bertemu&lt;br /&gt;Aku mimpi&lt;br /&gt;Tapi kamu jadi banyak&lt;br /&gt;Aku bingung&lt;br /&gt;Di mana kamu yang benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya aku baru saja terlelap&lt;br /&gt;Meninggalkan dunhia menuju taman nan cerah&lt;br /&gt;Tapi kamu jadi banyak&lt;br /&gt;Aku bingung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi itu indah&lt;br /&gt;Tapi aku harus memilih satu dari yang banyak&lt;br /&gt;Aku bingung kok kamu jadi banyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku boleh memilih&lt;br /&gt;Tapi tak diperkenankan untuk menyentuh&lt;br /&gt;Mana bisa aku&lt;br /&gt;Aku bingung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun baru aku bisa menyisakan banyak itu&lt;br /&gt;Jadi tinggal sepuluh&lt;br /&gt;Tapi aku tetap bingung&lt;br /&gt;Kamu masih banyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolonglah aku&lt;br /&gt;Aku terus bingung&lt;br /&gt;Kamu tetap banyak&lt;br /&gt;Aku tidak mengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapatkan segera....&lt;br /&gt;Hubungi Call Center/e-mail kami!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-5552531668373850884?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/5552531668373850884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=5552531668373850884' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/5552531668373850884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/5552531668373850884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2008/02/novelet-dsk-irga-klan-dsk-2001-dsk.html' title='DSK'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-4195510017747077353</id><published>2007-07-23T06:19:00.000-07:00</published><updated>2010-06-04T21:30:18.865-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil CP'/><title type='text'>TENTANG KAMI</title><content type='html'>CAKRAWALA PUSTAKA lahir dari sebuah pemikiran mengenai pemanfaatan kreatifitas membaca dan menulis yang bagi kita adalah hal yang jarang ditilik. Menyoal tentang kurangnya niat membaca, terlebih menuangkan pemikiran melalui tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, dari wacana tersebut lahirlah Cakrawala Pustaka.Perjalanannya, ajang kreatif ini dimulai pada tahun 1995, yakni membangun sebuah komunitas seperti masih dalam angan-angan. Tapi di tahun 1999, kala perubahan atmosfer politik Indonesia kian terasa, maka kami mulai memberanikan untuk mensosialisasikan keberadaan Cakrawala Pustaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di tahun 2005 mulai dilakukan rekruitmen anggota. Namun begitu, ajang kreatif ini tidak mencari anggota “kolosal”, melainkan bagi mereka yang  memiliki kepedulian yang dapat diberikan kepada bangsa ini di bidang eksploitasi-potensi kemampuan membaca dan produktifitas menulis. Namun sebelum itu, Cakrawala Pustaka memiliki mimpi besar, yaitu merupakan perusahaan bank tulisan dan penulisnya. Yaitu, perusahaan dapat memberikan kontribusi kepada Indonesia di banyak bidang kehidupan melalui tulisan-tulisan agipolek sosbud hankam (agama-ideologi-politik-ekonomi sosial-budaya pertahanan-keamanan) maupun pendidikan dan bidang-bidang lainnya yang tak tersebutkan.Dari pemikiran itu, Cakrawala Pustaka. Ketika orang berbicara tulisan, mereka merujuk ke Cakrawala Pustaka. Setiap orang mencari penulis muda, berbakat dan kreatif, maka berbicara Cakrawala Pustaka. Jadi, &lt;em&gt;brand image &lt;/em&gt;Cakrawala Pustaka adalah pusat penulis dan karya penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;VISI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menjadikan individu (Indonesia) memiliki &lt;em&gt;character building &lt;/em&gt;sebagai pembaca aktif sekaligus penulis produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MISI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Memberdayakan manajemen menulis dan membaca bagi peminat tulis dan baca sehingga menetaskan penulis-penulis berbakat sesuai keahlian dan bidang yang digeluti penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sementara alamat surat sedang di non-aktifkan. Tunggu informasi selanjutnya dari Administrator CP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Anggota Perpustakaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Wawas Pustaka, Depok-Jawa Barat, Indonesia&lt;br /&gt;   Bahar D. Dirgantara/Pustakawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Katalog 9 jenis&lt;br /&gt;   Buku 246 eks&lt;br /&gt;   Media 126 eks&lt;br /&gt;   Makalah 11 judul&lt;br /&gt;   Digital* 33 judul Disk&lt;br /&gt;   Film* 106 judul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Katalog tidak digunakan untuk kepentingan komersil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kartun, Bekasi-Jawa Barat, Indonesia&lt;br /&gt;   Firmanto Hanggoro/Pustakawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Katalog tidak ada. Koleksi buku-buku anak dan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Perpustakaan sedang non-aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirim tulisan dapat melalui:&lt;br /&gt;bastogneeuro@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CAKRAWALA PUSTAKA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;SMS Center +62813.1584.3462*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Call Center &lt;strong&gt;CAKRAWALA PUSTAKA/Capusia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;+6221.4476.8667 (info)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk SMS:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Registrasi Anggota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketik: reg_nama_alamat e-mail&lt;br /&gt;contoh: reg Dian Hanggoro &lt;a href="mailto:dian_21@yahoo.com.sg"&gt;dian_21@yahoo.com.sg&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu balasan kami berupa e-mail yang berisi formulir biodata dan persyaratan menjadi anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Informasi (khusus anggota/yang sudah registrasi)&lt;br /&gt;ketik: info_nama_isi informasi&lt;br /&gt;contoh: info_Dian Hanggoro_Ada buku-buku murah dari tanggal 12-17 Juli 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk fasilitas informasi ini dapat berupa berita-berita yang datangnya dari anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengaduan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketik: aduan_Dian Hanggoro_isi aduan&lt;br /&gt;contoh: aduan_Dian Hanggoro_penipuan atas nama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cakrawala Pustaka dari nomor 0123456789&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaduan dapat berupa apa saja. Isi pesan aduan dapat dijelaskan sepanjang yang diperlukan pengirim pesan. Aduan ditindak lanjuti setelah ada hasil dari pihak CP berupa balasan ke e-mail pengirim aduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Tarif SMS normal sesuai operator yang digunakan pengirim pesan.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bahard2.wordpress.com/about/"&gt;&lt;br /&gt;http://bahard2.wordpress.com/about/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://firmhang.blogs.friendster.com/firmhang_blog/"&gt;http://firmhang.blogs.friendster.com/firmhang_blog/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-4195510017747077353?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/4195510017747077353/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=4195510017747077353' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/4195510017747077353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/4195510017747077353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2007/07/tentang-kami.html' title='TENTANG KAMI'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5306311952866115673.post-2868879441813809737</id><published>2007-07-23T05:22:00.000-07:00</published><updated>2008-02-20T23:43:24.448-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komentar'/><title type='text'>Komentar Tentang Buku</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Jum’at, 16 Februari 2007&lt;br /&gt;Wawancara dengan Manajer TB Gramedia Pusat Depok Benny Hanggu&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengawali wawancara dengan menceritakan perjalanan hidupnya berkecimpung di dunia buku. Ia berkarier di PT Gramedia Asri Media, perusahaan yang memayungi TB Gramedia di tahun 1994-1998 sebagai store manager di Balikpapan, Kalimantan Timur. Berlanjut di tahun 1998-2001 juga menjadi store manager di Makassar, Sulawesi Selatan. Setelah mangakhiri masa tugasnya di Makassar, ia diberi amanah dengan jabatan yang sama di Manado, Sulawesi Utara di tahun 2001-2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, di tahun 2003 hingga kini ia menjadi orang nomor satu di Gramedia Pusat Depok, di Kota Depok, Jawa Barat, masih sebagai store manager. Pada masa ini, tahun 2004, ia juga bertanggung jawab atas TB Gramedia di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka.&lt;br /&gt;Peminat buku, menurut Benny, di tiap kota memiliki minat tersendiri. Seperti di Manado, pada hari Senin merupakan hari yang ramai pengunjung toko buku, mengingat populasi Manado di akhir pekan yang beragama Kristiani pergi ke gereja untuk beribadah. Buku-buku yang membahas tentang motivasi dan keagamaan kristen banyak diminati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk Kota Depok, Jawa Barat, peminat buku juga bergantung pada dominannya populasi beragama Islam, hingga buku-buku Islam banyak diminati. Hari ramai pengunjung di akhir pekan. Buku-buku Islam yang kini menjadi tren ialah isi pembahasan yang lebih membumi atau dapat dikatakan yang sesuai realita dan dapat membangun kerangka berpikir yang maju. Pembahasan ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak hanya menjelaskan tentang Iman dan Taqwa (Imtaq) tapi juga Ilmu Pengetahuan &amp; Teknologi (Iptek) menjadi satu contoh tren. Tema-tema Islam dengan kemasan yang gaul dan bahasa yang renyah menjadi serbuan para remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benny melihat dunia buku memiliki tren yang berubah-ubah, dari desain sampul hingga content. Sehingga, baginya diperlukan kreativitas dari penerbit untuk menarik konsumen agar tertarik saat pertama melihat produk buku yang diterbitkannya. Mengikuti pameran-pameran dalam dan luar negeri perlu dilakukan. Seperti pengalamannya menghadiri pameran di Frankfurt, Jerman tahun 2006 memiliki kenangan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pameran ini banyak yang dapat diambil ilmunya. Seperti kecenderungan cover buku-buku teenlit dan chicklit beberapa waktu yang lalu merupakan contoh kongkretnya.&lt;br /&gt;Di segi isi, saat ini, penerbit yang cukup berani mengangkat tema cerita yang jarang diambil penerbit lainnya adalah Penerbit Serambi, sebagai contohnya. Penerbit ini mengangkat tema-tema bertajuk investigasi—novel-novel karya Dan Brown, antara lain Da Vinci Code dan Malaikat &amp;amp; Iblis—dan peminat buku seperti ini dapat dikatakan tidak sedikit, karena dianggap sebagi genre “baru”, walaupun tema seperti ini pernah juga diangkat oleh Gramedia Pustaka utama (GPU) dengan novel-novel karya Agatha Christie. Bedanya, masa Agatha tidak bersentuhan dengan hal-hal yang sensitif, seperti agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai komunitas buku yang menjamur saat ini, Benny yang bergelar Sarjana Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta, melihat sebagai fenomena yang menggembirakan. Harusnya ini didukung oleh pemerintah, karena komunitas-komunitas ini dapat memberi manfaat bagi masyarakat sekitarnya, terlebih bila komunitas ini menyediakan perpustakaan yang dapat diakses masyarakat umum. Sungguh merupakan hal yang patut didukung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mambaca, tentunya dapat diimbangi dengan aktivitas menulis. Salah satu cara menjaring penulis berbakat ialah dengan mengadakan ajang festival di tiap kota. Dari pemenang kota ini, maka lolos ke grand final di Jakarta, jelas Benny. Pemenang grand final ini diberikan hadiah untuk mengunjungi pameran di Frankfurt, Jerman.&lt;br /&gt;Menurutnya, ini merupakan salah satu cara. Sehingga pemenang yang nantinya menghadiri pameran internasional itu lebih bersemangat lagi berkecimpung di dunia buku dan semakin getol menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Selasa, 20 Maret 2007&lt;br /&gt;Wawancara dengan Ajeng Rustiani (21), Mahasiswi Jurusan Ilmu Humas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;“Suka dengan jenis buku chiclit dan teenlit. Ayu Utami lebih suka, karena lebih khas dan berani. Mengenai buku berat, (tentang) Amerika (Serikat) yang selama ini menganggap negara-negara yang tak mendukung Amerika adalah teroris, padahal Amerika teroris itu sendiri,” jelas Ajeng Rustiani saat ditanya Cakrawala Pustaka mengenai jenis buku yang gemar dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyukai buku tentang Jepang. “Pernah baca artikel di koran tentang Belajar dari Jepang,” kata Ajeng. Dimana orang Jepang memiliki kejujuran, ketulusan dan dalam hal menjamu konsumen layaknya seorang konsumen sebagai raja yang harus diberi servis yang memuaskan. “Nggak seperti di Indonesia,” terang Ajeng tanpa menjelaskan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajeng menceritakan di artikel tersebut, “Jika orang Indonesia bekerja dari jam 8 sampai jam 16, kemudian datang tepat jam 8 dan pulangnya tepat jam 16, itu sudah dianggap rajin. Tapi kalo di Jepang, datang sebelum waktunya dan pada jam 20 kantor-kantor masih ramai dan sibuk.” Ini menunjukan Jepang memiliki etos kerja yang tinggi. “Mereka itu (orang Jepang) workaholic,” ungkap gadis kelahiran 27 juli ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain membaca, Ajeng juga menyukai kegiatan menulis. Ia berencana mengirim tulisan-tulisannya ke production house. Tulisan-tulisan yang akan ia kirim adalah berbentuk sinopsis. Ia menulis bergantung pada suasana hati, kemudian ia ungkapkan pada tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rabu, 21 Maret 2007&lt;br /&gt;Wawancara dengan Moh. Juan Darmawan (16), Pelajar SMU&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Remaja kelahiran Surabaya, 26 Juni ini memiliki minat di dunia buku, khususnya komik. Menurutnya, “Komik mudah dipahami dan lebih interest aja.” Baginya, dengan membaca komik ia bisa melihat dunia lifestyle, karena itu hal tersebuti, menurut remaja yang biasa disapa Jojo ini, adalah hal yang kerap diamati ketika membaca komik. Karena sisi lifestyle itulah ia berminat membaca komik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jojo berpendapat, teman-temannya di sekolah lebih memilih jenis buku komik, karena mudah memahaminya. Genre komik yang ia sering baca adalah jenis imajinatif. Ia juga mengatakan bahwa ia kurang mengetahui siapa-siapa saja yang gemar membaca di sekolahnya, saat ditanya bagaiamana lingkungan sekolahnya dalam dunia baca-tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja yang berpenampilan santai ini, selain membaca komik, saat luang mengisi waktunya dengan hang out bersama teman-temannya. Baginya, itu salah satu cara menghilangkan kepenatan setelah mengerjakan tugas sekolah setiap harinya.&lt;br /&gt;Ketika ditanya mengenai perkembangan dunia buku secara umum, Jojo menjelaskan, “Bagus. Banyak penulis muda dan berkembang banget.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rabu, 21 Maret 2007&lt;br /&gt;Wawancara dengan Nindita Indah Pratiwi (21), Mahasiswi Jurusan Ilmu Periklanan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dita, begitu ia biasa disapa, anak pertama dari tiga bersaudara ini sangat keranjingan membaca. Ia menyukai berbagai macam tema dari pelbagai jenis buku. Khususnya, sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menceritakan latar belakang mengapa ia menyukai sastra. Waktu SMU dan memasuki jenjang kuliah, Dita ingin mengambil jurusan sastra. Tapi ada sedikit kendala yang menyertainya sehingga ia memilih jurusan ilmu periklanan. Tadinya, malah akan mengambil jurusan ilmu jurnalistik karena dekat dengan dunia sastra, yakni tulis-menulis, begitu penjelasannya. Walaupun akhirnya mengambil periklanan. Di jurusan ini ia baru menyadari ketika mendapatkan kuliah Dasar-Dasar Periklanan bahwa dunia iklan ternyata seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sekelumit mengenai kisah hidupnya.&lt;br /&gt;Dita selain membaca, juga rajin menulis puisi. Dan untuk tulisan cerita-cerita pendek ia berencana bersama dua orang temannya (sebut saja Icha dan Uti) untuk mencoba menawarkan hasil karyanya ke beberapa production house. Sebuah semangat yang patut dipuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dunia membaca dan menulis, gadis yang pernah aktif menulis di majalah sekolah semasa SMU ini memiliki pengalaman, “Sebelum kuliah, lebih sastra, tapi nggak cuma itu. Saya baca buku tentang sosok Soekarno dari semasa dalam kandungan hingga masa kuliah, saat saya SMU. Kebetulan sekolahan punya perpus dari SD hingga sekolah tinggi yang digabung jadi satu. Di situ, temen-temen ngeledek kenapa baca buku anak SD. Saya sih cuek aja, karena saya lihat buku ini bagus. Ditulis (ia lupa siapa penulisnya) oleh penulis yang bisa menerjemahkan sesuatu halnya dengan bahasa yang mudah dicerna, khususnya bagi anak-anak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku tentang Soekarno itu, menurut penuturanya terdiri dari beberapa jilid. “Asik aja bacanya.” Menutup perjumpaannya dengan Cakrawala Pustaka, ia bertutur, “Buku harus mempunyai kesan pada yang membacanya. Jika tidak, hanya sekedar bacaan (saja).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jum’at, 23 Maret 2007&lt;br /&gt;Wawancara dengan Intan Pricilia Rizki (19), Mahasiswi Jurusan Ilmu Jurnalistik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Gadis bernama Intan ini menyukai bacaan berupa komik. Komik yang ia ikuti serialnya adalah Detective Conan. Selain itu, ia menyukai tema-tema komik yang bernuansa friendship. Ia mendapatkan komik dari meminjam dari teman dan meminjam dari tempat penyewaan buku di dekat almamaternya (SMU) sekitar jalan Bahagia Raya, Depok II Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wawancara ini ia juga menceritakan ketika SMU, “Ada (teman) satu kelas, (yang) sudah selesai baca buku, (ia seperti) terbawa ke dalam kesehariannya.” Teman Intan itu mencoba menceritakan apa yang telah dibacanya itu (komik), menggambar-gambar karakter komik yang kemudian disimpannya dalam &amp;shy;file. “Ia juga suka dengan bahasanya, bahasa Jepang. Sampai beli kamusnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun herannya, “Teman-teman pada bingung. Karena senang baca, saat ulangan tak pernah belajar, tapi nilainya bagus-bagus.” Temannya itu juga sampai mengoleksi pernak-pernik dari komik yang dibacanya.&lt;br /&gt;Bagi Intan, dunia menulis dan membaca secara umum adalah adanya penulis yang membuat sesuatu (tulisan) sehingga memberikan pengalaman bagi yang membacanya, menginspirasi, terlebih bila itu mengenai sains.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jum’at, 23 Maret 2007&lt;br /&gt;Wawancara dengan Lilis-nama panggilan (19), Pustaka Asyamiil&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bagi Lilis, buku merupakan sebuah kebutuhan. “Mulai dari, kalau sekarang, karena saya mengambil dari buku anak, sebab anak zaman sekarang mulai tanggap soal buku dari soal gambar.” Dari mulai playgroup saja, umur tiga tahun sudah suka mulai suka dengan buku-buku yang bergambar. Sehingga, awal dari itu (melihat-lihat buku bergambar) membuat wawasan anak bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apalagi buku anak sekarang sudah mulai bagus. Dari gambar, warna dan tulisan,” kata Lilis yang menamatkan SMU tahun 2005. Jadi, anak menjadi menyukai dunia baca.&lt;br /&gt;Untuk secara umumnya, buku itu banyak. “Dari segi harga,” ujar Lilis, “tidak begitu mahal, yang utama itu dari isi. Karena orang tidak memandang harga itu berapa, tapi yang menarik, bagus, sampul bagus.” Maka, orang akan meminatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat film yang disadur dari buku, Lilis mengamati, terlebih bila ada unsur sejarahnya, “Keterangannya itu lebih banyak di buku. Karena di film hanya gambar-gambar (menyajikan visual) dan suka banyak yang dipotong dari cerita itu, tapi kalau di buku lebih menyimpan banyak keterangannya (informasi).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jum’at, 23 Maret 2007&lt;br /&gt;Wawancara dengan Nisa-nama panggilan (19), Pustaka Al Kautsar&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Nisa melihat buku, “Dari pembaca sudah meningkat, segi penerbit sudah banyak jumlahnya sehingga banyak pilihan.” Semua itu ditunjang dengan desain sampul buku, juga daya tangkap (respons) dari para pembeli buku.&lt;br /&gt;Seperti novel. “Bila difilmkan orang juga (mengamati) tidak selengkap dengan yang dibuku,” jelas Nisa. Sehingga orang lebih banyak memilih membaca, karena dari segi kelengkapan cerita, lebih lengkap di buku (novel). “Seperti sejarah-sejarah, lebih baik baca buku daripada begitu (film).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;Dirangkum oleh Bahar D. Dirgantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5306311952866115673-2868879441813809737?l=cakrawalapustaka.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/feeds/2868879441813809737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5306311952866115673&amp;postID=2868879441813809737' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/2868879441813809737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5306311952866115673/posts/default/2868879441813809737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cakrawalapustaka.blogspot.com/2007/07/komentar-tentang-buku.html' title='Komentar Tentang Buku'/><author><name>Cakrawala Pustaka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14228841838230713143</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='13' src='http://bp0.blogger.com/_pwzJLJe_v5c/R-HgO0uS0GI/AAAAAAAAAAk/-Rb4pPrZ5qY/S220/CP+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
